Aksi Merdi Sihombing Pukau Pecinta Fashion London, Dhakka Hingga Jakarta

Aksi Merdi Sihombing Pukau Pecinta Fashion London, Dhakka Hingga Jakarta

LONDON WAVE - SIRAT, karya Merdi Sihombing untuk Autumn/Winter 2019 disambut positif di ILFWDA Fashion Week, London. (Do/SHNet)
SHNet, JAKARTA – Fashion ramah lingkungan (eco-fashion) dan fashion terbarukan (sustainable fashion) dalam beberapa tahun belakangan jadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Terlebih saat Ellen MacArthur Foundation melansir data yang menyatakan polusi yang dihasilkan dari industri fashion sama dengan polusi yang dihasilkan oleh batubara, migas bahkan petrokimia. Dalam data laporan  yang dilansir pada 2017 lalu itu, MacArthur menyatakan setiap detik terdapat 1 truk limbah tekstil yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau dibakar.

 

Kerugian setiap tahun diperkirakan mencapai USD 500 Milyar dari pakaian yang jarang dipakai atau tak pernah didaur ulang. Pada 2050, industri fashion bahkan diperkirakan akan menggunakan 25% dari bujet karbon dunia apabila tidak ada seorang pun yang melakukan aksi perubahan. 

Data tersebut juga memaparkan tentang fakta pahit bahwa industri fashion telah melakukan pencemaran yang masif, yakni membuang satu juta ton mikrofiber per tahun ke laut, yang setara dengan 50 trilyun botol plastik. Fakta di lapangan menunjukkan mikrofiber hampir mustahil untuk dibersihkan dan suatu saat akan masuk ke dalam rantai makanan yang dikonsumsi manusia.

Merdi Sihombing menyikapi isu ini dengan melakukan berbagai aksi nyata untuk melakukan re-thinking fashion, sebuah gerakan yang sejak 2018 lalu marak dilakukan pegiat fashion dunia. Sepanjang 2018, Merdi melakukan community development di Alor, Rote Ndao, Banyuwangi dan Lombok untuk mengajarkan berbagai teknik yang menerapkan konsep sustainable fashion, seperti penggunaan pewarna alam, benang organik, maupun pengelolaan limbah tekstil.

Merdi juga  menggagas Eco-Fashion Week Indonesia 2018 yang digelar di Gedung STOVIA, Jakarta, dan menjadi pembicara di berbagai event yang mengusung prinsip sustainable lifestyle. Mengawali 2019, tepatnya di pertengahan Februari Merdi diundang membawakan karya sustainable fashionnya di London yang diprakarsai Independent London Fashion Week Designer’s Association (ILFWDA).  

Limabelas koleksi AW 2019  terbarunya dipergelarkan bersama karya-karya Jeff Garner dan tujuh desainer sustainable fashion independen  dari mancanegara. Jeff Garner adalahdesainer dari Amerika Serikat yang memenangi penghargaan 2018 Eluxe Award. 

Keikutsertaan saya di ILFWDA ini direkomendasikan oleh Jeff Garner yang karya-karya sustainable fashionnya sudah dikenal dunia melalui brand Prophetik. Koleksi saya kali ini juga mendapatkan dukungan dari Lenzing Indonesia – PT South Pacific Viscose, produsen benang ramah lingkungan, yakni Lyocell A 100 yang kemudian diberi pewarna alam sebelum  ditenun menjadi kain-kain indah oleh perempuan-perempuan penenun di berbagai pelosok terpencil di Indonesia. ” kata Merdi Sihombing usai show-nya di Beach Blanket Babylon, Notting Hill. 

Tema Sirat” diangkat Merdi Sihombing sebagai sajian utamanya.  Sirat adalah produk anyaman benang yang dikerjakan dengan teknik table weaving. Helai demi helai sirat yang berbentuk seperti pita itu dijahit menjadi satu, hingga membentuk gaun panjang, jumpsuit maupun longcoat yang diberi aksentuasi manik metal spike

Sirat biasanya digunakan sebagai hiasan kepala saat ritual adat. Bentuknya menyerupai pita sepanjang 1 meter dengan lebar 5-7 cm. Sirat biasanya terdiri atas tiga warna yang melambangkan dunia dengan komposisi warna putih di atas, merah di tengah dan hitam di bawah. Motif ini disebut dengan istilah Sacred Geometry.” kata Merdi menjelaskan dengan detil. Merdi juga menyuguhkan koleksi klasik tenun ikat Hitam Putih, dan sejumlah koleksi dari kain yang diproduksi di Umapura Alor, sebuah atol kecil di Pulau Ternate. Umapura Alor ini merupakan pulau terluar di Indonesia bagian utara.

“Tahun lalu saya melakukan community development di pulau yang hanya punya satu sumber mata air bersih itu. Hutan-hutan di sana masih dijaga ketat oleh masyarakat, karena dari hutan itulah mereka mendapatkan perwarna alam. Tanaman kolam susu  menghasilkan warna hijau, indigo untuk warna biru, atau akar mengkudu untuk warna merah. Saya juga menggunakan limbah limbah rebusan cumi-cumi dan teripang  sebagai alternatif perwarna alam dalam koleksi ini,” lanjut Merdi.  (Nonnie Rering)