Beli Obat Secara Online, Amankah?

Beli Obat Secara Online, Amankah?

Ketua Umum IAI Nurul Falah Eddy Pariang. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Kemajuan teknologi membuat masyarakat menjadikan internet sebagai bagian dari hidupnya.

Survey Hootsuite pada Januari 2018 mengungkapkan, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Dimana 90% di dalamnya adalah pengguna aktif media sosial.

Dunia manufaktur dan supply-chain sediaan farmasi diprediksi akan menjadi yang paling progresif dalam mengikuti perkembangan era digital. Saat ini dikembangkan teknologi yang mampu meningkatkan ketepatan produksi obat baik dalam skala industri maupun skala perorangan.

Di sisi lain, perkembangan era digital dan disrupsi informasi juga membuka peluang-peluang penyalahgunaan sediaan farmasi, yang menuntut perlu adanya upaya-upaya pengawasan yang lebih konprehensif dan IT-based.

Inipun menjadi tantangan bagi para apoteker. Salah satunya adalah pembelian obat secara online. Menurut Ketua Umum PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nurul Falah Eddy Pariang, pembelian obat secara online memang tidak bisa dihindari. Apalagi penjualan obat online tersebut lewat blog.

Sebagian besar obat untuk menggugurkan kandungan dan obat kuat dijual secara online. Soal dosisnya tepat atau tidak, tidak ada yang tahu karena tidak ada keterangan seputar obat dari apoteker.

Seorang jurnalis menceritakan pengalamannya membeli antibiotik lewat online. Padahal, antibiotik sekarang ini tidak bisa dijual bebas baik di apotik maupun toko obat tanpa resep dokter.

Menanggapi hal tersebut, Nurul Falah mengaku prihatin, antibiotik dijual di e-commerce.

 

Belum ada peraturan

Nurul Falah mengatakan di Indonesia belum ada peraturan yang mengatur penjualan obat secara online. “Peraturan yang mengatur penjualan obat secara online termasuk pembelian obat keras lewat online di Indonesia belum ada. Konsultasi kesehatan lewat video call juga belum diatur oleh UU di Indonesia,” ujarnya.

Menurutya, Indonesia belum memiliki UU Farmasi, padahal ini perlu untuk ketahanan bangsa.

Ia juga tidak bisa memastikan aman atau tidaknya obat yang dibeli masyarakat lewat online. Menurutnya, masyarakat hendaknya lebih waspada dalam membeli obat.

Nurul Falah mengatakan, apoteker masih memiliki peran penting di era digital. “Masyarakat bisa berkomunikasi dengan apoteker sehingga terhindar dari efek samping dari obat,” ungkapnya.

Kementerian kesejatan sejak tahun lalu sudah mengajak IAI , BPOM dan Kominfo menyusun peraturan tentang pelayanan elektronik farmasi.

Hal ini juga akan dibahas dalam Rakernas dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAI yang berlangsung di Bandung, 12-15 Maret 2019.

“Menghadapi era digital bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, namun harus mampu memicu apoteker untuk lebih menonjolkan peranannya sebagai satu-satunya tenaga kesehatan yang berwenang dan kompeten di bidang kefarmasian. (Stevani Elisabeth)