Syahrir Belum Punya Konsep Yang Jelas

Lanjutan Perkara “MALARI”

Syahrir Belum Punya Konsep Yang Jelas

Jakarta, 5 Januari 1975 – Pemeriksaan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas tertuduh Syahrir SE hari Senin dilanjutkan dengan pertanyaan hakim dan penuntut umum sekitar “strategi pembangunan” dan “peranan mahasiswa yang menentukan”.

Mengenai strategi pembangunan dikatakan oleh tertuduh dengan singkat bahwa hingga kini belum mempunyai konsep yang jelas dan karena itu masih perlu disempurnakan dengan penekanan perbaikan di bidang pertanian dan penggunaan tenaga kerja di bidang yang tepat. Ditambahkannya bahwa sistem perekonomian sekarang ini di Indonesia masih terlalu liberal.

Sedangkan mengenai “peranan mahasiswa yang menentukan”, dikatakan oleh Syahrir bahwa dalam pertemuannya dengan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada di Yogyakarta bulan September 1973 dia telah diminta oleh Rizal atas nama fakultas tersebut untuk berbincang mengenai pengalamannya selama mengurus Group Diskusi UI untuk dijadikan bahan perbandingan dalam rangka pembentukan Group Diskusi Gama.

Panjang lebar
Syahrir kemudian menuturkan perbincangan itu secara panjang lebar hingga Hakiim Ketua Anton Abdurahman Putera SH merasa perlu menyetopnya dengan mengatakan, kami harapkan agar saudara menjawab saja apa yang kami tanyakan. Tetapi spontan Syahrir menyahut dengan nada keras “Apa boleh saya berbicara untuk menjelaskan hal yang ada hubungannya dengan pertanyaan Pak Hakim ?”. Hakim Ketua mengalah dan seterusnya mempersilahkan Syahrir untuk bicara panjang lebar mengenai pertemuannya di Yogya.

Dikatakannya bahwa dia tidak benar menghasut para mahasiswa dalam kesempatan pertemuan tersebut di Fakultas Psikologi Gama tetapi sekedar bicara saja secara pribadi, bukan atas nama GDUI atau sebagai Asisten pribadi Prof. Sarbini Somawinata dari Fakultas Ekonomi UI.

Peranan mahasiswa
Menurut Syahrir peranan mahasiswa menurut kenyataan sejarah selalu menjadi unsur penentu, baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah Indonesia merdeka bahkan katanya diseluruh dunia dengan gamblang orang akan mengetahui bahwa peranan mahasiswa adalah sangat penting dalam mencapai perubahan yang bukan sekedar perubahan akan tetapi perubahan yang membawa kemajuan bagi negara bersangkutan.

Mahasiswa di Indonesia jumlahnya tidak lebihh dari sepertiga persen dari penduduk Indonesia tetapi peranannya saya rasa kalau untuk kemajuan perlu dikembangkan. Kita ingat saja peranan para mahasiswa pada masa sebelum perang yaitu sekitar tahun 1908 waktu pergerakan mahasiswa yang disebutnya “Budi Utomo” begitu pula pada saatnya menjelang Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, peranan gerakan mahasiswa sangat menentukan.

Hal itu saya uraikan atas permintaan mereka dan menurut saya bukan dengan maksud untuk menghasut mahasiswa agar bergerak kearah destruktif tetapi untuk ikut serta menghayati pembangunan, kata Syahrir.

Kodema
Atas pertanyaan Majelis Hakim, Syahrir menambahkan bahwa kedatangannya ke Yogya waktu itu hanya sekedar berbincang dan tidak ada sesuatu topik pembicaraan tertentu. Pembicaran yang diadakan adalah dalam rangka kerjasama “Kodema” (Koordinator Dewan Mahasiswa). Saya tidajk tahu, mengapa mereka meminta saya waktu untuk bicara, tukas Syahrir.

Sidang masih terus berlangsung dengan hanya dikunjungi beberapa orang saja termasuk beberapa keluarga tertuduh sendiri, tidak seramai waktu pemeriksaan perkara Hariman Siregar dalam perkara “Malari” pertama di tempat yang sama. (SH)