Wisata Sambil Meditasi di Gunung Padang

Wisata Sambil Meditasi di Gunung Padang

Ist

Waktu telah lewat dini hari. Kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku. “Mbak, mbak, bangun mbak. Sudah subuh, jadi naik tidak?,” tanya seorang laki-laki. Dalam keadaan sadar dan tidak, kujawab, “jadi kang. Sebentar,” ujarku. Kupaksa diriku untuk sadar penuh dan bergegas mengambil jaket tebal. Maklum, suhu udara 15 derajat.

Laki-laki itu adalah Nanang. Orang biasa menyebutnya Kang Nanang. Badannya kurus. Kulitnya cokelat. Setiap hari, ia memakai baju serba hitam. Kadang-kadang dia memakai kain ikat model Sunda di kepalanya. Kang Nanang adalah juru kunci atau kuncen Gunung Padang. Pagi itu, aku dan beberapa kawanku merealisasikan janji yang kami buat dengannya pada malam sebelumnya.

Kami minta tolong Kang Nanang mengantarkan kami ke puncak Gunung Padang untuk “semedi”, memanen energi lewat oksigen yang bersih dan segar. Keputusan untuk pergi di pagi hari, bukan malam hari, karena mendapat saran dari Kang Nanang. Katanya, di pagi hari, Gunung Padang akan tampak indah.

Langit terasa lebih terang, kita bisa melihat kerlap-kerlip cahaya bintang, bayangan pepohonan, hingga lekuk perbukitan di sekelilingnya. Dan jika beruntung, kita juga bisa menyaksikan bintang-bintang berlarian yang membuat kita girang dan berusaha “menyampaikan harapan”. Di pagi hari pula kita juga bisa menyaksikan panorama matahari terbit.

Ada dua jalur untuk sampai ke puncak, yakni jalur baru dan tradisional. Jalur baru letaknya persis di depan rumah Kang Nanang, sementara jalur tradisional berada tepat di tengah-tengah bukit. Anak tangga jalur baru terbuat dari cor-coran semen, sementara jalur tradisional dari batu alami zaman megalitikum berbentuk segi panjang tak beraturan.

Kami memilih menaiki trap-trap anak tangga yang ada di jalur baru karena tidak seterjal jalur lama. Saat berjalan, kami ditemani nyaring suara jangkrik dari sisi kanan dan kiri jalan yang kami lalui.

“Sebentar. Berhenti dulu,” kata temanku menyetop perjalanan kami. Suara nafasnya terdengar kencang, terengah-engah. “Pelan-pelan. Tidak apa-apa,” ujar Kang Nanang kepada kami. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menaiki anak tangga.

Saat ada jalan bercabang kami diarahkan berbelok kiri, meninggalkan trap-trap anak tangga yang terbuat dari beton. Selanjutnya kami menapaki jalan tangga dari bebatuan alami dari zaman megalitikum.

“Kita sudah memasuki pintu pertama,” kata Kang Nanang ketika kami telah sampai di punggung bukit. Kang Nanang memejamkan mata, mulutnya komat kamit membaca doa, tangannya menyembah, dan sesekali menghirup nafas dalam dalam. Kami mengikutinya, hingga teras pertama.

“Coba lihat ke langit,” katanya. Dan benar saja. Kami mendapati pemandangan ribuan, mungkin jutaan bintang memancarkan sinar di langit, hingga membuat langit tak seperti hitam, tapi padang atau terang.

Saat menikmati terangnya langit, kami dikejutkan dengan bintang bergerak jatuh tepat di atas pohon di samping kami. Sontak kami kaget dan bergembira mengingat ini pemandangan langka. “Alam menyambut kita,” kata Kang Nanang. Malam itu kami melihat 5 kali bintang berlari. Tapi di antara kami tak ada yang mengajukan permintaan dalam hati karena kaget dan girang.

Dua jalur menuju ke puncak Gunung Padang/Ist

Hirup Udara
Kami melanjutkan perjalanan ke teras kedua. Di sana ada gundukan batu yang di tengahnya terdapat 2 pohon besar tua, cendana dan hamiru. Di bawah pohon itulah kami diajak Kang Nanang bersemedi, menghadap ke barat, ke arah Gunung Gede.

Kang Nanang meminta kami memejamkan mata, melepaskan semua pikiran, mendengar satu-satunya suara alam. Hening. “Nanti saat angin agak kencang datang hiruplah banyak-banyak. Pusatkan pada pikiran yang jernih,” ia meminta.

Dan benar! Selang beberapa waktu, gemuruh suara datang dari sisi kanan kami pertanda angin “kencang” akan segera datang. Hanya beberapa detik kemudian, angin itu datang dari arah belakang menerpa tubuh kami, membuat kami menggigil kedinginan. Kami merasakan angin hanya berputar-putar di bawah pohon itu mengelilingi kami yang sedang duduk bermeditasi. “Hirup udaranya, hirup udaranya,” kata Kang Nanang.

Tak mau buang waktu kami pun mengikuti perintahnya, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Setelah selesai kami membuka mata. “Lihatlah ke langit, awan mendung. Kalau kita beruntung kita bisa melihat bintang lagi,” katanya. Dan kami beruntung. Tak sampai 5 menit, bintang-bintang itu memperlihatkan dirinya kepada kami sebentar dan menghilang setelahnya.

Kang Nanang mengatakan, meditasi di Gunung Padang bukanlah hal yang mistis. Saat bersatu dengan alam berarti kita sedang bersatu dengan sang maha kuasa. “Kita bisa merasakan kehadirnya. Kita perlu energi positif supaya kita bisa berpikir dan bertindak positif sehingga tidak merugikan,” katanya.

Gunung Padang berbentuk punden berundak yang memiliki 5 teras. Dia memiliki oksigen yang bagus mungkin juga karena letak geografisnya, yang berada di tengah-tengah dan dikelilingi perbukitan, serta aliran sungai. Banyak orang menyebut, Gunung Padang seperti kue mangkok. Itu menyebabkan, oksigen berkumpul di sana. “Nenek moyang kita memilih dan membangun tempat ini bukan tanpa alasan. Pasti ada alasannya,” ujarnya.

Pergi ke Gunung Padang, kita memang seperti merasakan hanya ada diri kita dan alam. Jadi, bagi kalian yang terlalu sibuk dengan hingar bingar ibu kota tak ada salahnya untuk datang ke sana, melepaskan segala penat, dan bersatu dengan alam. Rumah-rumah penduduk bisa kalian gunakan untuk tempat menginap. Tentu saja dengan segala layanan ala penduduk di pedesaan. (Tutut Herlina)