Lepasliarkan Keluarga Owa Jawa

Lepasliarkan Keluarga Owa Jawa

SHNet, BANDUNG – Sebanyak lima individu Owa Jawa (Hylobates moloch) dilepasliarkan di hutan lindung Gunung Malabar, Jawa Barat, Kamis (21/1). Pelepasliaran itu dilakukan setelah terlebih dahulu direhabilitasi di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Ada dua keluarga Owa Jawa yang dilakukan pelepasaliaran, yaitu keluarga Jowi-Cuplis dan anaknya Maral yang lahir di pusat rehabilitasi serta pasangan Mimis-Cika. Sebelum dilepasliarkan mereka menjalani proses habituasi selama tiga bulan di Gunung Puntang, Hutan Lindung Gunung Malabar.

Owa Jawa merupakan spesies karismatik, memiliki peran penting dalam merestorasi hutan secara alami dengan menyebarkan benih untuk membantu menjaga kesehatan hutan yang sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia sebagai sebagai daerah resapan air dan menjaga siklus air. Penyebaran benih yang mampu dilakukannya juga untuk mencegah banjir dan bencana alam lainnya, penyuplai oksigen dan penyerap karbon, menjadi lokasi penelitian, sumber mata pencaharian, sumber obat-obatan dan lain-lain.

Pelepasliaran ini merupakan implementasi kerjasama Yayasan Owa Jawa dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang didukung Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Perum Perhutani, Conservation International (CI) Indonesia, Silvery Gibbon Project dan Pertamina EP Subang asset 3 Subang Field. Ini adalah pelepasliaran yang keenam kalinya. Sebelumnya telah dilepasliarkan 19 individu sejak tahun 2013.

Upaya pengembalian Owa Jawa ke habitatnya bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, kemitraan dan dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto, mengatakan bahwa Owa Jawa merupakan salah satu dari 25 satwa prioritas yang menjadi target sasaran strategis Ditjen KSDAE yang tertera pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 untuk ditingkatkan populasinya.

Program rehabilitasi Owa Jawa di Javan Gibbon Center merupakan kerjasama Yayasan Owa Jawa dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berperan penting dalam mempersiapkan Owa Jawa yang pernah dipelihara masyarakat, kemudian dilepasliarkan untuk penguatan populasi di alam.

Kepala Divisi Regional Perhutani Jawa Barat dan Banten, Ahmad Ibrahim, menjelaskan bahwa beberapa kawasan hutan lindung Perum Perhutani merupakan habitat Owa Jawa. Habitat mereka tidak hanya di Jawa Barat, namun juga di sebagian di Jawa Tengah.

Oleh sebab itu, Perhutani berkomitmen untuk melestarikan Owa Jawa sekaligus mempertahankan habitatnya. Selain perlindungan terhadap Owa Jawa, sebagai entitas bisnis, Perhutani telah membuktikan kepada masyarakat nasional maupun internasional bahwa kepedulian kepada satwa-satwa yang dilindungi dan terancam punah lainnya juga telah dilakukan secara nyata berkat dukungan dan peran serta masyarakat setempat.

Armand Mel I. Hukom, Subang Field Manager PT Pertamina EP Asset 3, mengatakan perusahaan BUMN tersebut berkomitmen mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitatnya. Pertamina telah mendukung dan bekerja sama dengan Yayasan Owa Jawa sejak 2013 dalam program reintroduksi Owa Jawa dan penyadartahuan konservasi.

Selain itu PT Pertamina EP Asset 3 mendukung dalam pemberdayaan masyarakat melalui Program Melintang (Masyarakat Pecinta Alam Puntang) yang terfokus pada pemberdayaan ekonomi berupa budidaya tanaman kopi kepada warga Desa Campaka Mulya yang berada dibawah naungan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Bukit Amanah. Lokasinya, berbatasan langsung dengan area konservasi Owa Jawa di Gunung Puntang.

Sementara itu, Senior Manager Terrestrial Program CI Indonesia, Anton Ario, mengatakan pihaknya telah mendukung program  JGC sejak dibentuk pada tahun 2003. Dengan mendukung pelestarian Owa Jawa,  maka secara tidak langsung telah membantu menjaga keberlangsungan hutan di Jawa Barat. “Apabila hutan di kawasan Gunung Gede-Pangrango terjaga, maka dapat terus memasok air bersih bagi lebih dari 30 juta masyarakat di Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Owa Jawa merupakan satwa primata endemik Pulau Jawa. Survei tahun 2010 lalu mencatat 2.140-5.310 individu Owa Jawa hidup terisolasi di hutan konservasi dan hutan lindung, seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun Salak, Ujung Kulon, serta Cagar Alam Gunung Simpang dan Gunung Tilu.

Mereka adalah primata arboreal yang melakukan seluruh aktivitas hidupnya di pohon. Kelangsungan hidup Owa Jawa di alam sangat bergantung pada tegakan pohon dengan tajuk menyambung. Dengan demikian, kehadiran Owa Jawa dapat dijadikan indikator kondisi hutan yang sehat dan terjaga baik. Sebagai satwa pemencar biji, Owa Jawa berperan penting menjaga siklus dan regenerasi ekosistem hutan.

Satwa ini menjadi model sistem sosial yang menjunjung tinggi nilai kesetiaan dan gotong-royong. Berbeda dengan sebagian besar primata, Owa Jawa menganut sistem perkawinan monogami dan hidup dalam unit keluarga yang erat. Keluarganya terdiri dari sepasang induk dengan 1-3 anak yang dilahirkan setiap 2-3 tahun sekali.

Sayang, sekalipun dilindungi oleh undang-undang, populasinya di alam terus menyusut. Selain kerusakan habitat, Owa Jawa di habitat alaminya juga terancam oleh aktivitas perburuan dan perdagangan untuk menjadikannya satwa peliharaan. Dalam Daftar Merah World Conservation Union (The IUCN Red List of Threatened Species) Owa Jawa dikategorikan sebagai satwa terancam punah (Endangered species) dan termasuk dalam daftar Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). (inno jemabut)