Arung, Bawa Tradisi ke Modernity

Arung, Bawa Tradisi ke Modernity

Dari tradisi ke modernity. (SHNet /Stevani Elisabeth)

SHNet, Jakarta – Terinspirasi dari sejarah perdagangan komersial Indonesia yang pada awalnya dilakukan dari aktivitas maritim para pelaut zaman dahulu, Bateeq mengusung tema Arung dalam acara Fashion Nation XIII, di Senayan City, Jakarta, Sabtu (16/3).

Koleksi Fall Winter 2019/2020, Bateeq mengusung tema Arung. (SHNet /Stevani Elisabeth)

Letak Kepulauan Indonesia pada jalur persilangan lalu lintas perdagangan dunia, membuat posisinya menjadi strategis dalam perdagangan global dan memperkuat jalur perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.

Arung secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi untuk menyeberang atau berlayar melalui, gagasan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

 

“Tema Arung juga menggambarkan batik yang kita bawa dari tradisi ke modernity. Batik tidak sekedar kain yang dibuat dengan cara tenun (ATBM), tetapi ada kain – kain modern, “ujar CEO dan Creative Director Bateeq Michelle Tjokrosaputro.

Ia menambahkan tema Arung ini juga merupakan koleksi Fall Winter 2019/2020 yang akan tampil di London Fashion Week.

Motif yang digunakan dalam koleksi ini adalah motif Shindu dan Swarnadwipa. Sindu memiliki arti lahir dari sungai, dimana pada awalnya peradaban manusia lahir di sepanjang hulu sungai, namun telah berubah seiring waktu.

Desain Shindu terinspirasi dari batu-batuan dan pepohonan yang disusun secara abstrak pada bidang desain. Motif batik pada desain ini adalah kawung, parang dan banji.

Swarnadwipa artinya pulau emas. Motif Swarnadwipa ini menggambarkan pencarian tentang sesuatu yang sangat berharap di tempat baru dengan harapan baru dan tantangan yang tak terduga.

Adapun warna – warna yang digunakan dalam koleksi ini didominasi warna gelap seperti hitam, navy, port royale maroon dan forest night green. Ada juga merah coral dengan sentuhan benang metalik emas pada kain jacquard.

“Koleksi ini menyasar segmen muda. Dimana anak-anak muda sekarang lebih suka menggunakan busana yang praktis, nyaman dan bisa digunakan kapan saja. Satu koleksi bisa digunakan dari pagi hingga malam untuk segala acara, tidak hanya acara formal, tapi untuk santai juga bisa, “papar Michelle.

Dalam koleksi Arung tersebut, sang perancang mencoba menampilkan lurik. Bateeq berkolaborasi dengan salah industri rumah tangga di Klaten, Jawa Tengah yang mempekerjakan lansia untuk membuat kain tenun lurik.

Kain lurik dikombinasikan dengan bahan bemberg dan tancel dengan metode ramah lingkungan. Koleksi Arung ini dijual dengan harga mulai Rp 250.000 hingga Rp 2 juta. (Stevani Elisabeth)