Menpar: Hoax Buat Wisatawan Trauma

Menpar: Hoax Buat Wisatawan Trauma

Menteri Pariwisata Arief Yahya saat sosialisasi mitigasi bencana, di Jakarta, Rabu (27/2). (Dok. Humas Kemenpar)

SHNet, Jakarta- Indonesia merupakan negara yang memiliki alam yang indah. Namun di balik keindahan alam tersebut, Indonesia berada di daerah cincin api.

Dengan kondisi tersebut, tak heran kalau Indonesia dijuluki “supermarket bencana”. Hampir setiap tahun mengalami bencana alam; gempa bumi, erupsi maupun tsunami yang kerap kali berdampak pada pariwisata.

Oleh karena itu, program mitigasi bencana dalam meminimalisir dampak pada pariwisata menjadi salah satu program strategis Kementeri Pariwisata (Kemenpar).

“Bencana kapan saja bisa terjadi, tidak bisa diprediksi dan relatif tidak bisa dihindari. Tetapi yang terpenting kalau sudah terjadi, bagaimana mengatasinya dan bagaimana kita meminimalisir risiko yang diimbulkan. Untuk ini Kemenpar sudah membuat tim Mitigation Plan dengan menggunakan standar dunia dari UNWTO,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam diskusi dan sosisalisasi mitigasi bencana bertema ‘Be aware, Beprepare Before Traveling’ yang digelar oleh bagian Manajemen Krisis Kepariwisataan, Biro Komunikasi Publik (Komblik) Kemenpar bersama Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di A One Hotel Jakarta, Rabu (27/2).

Dia menjelaskan, bencana erupsi Gunung Agung pada 2017 memberi dampak terhadap pariwisata Bali kemudian berlanjut pada 2018 muncul bencana gempa bumi di Lombok yang berdampak pada pariwisata NTB.

“Bencana alam membawa impact sangat besar pada pariwisata. Sebagai ilustrasi peristiwa erupsi Gunung Agung Bali pada 2017 memberi dampak hilangnya potensi kunjungan 1 juta wisman dengan pengeluaran sebesar US$ 1miliar karena pengeluaran rata-rata wisman US$ 1.000 per orang perkunjungan,” kata Arief Yahya.

Lalu, bagaimana seharusnya mitigasi bencana dalam pariwisata? Dalam menangi bencana , baik itu terorisme atau bencana alam yang dapat terjadi kapan saja, Kemenpar telah mempunyai SOP untuk penanganannya yang terbagai dalam tiga tahapan; Tanggap Darurat, Tahap Rehabilitasi (Pemulihan), dan berlanjut pada Tahap Normalisasi (Recovery).

Pada masa tanggap darurat , menurut Arief Yahya lebih lanjut, merupakan masa yang sangat rawan terhadap pemberitaan maupun informasi yang salah (hoax) karena kesalahan tersebut membuat truma bagi wisatawan atau terjadi cancellation.

“Begitu muncul bencana, media gencar memberikan kemudian diikuti travel advisory dari negara-negara sumber wisman. Bila pemberitaan bencana tersebut cepat dan akurat akan mengurangi dampak negative pada pariwisata,” ujarnya.

Menurutnya,di sini peran media sangat menentukan terhadap proses penangan wisatawan . “Ketika terjadi bencana, maka terjadi cancel besar-besaran seperti gempa di Lombok tahun 2018, wisatawan yang cancel sampai 60%. Tsunami di Selat Sunda buat okupansi hotel tinggal 10%. Makanya hati-hati , jangan buat spekulasi akan terjadi ini dan itu,” papar Menpar.

Menurutnya, hal yang paling berpengaruh terhadap kunjungan wisman ke wilayah rawan bencana adalah status bencana di daerah tersebut; mulai dari status waspada, siaga, awas, hingga status darurat.

Pada kesempatan itu Menpar menegaskan kembali dalam mitigasi bencana pemerinah wajib pengumumkan apa yang terjadi dan mencabut semua promosi tentang daerah yang terkena bencana. Selain itu Memberikan informasi akurat pada masyarakat dan industri pariwisata. “Keselahan dalam memberikan informasi bisa menyebabkan terjadi cancellation kunjungan wisatawan,” kata Arief Yahya.(Stevani Elisabeth)