Dari Desa Ciampea inilah Emping Jengkol Dihasilkan

Dari Desa Ciampea inilah Emping Jengkol Dihasilkan

SHNet, Bogor –  Makanan yang memiliki bau yang sangat khas ini ‘ Jengkol’, banyak disajikan di rumah makan di tanah Pasundan dan daerah lainnya dengan olahan berupa semur atau dimakan secara mentah. Pohon jengkol yang buahnya kini dilirik oleh negara Jepang untuk dijadikan obat ini, banyak ditanam di Desa Ciampea, Kabupaten Bogor. Dari desa ini jengkol  terus di produksi demi memenuhi kebutuhn konsumen.

Dari Desa Ciampea, Bogor,  harga emping jengkol saat ini menembus di harga Rp140.000 per kilo dan setelah diolah menjadi jengkol seharga Rp40.000 per kilo. Namin demikian para perajin di Desa Ciampea terus mengolah jengkol untuk memenuhi permintaan konsumen berupa emping jengkol ataupun masih berbentuk bulat dan untuk.

Karena itu, jengkol saat ini sudah menjadi.ciri khas dari Desa Ciampea dan memang walau buah jengkol tidak dihasilkan dari wilayah tersebut namun bisa mendapatkan emping jengkol dari pasar tradisional, bahkan mendapatkan kiriman emping jengkol dariwilayah Lampung.

Warga Desa Ciampea  selain produksi jengkol, ini sudah menjadi mata pencaharian utama dari setengah jumlah masyarakat di Desa Ciampea Bogor. Dan warga setempat terus di kembangkan dan di pertahankan sejak puluhan tahun silam hingga kini. Dan, diberdayakan turun menurun. Biasanya para pedagang sudah memiliki pelanggan untuk mengambil makanan yang banyak dicari oleh para pedagang.

Sejarah Desa Ciampea

Desa Ciampea merupakan pintu untuk menuju beberapa lokasi wisata seperti Gunung Salak Endah (wisata alam), Bukit Kapur Ciampea (wisata olahraga panjat tebing), dan petilasan purbakala di  Ciaruteun (wisata sejarah). Potensi wisata yang dimiliki Kecamatan Ciampea sendiri adalah Kampung Wisata Cinangneng di Desa Cihideung Udik, yang menyediakan atraksi wisata suasana pedesaan, seperti aktivitas menanam dan memanen padi,  membajak sawah dan atraksi hiburan kesenian tradisional Sunda  bagi wisatawan.

Pada abad ke-18, tanah–tanah di sekitar Ciampea dan Dramaga dikuasai oleh Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk putra Gubernur Jendral Jeremies van Riemsdjik(1775–1777) yang memanfaatkan wilayah tersebut untuk menanam teh, kopi dan tanaman komoditas lainnya. Willem Vincent Helvetius sendiri sejak muda sudah menduduki jabatan yang menguntungkan, antara lain pada usia 17 tahun sudah menjabat sebagai administrator Pulau Onrust, jabatan yang menjadi incaran banyak orang, karena konon sangat “basah” banyak memberi kesempatan untuk memupuk kekayaan.

Kedudukan ayahnya sebagai gubernur Jenderal dimanfaatkan dengan sangat baik, sehingga kekayaannya makin berkembang. Dalam perkembangannya, banyak warga pribumi di Ciampea yang menolak keberadaan keluarga van Riemsdijk, yang membuat Pemerintah Belanda pada saat itu menerjunkan pasukan untuk meredam pergolakan. (Maya)