Menteri Malaysia: Titik Berat Pendidikan pada “Nilai”

Menteri Malaysia: Titik Berat Pendidikan pada “Nilai”

Mendikbud RI Muhadjir Effendy saat menyambut kunjungan Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee bin Malik, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (11/1). [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee bin Malik menyatakan bahwa pendidikan di era Malaysia baru, pasca pergantian pemegang tampuk kekuasaan, menitikberatkan pada isu nilai. Maszlee bin Malik menyampaikan hal tersebut pada kunjungannya di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Jumat (11/1).

“Pembangunan pendidikan yang terpisah dengan nilai hanya akan melahirkan robot-robot yang bernyawa,” kata Malik.

Ia berpendapat “robot-robot yang bernyawa” ini yang akan membawa kepada konflik, korban nyawa, kerakusan, ketamakan.

“Untuk itu, pendidikan harus disertai nilai. Dan budaya itu sendiri adalah salah satu dari pada wahana untuk menyampaikan nilai,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Malaysia juga menyampaikan kekagumannya pada pendekatan Indonesia dalam meletakkan kebudayaan dan pendidikan di bawah satu kementerian. Ia mengingatkan bahwa Perdana Menteri negerinya, untuk kedua kali, telah berbicara dua jam lebih dengan Presiden RI Joko Widodo, yang terepenting antara lain membahas tentang nilai.

Ubah Generasi Mendatang
Ia menyampaikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bahwa di Malaysia pendidikan harus bisa mengubah generasi yang akan datang. Ia mencontohkan pendidikan di Jepang, bagaimana setelah keruntuhan perang dunia kedua mereka bangkit untuk menjadi negara atau bangsa yang bisa mendominasi dunia, semuanya bermula dengan nilai.

“Rajin bekerja, amanah, disiplin, kebersihan, komitmen dan juga mempunyai sikap integritas yang tinggi. Itu semuanya bermula dari pendidikan. Penerapan pendidikan di Malaysia juga ditekankan pada pembinaan karakter,” ujarnya.

Malaysia, katanya, saat ini sedang berupaya mewujudkan sebagai bangsa yang membaca. “Bukan membaca karena ada ujian, bukan membaca karena mau mengajar, di sekolah ataupun di jenjang kuliah, tetapi membaca karena menjadi gaya hidup, cara hidup, way of life.

“Target kami pada tahun 2030, masyarakat Malaysia akan menjadi masyarakat membaca nomor satu di dunia, dan ini penting,” tuturnya.

Menurut Maszlee bin Malik, dalam hal kerja sama bidang Pendidikan, Indonesia dan Malaysia akan melakukan pertukaran pelajar, guru, dan kepala sekolah.

“Kita akan saling belajar satu sama lain,” ucap Menteri Pendidikan Malaysia.

Pendidikan Anak Indonesia di Malaysia
Mendikbud RI menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Malaysia yang mengizinkan pendirian Community Learning Center (CLC) di Malaysia dalam rangka menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Sampai saat ini terdapat 306 CLC dengan jumlah siswa sebanyak 16.130 orang untuk jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah pertama.
Pemerintah Indonesia mengharapkan dukungan Pemerintah Malaysia agar mengizinkan pendirian CLC untuk jenjang Pendidikan Menengah Atas. Terkait permintaan tersebut, Pemerintah Malaysia memberi tanggapan positif dan akan berkoordinasi secara internal dengan pihak-pihak terkait.

Mendikbud RI Muhadjir juga memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Menteri Pendidikan Malaysia, Maszlee bin Malik, yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjunginya di awal tahun 2019.

“Mudah-mudahan kehadiran ini akan membawakan manfaat yang baik untuk Indonesia maupun Malaysia dan kerja sama antara dua negara serumpun akan terus terjalin,” tutur Mendikbud saat menyambut kunjungan Menteri Pendidikan Malaysia, di Kantor Kemendikbud, Jakarta.

Muhadjir mengingatkan bahwa kerja sama bidang pendidikan dan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia sudah terjalin sangat baik, lanjut, seperti para siswa Indonesia sudah beberapa kali tampil dalam ajang kebudayaan di Malaysia. Selain itu, juga ada pertukaran pelajar yang akan ditingkatkan dengan mekanisme youth camp dan terdapatnya sekolah Indonesia di Malaysia.

“Kita juga saling bertukar pikiran tentang kebudayaan,” ujar Mendikbud RI.

Menteri Pendidikan Malaysia menyampaikan hal serupa, bahwa hubungan antara kedua negara adalah istimewa, satu rumpun, satu leluhur, dan bersaudara.

“Pembinaan sejarah di masa depan bermula pada hari ini, dan seharusnya ada titik permulaan terhadap pembinaan sejarah masa depan. Kita mau atau pun tidak mau, pembinaan sejarah, pembinaan peradaban, harus dimuliakan dengan pendidikan,” kata Maszlee bin Malik.

Ia menambahkan, pendidikan memainkan peran penting, bukan sekadar masa depan negara, melainkan juga mencorakkan peradaban yang bakal dimunculkan.

”Di sinilah kita melihat bahwa dengan kita berkongsi, relatif banyak persamaan dari segi bahasa, budaya, dan juga dari segi psikososial. Kita harus melihat bahwa abad-abad ke depan ini simbiosis antara kedua negara, kedua bangsa, untuk menjadi dentuman baru kepada peradaban dunia,” kata Maszlee bin Malik. (whm/sp)