Perjanjian Perbatasan Indonesia – Australia

PM Papua New Guinea Tiba

Perjanjian Perbatasan Indonesia – Australia

Akan Ditandatangani Di Deplu

Jakarta, 9 Februari 1973 – PM Papua New Guinea Michael Somare menggambarkan maksud kunjungannya ke Indonesia sebagai suatu “good will tour”, mengingat Papua New Guinea pada akhir tahun 1973 akan resmi menjadi suatu negara berdaulat.

Somare yang disertai oleh sekretaris pribadi dan sekretaris pers Dr. Sarei tiba di Kemayoran Jum’at malam disambut oleh Menlu Adam Malik, Sekjen Deplu Ashari, Kepala Aspas Nur Mathis dan Dubes Australia Furlonger beserta orang kedua Kedubes Australia di Jakarta.

Berbicara kepada pers sesaat setelah mendarat dari Tokyo, Somare mengatakan rangkaian kunjungannya ke beberapa negara dimaksudkan untuk mengadakan hubungan dengan negara itu.

Di Indonesia ia datang untuk mempelajari rakyatnya, mencoba mengerti mereka, bertukar pikiran dan membicarakan bagaimana bentuk hubungan kedua negara di waktu datang.
Ia juga bermaksud untuk mengenai pemimpin Indonesia dan orang dalam pemerintahan.

Mengenai kerjasama security dan keamanan antara kedua negara Somare berkata bahwa setiap kali pemerintah Australia mengambil keputusan dalam bidang ini mereka selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan Papua New Guinea. Walaupn tidak disebutkan persis, kelihatannya Somare tidak beranggapan bahwa masih terdapat masalah perbatasan antara negaranya dan Indonesia.

Suatu perjanjian perbatasan antara kedua negara akan ditandatangani di Deplu antara RI dan Australia dan Somare akan menandatangani atas nama Australia.
Berbeda dengan rencana semula tanggal 10 dan 11 Somare akan meninjau proyek pertanian dan ekonomi di Bandung. Baru hari Senin ia diterima Presiden Soeharto.

Kunjungan Somare ke Indonesia benar-benar untuk “good will tour”. Selama kunjungan menurut rencana ia hanya sekali bertemu dengan Menlu Adam Malik, tuan rumahnya yaitu kira-kira seperempat jam sebelum Malik memberikan jamuan makan untuk menghormat PM PNG itu Jum’at malam. (SH)