Dibuka, Lokakarya Regional Innovation Cluster NTB

Dibuka, Lokakarya Regional Innovation Cluster NTB

Lokakarya Kemenristekdikti bersama The Applied Research and Innovation Systems in Agriculture (ARISACSIRO Australia) berlangsung di Hotel Santika Mataram, Rabu (6/2) yang lalu. [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule membuka lokakarya yang mengusung tema Regional Innovation Cluster NTB – Progressing Ristekdikti’s Innovation Cluster Agenda. Lokakarya yang dilaksanakan oleh Kemitraan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama The Applied Research and Innovation Systems in Agriculture (ARISACSIRO Australia) ini, berlangsung di Hotel Santika Mataram, Rabu (6/2) yang lalu.

Narasumber acara ini antara lain Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule, DEA, Rektor Universitas Mataram H Lalu Husni, Bayu Sasongko dari PT Melia Propolis NT; Michaela Cosijn dan Jen Kelly dari ARISA; Kasubdit Sistem Informasi dan Diseminasi Inovasi Kemenristekdikti Muhammad Amin; dan Pengembang Klaster Inovasi PUD Madu, Retno Utari.

Peserta workshop berasal dari Kemenristekdikti, Pemprov NTB, Pemkab Lombok Utara, Unram, ARISA, serta Sektor Swasta. Sektor swasta terdiri dari Asosiasi Hotel dan Pariwisata, Asosiasi Agribisnis, Asosiasi Cabai, Asosiasi Rumput Laut, Lembaga Pembiayaan, SwissContact, Taman Sains dan Teknologi NTB, serta Martina Berto, perwakilan lain dari industri yang terkait dengan klaster inovasi berbasi produk unggulan daerah.

Fokus Kepada Peluang
Agenda workshop fokus kepada peluang yang terkait dengan pertanian dan pariwisata termasuk peluang pengembangan klaster inovasi Produk Unggulan Daerah (PUD) lebah madu (propolis), klaster inovasi cabai, klaster kosmetik dan herbal, klaster inovasi rumput laut, industri perhotelan dan pariwisata serta bagaimana model pengembangan klaster inovasi berbasis PUD yang digagas oleh Kementristekdikti dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

Sebagai keynote speaker, Ophirtus Sumule menyampaikan bahwa implementasi klaster inovasi berbasis PUD mutlak membutuhkan kolaborasi dan sinergi peran antarstakeholders inovasi yakni pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan media yang dikenal sebagai model kolaborasi penta helix.
Ophirtus menyampaikan bahwa daerah-daerah yang meningkat pertumbuhan ekonomi dan produktivitas masyarakatnya secara siginifikan lebih banyak ditentukan oleh kepemimpinan daerah yang inovatif dan didukung oleh komoditas dan keunggulan komparatif produk unggulan daerahnya.

Kepemimpinan yang inovatif diyakini mampu merancang konsep pembangunan daerah yang holistik melalui upaya-upaya kebijakan kemudahan berusaha (teknis dan administratif), insentif pajak, pelayanan inovatif – one stop services (pelayanan satu atap) – reformasi dan revolusi mental birokrasi (berintegritas).

Berorientasi Peningkatan Ekonomi Daerah
Selain itu, riset dan inovasi perguruan tinggi dan lembaga litbang berorientasi kepada peningkatan ekonomi daerah melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan nilai tambah serta daya saing PUD. Perencanaan dan implementasi, berupa RPJMD; RPIP dan RPIK serta program pembinaan IKM/UKM yang berkelanjutan.

Retno Utari (pengembang Klaster Inovasi PUD Madu NTB), menyampikan bahwa dalam upaya merealisasikan implementasi klaster inovasi PUD Madu pada tahun 2019 Pemprov NTB telah mengalokasikan anggaran sejumlah Rp 4,6 miliar. Gunanya untuk menata budi daya dan menyiapkan suplai di sektor hulu.
Selanjutnya Pemkab Lombok Utara bersama dengan Unram, dunia usaha dan komunitas akan mengelola unit bisnis di sektor hilir dalam bentuk konsorsium inovasi.

“Pendekatan Model Pengembangan Klaster Inovasi tidak sekadar sebagai konsep tetapi juga sebagai platform nasional dalam konteks pembangunan ekonomi daerah berbasis pengetahuan dengan memanfaatkan potensi produk unggulan daerah dalam rangka meningkatkan daya saing dan kemandirian daerah”, kata Kasubdit Sistem Informasi dan Diseminasi Inovasi Kemenristekdikti Muhammad Amin. (whm/sp)