KPAI Apresiasi Respons Cepat Disdik Tangani Perundungan Guru

KPAI Apresiasi Respons Cepat Disdik Tangani Perundungan Guru

Stop Bullying. (Ist)

SHNet, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan mengapresiasi Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gresik. Apresisasi tersebut karena Disdik segera merespons kasus dugaan perundungan terhadap guru, yang tampak dalam sebuah tayangan video, yang sempat viral di media sosial (medsos) belakangan ini.

Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti menyampaikan hal ini kepada media, Minggu (10/2), setelah mengetahui bahwa Kepala Disdik Kabupaten Gresik telah melakukan pendalaman kasus dengan memanggil pihak-pihak terkait, terutama sekolah dan para orang tua siswa.

“KPAI berharap ada evaluasi dan pembenahan ke depannya, tidak fokus menghukum pihak yang dianggap salah, melainkan mengedepankan pembinaan, baik terhadap siswa maupun sekolahnya,” kata Retno.

Ia berpendapat bahwa anak wajib belajar dari kesalahannya, namun juga harus diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.

KPAI sendiri, menurut Retno telah mendalami video yang berisi dugaan beberapa murid melakukan perundungan terhadap seorang guru. Video tersebut viral melalui berbagai medsos dan perpesanan instan. KPAI juga menerima kiriman video tersebut dari banyak pihak sejak Sabtu (9/2) malam kemarin.

Dalam video yang viral tersebut, ada dugaan bahwa peristiwa tersebut terjadi di salah satu SMP swasta di Gresik. KPAI kemudian mencoba menelusuri dari berbagai sumber yang dapat dipercaya dan akhirnya mendapatkan kepastian bahwa benar lokasi kejadian adalah di salah satu sekolah di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Pertemuan Tertutup Dinas Pendidikan Setempat
Dinas Pendidikan kabupaten Gresik memberikan informasi bahwa Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik dan jajarannya, Minggu (10/2) siang akan melakukan pertemuan tertutup dengan pihak-pihak terkait, termasuk sekolah dan orang tua siswa.

Dalam video berdurasi 22 detik tersebut tampak suasana kelas di mana seorang guru terlihat menghampiri siswanya seperti menegur. Akan tetapi siswa yang ditegur malah melawan dan cenderung bertindak agresif, seperti menantang sang guru berkelahi. Ada dua siswa yang nampak berdiri seolah hendak menyerang sang guru.

Retno mengatakan bahwa terkait viralnya video tersebut, KPAI menyampaikan beberapa hal. Pertama, KPAI menyampaikan keprihatinan atas sikap dan perilaku siswa yang mencerminkan ketidaksatunan. Menurut KPAI tidak semestinya seorang siswa bersikap demikian kepada gurunya, apalagi sang guru tampaknya hanya menegur, bukan berteriak membentak apalagi memukul.

“Teguran sang guru pasti ada alasannya. Sebagai pendidik, mungkin sang guru ingin menegur dalam rangka mendisiplinkan siswa yang bersangkutan,” kata Retno menduga.

KPAI berpandangan kemungkinan ada dua faktor yang menyebabkan kejadian murid melakukan kekerasan terhadap guru di sebuah SMP di Gresik tersebut. Faktor pertama adalah karena karakter siswa yang kurang terbina dengan baik di rumah maupun sekolah.

“Biasanya sikap anak seperti itu, ada pengaruh kuat dari pola asuh di rumah,” kata Retno.

Selain itu, kata Retno, bisa juga karena siswa sudah kecanduan game online yang mengandung unsur kekerasan. Akibatnya, anak jadi tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan di dunia nyata.

Perlu Esesmen Psikologis
Terkait faktor pertama ini, menurut Retno, tentu saja dibutuhkan esesmen psikologis terhadap siswa guna mencari faktor penyebab yang bersangkutan berperilaku agresif seperti dalam video tersebut.

Faktor kedua, kata Retno, bisa saja berasal dari gurunya. Ia mencontohkan rendahnya kompetensi paedagogik guru, terutama dalam penguasaan di kelas serta dalam menciptakan suasana belajar yang kreatif, menyenangkan, dan menantang kreativitas serta minat siswa.

Retno menjelaskan, manajemen penguasaan kelas di antaranya adalah bagaimana guru dengan karakter siswa yang bermacam-macam, dapat mengatasi kelasnya. Kemampuan manajemen penguasaan kelas perlu dilatih dan hal ini merupakan tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Ketiga, Jika diperlukan, KPAI menurut Retno akan melakukan pengawasan langsung ke Gresik. Namun, sebelumnya KPAI akan terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik terkait hasil pertemuan hari ini dan juga langkah tindak lanjut kasus ini.

Menurut Retno, KPAI juga akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta (P2TP2A) Kabupaten Gresik. Tujuannya memberikan pendampingan dan rehabilitasi psikologis baik kepada guru maupun siswa.

“Rehabilitasi terhadap siswa penting dilakukan agar siswa dapat belajar dari kesalahan, dan mau memperbaiki diri,” kata Retno. (whm/sp)