Ahsan/Hendra Setiawan Penuhi Target PBSI

Ahsan/Hendra Setiawan Penuhi Target PBSI

M Ahsan dan Hendra Setiawan /ist

SHNet, Birmingham – Misi memburu target satu gelar juara di All England akhirnya bisa dipenuhi oleh tim bulutangkis Indonesia setelah Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan berhasil memenangkan partai final melawan ganda dari Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan skor 11-21, 21-14, 21-12, Minggu (10/3) waktu setempat. Ini menjadi gelar kedua bagi Ahsan dan Hendra di ajang All England.

Indonesia yang memasang target realistis merebut satu gelar di turnamen bergengsi ini, sempat was-was usai The Minions, Kevin Sanjaya/Marcus Gideon, di luar dugaan kalah di babak-babak awal. Namun keyakinan kembali muncul saat dua pasangan ganda putra, Ahsan/Hendra serta Fajar/Rian mampu mencapai semifinal. Meski Fajar/Rian kandas di tangan Chia/Soh tapi mantan juara All England tahun 2014 ini mampu menjawab kepercayaan yang dibebankan kepada mereka.

Ternyata singa-singa tua itu belum selesai. Mohammad Ahsan (31 tahun) dan Hendra Setiawan (34 tahun) kembali meraih gelar terbesar mereka dalam lebih dari tiga tahun, meraih YONEX All England Open Badminton Championships 2019 dan menunjukkan bahwa keduanya masih memiliki keajaiban dari sisa masa kejayaan mereka.

Juara dunia dua kali itu bangkit kembali dari kekalahan dalam pertandingan pembukaan untuk meredam pasangan ganda muda, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik sekaligus menghentikan cerita dongeng pasangan Malaysia yang menjalani debut di All England, dan bermain di partai final besar pertama mereka.

Kematangan mungkin menjadi faktor penting kemenangan Indonesia, saat Chia dan Soh mendominasi pergerakan. Kemenangan di set pertama dengan 21-11 merupakan bayangan suram bagi Indonesia, ketika Hendra Setiawan sempat melakukan perawatan karena cedera betis kanan.

Tapi pasangan Indonesia membalikkan keadaan dengan mengandalkan permainan di depan net. Fokus dalam permainan seperti yang diungkapkan Ahsan menjadi kunci dari keberhasilan mereka. ‘Serve-return’ dan terkaman balik mereka begitu tajam sehingga mereka tidak memberikan kesempatan kepada pasangan Malaysia. Chia dan Soh tidak dapat membuka permainan untuk membangun serangan mereka, ganda Malaysia itu malah ditarik ke wilayah yang semuanya milik Indonesia. Dan ini diakui oleh pasangan Malaysia tersebut.

“Setiawan sangat bagus di net. Mereka jauh lebih baik pada pukulan ketiga dan itu mengambil permainan dari kami. Kami senang telah mencapai final pada debut kami, tetapi masih sedikit kecewa dengan cara kami kalah,” aku Chia.

Hendra Setiawan, yang juga meraih medali emas Olimpiade dan Kejuaraan Dunia atas namanya tersebut, menilai ini sebagai salah satu kemenangan terbaiknya.

“All England jelas merupakan salah satu turnamen paling bergengsi dan kami sangat senang bisa memenangkannya lagi setelah empat tahun,” kata hendra Setiawan.

“Betis saya membuat saya kesulitan di awal tetapi setelah pertandingan pertama itu menjadi lebih baik.”

Keberhasilan Hendra/Ahsan membuat Indonesia berhasil menyambung tradisi gelar All England yang tak terputus sejak tahun 2016. Pada tahun 2016, pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Debby Susanto berhasil menjadi juara, dilanjutkan dengan pasangan ganda putra Kevin/Marcus pada tahun 2017 dan 2018. Pada tahun 2012, 2013 dan 2014, pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mengukir sejarah dengan mencetak gelar hat-trick. (EPH)