Damaikan Tiga Suku Yang Berperang

Perkawinan Sargent – Obahorok

Damaikan Tiga Suku Yang Berperang

Pesta Pertemuan Berbagai Suku Pertama Dalam Sejarah

Jakarta, 15 Februari 1973 – Petualangan dari Ny. Wynn Sargent, seorang penulis juru potret Amerika yang mengawini seorang kepala suku yang masih hidup dalam jaman batu di hutan Irian Barat, berakhir hari Rabu ketika pemerintah Indonesia memerintahkannya untuk meninggalkan Indonesia selambat-lambatnya hari Sabtu tanggal 17 Februari.

Ny. Sargent, seorang wanita langsing dan jangkung berumur sekitar 40-an, menceritakan kepada “Associated Press” dalam sebuah wawancara melalui telepon tentang saat menegangkan dalam pengalamannya selama berada kurang lebih 4,5 bulan diantara salah satu dari suku yang paling sederhana.

Selanjutnya Wynn Sargent mengatakan bahwa perkawinannya dengan Obahorok, seorang kepala suku dari daerah Siapkosi Muliame dekat kota Wamena di dataran tinggi pusat dari Lembah Baliem, tidak sah “karena kami berdua telah bersepakat untuk tidak melegalisir perkawinan kami”.

Ketika saya pertama kali mencoba menemui Obahorok, ia menempatkan 30 jagoan “warrior” disekeliling kampung untuk mengusir orang asing tetapi saya membawa tiga hadiah : sebuah kapak, sebilah pisau panjang dan sebuah sekop untuk “chief” (kepala suku) dan iapun terpesona, kata Sargent.

Perkawinan demi perdamaian
Nyonya Sargent selanjutnya mengatakan, “Saya mengawini Obahorok untuk mendamaikan tiga suku buas yang saling berperang supaya mereka dapat hidup bersama dengan damai dan penuh keserasian”.
Dan perkawinannya hanyalah perkawinan tradisional belaka. Ia kemudian mengisahkan saat yang menegangkan ketika ia berusaha menjadi pendamai ketiga suku Irbar itu.

Menjadi “saudara darah”
Untuk mendamaikan suku-suku bermusuhan di hutan Irian Barat, Miss Sargent mengatakan ia mengangkat dirinya menjadi “saudara darah” (blood sister) dengan dua kepala suku dan melangsungkan perkawinan tradisional dengan Obahorok. “Mereka mengiris pergelangan tangan saya dan kedua tangan kepala suku itu dan kemudian menempelkan tangan berdarah kami satu sama lain sehingga dengan demikian jadilah kami saudara darah laki-laki dan perempuan”, kata Sargent.

Ia kemudian menceritakan bahwa pesta perkawinannya pada tanggal 8 Januari dengan Obahorok dikunjungi ribuan orang dari berbagai suku di Irian Barat. Mereka datang dari tempat yang sangat jauh untuk menghadiri perkawinan, yang mengumpulkan suku yang berperang untuk pertama kali dalam sejarah mereka. Kepala suku yang besar memotong 25 ekor babi dan kami makan bersama sebagai tanda mulainya era yang damai bagi mereka, Sargent mengatakan.

Ia tidak mengatakan apakah ia mengundang pejabat setempat ke perkawinan itu.
Sebuah laporan terdahulu dari Irian Barat mengatakan bahwa miss Sargent yang memberikan 11 babi dan lima “noken” (ikat kepala kepada Obahorok sebagai mas kawin. Sargent selanjutnya mengatakan bahwa ia masih membutuhkan 50 hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya dan untuk merasakan perdamaian yang telah ia bawa bagi suku ini bersama-sama).

Ia mengaku bahwa suku dari daerah Analogba, Winagoba dan Siapkosi Muliama sekarang hidup dengan damai dan penuh keserasian. “Ketika saya pertama kali menemui Obahorok tiga dari orangnya terbunuh oleh suku-suku bermusuhan. Kanibalisme masih dianut oleh orang ini dimana seorang harus membunuh seorang lainnya untuk membuktikan bahwa ia telah mencapai kejantanannya (kedewasaannya)”, ia mengatakan.

