Sejuta Galon Minyak Kotori Selat Malaka

Kapal Tangki Minyak Jepang Kandas

Sejuta Galon Minyak Kotori Selat Malaka

Jakarta, 8 Januari 1975 – Dinas Penerangan TNI AL yang dihubungi “SH” Rabu pagi mengatakan bahwa sampai sekarang TNI AL masih menunggu laporan dari kapal patroli yang berada di dekat kandasnya kapal tangker “Showa Maru” milik Jepang pada tanggal 6 Januari yang lalu.

Dari laporan yang masuh itu nanti baru dapat diambil tindakan dan langkah selanjutnya.
Mengenai laporan yang tepat terjadinya peristiwa itu dikatakan bahwa “Showa Maru” kandas di sekitar 01° 9 24 Utara dan 103° 44′ 0,6 Timur.

Menurut berita terakhir, kapal tangki “Showa Maru” yang kandas dan bocor itu mempunyai bobot mati 237.698 ton sampai Rabu siang masih terus bocor, sekalipun petugas Pelabuhan Singapura sudah berusaha mengadakan usaha menutupi kebocoran.
Dilaporkan sudah 1 juta galon (3.785 juta liter) yang terbuang dan mengotori laut sekitar perairan Indonesia. Kapal tangki “Showa Maru” sedang dalam pelayaran dari Teluk Persia menuju Jepang dengan membawa minyak mentah sebanyak 224.000 ton.

Dubes Rukmito
Dubes RI Rukmito Hendraningrat mengatakan sudah positif bahwa kandasnya kapal tangki milik Jepang “Showa Maru” adalah di perairan Indonesia.
Rukmito yang berbicara langsung telepon dari Singapura dengan “SH” di Jakarta mengatakan bahwa pemerintah RI memberi ijin kepada pihak Singapura untuk mengirim kapal tunda untuk membantu “Showa Maru”.

Laporan pendahuluan yang saya terima mengatakan bahwa tiga dari 12 kompartemen dalam kapal tangki tersebut pecah. Demikian Dubes RI di Singapura, akan tetapi ia belum bersedia untuk memberi pernyataan lengkap karena dua anggota staf KBRI Singapura, Atase Perhubungan Kapten Chairuddin Rasyid dan Atal Letkol TNI AL Emir Mangawean Rabu siang sedang meninjau tempat musibah dengan helikopter.

Dubes Rukmito tambahkan : “Pendapat saya, sebaiknya tiga negara pantai (maksudnya Malaysia, Singapura dan Indonesia, Red) segera mengadakan pertemuan untuk mengatasi masalah kecelakaan “Showa Maru” itu agar tidak terjadi lagi di kemudian hari”.
Kedua pejabat KBRI tersebut sedang ditugaskan menyelidiki sampai dimana akibat polusi mengancam perairan dan pantai dari pulau Indonesia di sekitar tempat kecelakaan.

Deplu RI
Departemen Luar Negeri RI mengatakan belum mempunyai rencana untuk minta sarana navigasi di sepanjang selat tersebut.
Sekalipun kapal tangki ukuran 300.000 ton telah melalui Selat Lombok untuk lintasan ke Jepang namun menurut catatan tahun 1973 terdapat 4300 kapal tangki yang menggunakan Selat Malaka. Dari jumlah itu 1700 adalah milik atau dioperasikan oleh pihak oleh Jepang. Kementerian Pengangkutan tidak menyebutkan ukuran kapal tangki tersebut.

Seorang juru bicara Kementerian Pengangkutan Jepang juga mengemukakan bahwa kapal tangki yang membawa minyak dari Persia ke Jepang melalui Selat Lombok akan memerlukan biaya dari 10 sampai 20 juta Yen setiap kapal (35 juta sampai 70 juta rupiah).

Perusahaan Jepang “Taiheiyo Katun Co” dan “Mitsubishi Oil Co” minimal akan memperoleh US$ 30 juta dari perusahaan asuransi akibat terdamparnya kapal tangki minyak raksasa “Showa Maru”.
Para pejabat Kementerian Perhubungan Jepang memperkirakan uang asuransi yang diperoleh perusahaan kapal Jepang itu cukup bagi pembayaran kompensasi pengotoran laut di perairan pantai Indonesia, Malaysia dan Singapura dan mengganti segala kerugian keuangan yang diakibatkan kejadian itu.

Kejadian yang serupa katanya pernah terjadi pada kapall ngki terbesar di dunia milik Liberia “Torrey Canyon” yang kandas di Terusan Inggris pada bulan Maret 1969, pemilik kapal tangki itu membayar ganti rugi US$ 14 juta.
Kapal ini mencurahkan kira-kira 60.000 ton minyak mentah yang menimbulkan pengotoran laut di dekat perairan Inggris dan Perancis, demikian dinyatakan. (SH)