Miss Sargent, seorang janda dari Huntington, California, mengatakan ia mula-mula datang ke Irian Barat untuk memotret dan mempelajari kehidupan sex suku itu, katanya.
Saya hanya membutuhkan 50 hari lagi untuk mengakhiri pekerjaan saya sehingga dengan memuaskan dapat saya katakan bahwa pekerjaan saya itu telah membawa perdamaian dan keserasian pada suku bermusuhan itu, Sargent berkata.

Siapa Obahorok
Ia menambahkan “Saya bukan seorang pekerja sosial atau antropolog seperti yang disiarkan oleh orang yang tidak menyukai saya”. Pejabat setempat Irian Barat pada waktu itu marah ketika Sargent dikabarkan merencanakan untuk melepaskan pakaian Baratnya dan hanya akan mengenakan sabuk dan daun-daunan untuk mengikuti adat kebiasaan dari suaminya setelah ia menikah. Suaminya, kepala suku, mempunyai enam isteri, Obahorok hanya memakai sebuah “koteka” sebagai pakaian dan ia tidak dapat berbahasa Indonesia menurut pejabat.

Sargent mengakui bahwa ia telah diminta oleh “seorang yang tidak dikenal”, untuk membuat Obahorok beserta keenam isterinya memakai baju.
Sargent mengatakan ia menolak untuk berbuat demikian, dan saya juga tidak berkeliaran telanjang di hutan-hutan. Hari Rabu pagi, Sargent mengatakan ia menerima sebuah paket bunga dari seorang simpatisan yang dengan penuh simpati menulis pada kartunya “Trust in God” (percayalah kepada Tuhan). Bunga itu dikirim pada ulang tahunnya ke-46.

Janda berkebangsaan Amerika ini diminta untuk meninggalkan rumah tempat ia menginap di Jakarta agar tidak melibatkan kawannya yang bekerja pada kedutaan besar Australia. Miss Sargent mengatakan akan pulang melalui Hongkong, mengakku bahwa ia telah berbicara dengan pejabat kedutaan besar Amerika Serikat Rabu pagi.
“Namun tida ada yang dapat mereka perbuat, karena mereka juga hanya menjadi tamu dari pemerintah Indonesia”, katanya.

Sebelum ia ke Irian Barat penulis wanita ini berada di Kalimantan Barat pada tahun 1968 dimana ia mempelajari kehidupan suku Dayak di sana. Ia mengatakan bukunya mengenai suku Dayak di Kalimantan Barat akan diterbitkan bulan depan.
Pemerintah Indonesia tidak memperpanjang visa Sargent ketika ia ke Kantor Imigrasi di Jakarta untuk minta visa baru untuk dapat tetap tinggal di Indonesia.

Visanya habis masa berlakunya pada tanggal 25 Januari. Pejabat mengatakan miss Sargent telah melampaui waktu ijin tinggalnya pada visa dan dikeluarkannya dari Indonesia karena kegiatannya telah melanggar peraturan pemerintah. Demikian wawancara wartawan AP di Jakarta, Ghafur Fadyl dengan Miss Sargent.

Wartawan Jakarta kecewa
Lebih kurang 25 orang wartawan, termasuk lima orang wartawan asing nampak kecewa ketika sampai jam 16:00 hari Rabu Miss Wynn Sargent yang dikabarkan akan memberikan suatu konferensi pers di gedung PWI Jaya jam 15:00 ternyata tidak muncul.

Miss Sargent yang dicoba dihubungi di tempat penginapan sementaranya di jalan Lembang No. 1 tidak bersedia memberikan keterangan apa-apa.
Juru bicara Miss Sargent, Nn. Samsuari hanya mengatakan bahwa mereka terpaksa harus mencari tempat penginapan baru karena diminta untuk meninggalkan rumah tersebut.

Seperti yang pernah diberitakan, rumah jalan Lembang No. 1 adalah rumah dari salah seorang anggota Keduataan Besar Australia. (SH)