Melihat Kejayaan Maritim di Museum Bahari Yogyakarta

Melihat Kejayaan Maritim di Museum Bahari Yogyakarta

Museum Bahari Yogyakarta. (Ist)

 

SHNet, Yogyakarta- “Nenek Moyangku Orang Pelaut. Mengarungi ombak dua samudera”, sepenggal lirik lagu Ciptaan Ibu Soed ini sempat tenar di kalangan anak-anak sekolah di era 1980-an.

Lagu ini menggambarkan betapa nenek moyang Bangsa Indonesia merupakan pelaut yang ulung. Bahkan dalam sejarah Indonesia, ada kerajaan maritim terbesar se- Asia Tenggara pada zamannya. Nama kerajaan tersebut adalah kerajaan Sriwijaya.

Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan. Laut menjadi salah satu komponen penting yang harus dijaga.

Kedaulatan negara bisa jadi akan goyah seiring lemahnya kekuatan sektor kelautan Indonesia. Oleh sebab itu, dibentuklah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang bertanggung jawab atas operasi pertahanan negara di wilayah laut negara Indonesia. Laut yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.

Bila kita berkunjug ke Yogyakarta, jangan lupa singgah di Museum Bahari yang merupakan salah satu destinasi sejarah. Terletak di Jalan R.E Martadinata 69 Wirobrajan, Yogyakarta. museum ini tak jauh dari pusat kota, tidak lebih dari dua kilo meter dari Titik Nol KM Yogya.

Pendirian Museum Bahari Yogyakarta diprakarsai oleh Laksamana Madya TNI Yosafat Didik Heru Purnomo. Sejak diresmikan pada 25 April 2009 silam, museum ini mulai beroperasi dengan tujuan untuk membuka wawasan dan pengetahuan kemaritiman bagi generasi muda. Dengan harapan, generasi muda nantinya bisa memberdayakan dengan sebaik-baiknya potensi yang tersedia di Laut Indonesia.

Museum tersebut memiliki empat ruang utama yang dapat kita jelajahi. Antara lain Ruang Koleksi Lantai I, Ruang Koleksi Lantai II, Ruang Audiovisual, dan Ruang Anjungan Kapal. Dengan mengunjungi keempat ruangan ini, kita akan menambah khazanah pengetahuan yang kita miliki.

Sebagian besar koleksi yang dipamerkan museum Bahari Yogyakarta adalah koleksi pribadi Laksamana Madya TNI Yosafat Didi Heru Purnomo, selaku pendiri dari museum ini. Sebagian lain didapatkan dari hibah berbagai pihak, salah satunya hibah dari Museum Bahari Surabaya.

Koleksi yang dipamerkan di museum ini cukup banyak dan beragam. Beberapa koleksi antara lain kenang-kenangan dari lawatan orang luar negeri, senjata meriam, kemudi kapal, miniatur berbagai barang yang biasanya tersedia di kapal perang, dan kelengkapan-kelengkapan yang dipakai TNI. Koleksi tersebut kita jumpai di Ruang Koleksi Lantai I dan II.

Sementara itu, di ruang audio visual dapat kita nikmati suguhan film dokumentasi. Film dokumentasi yang tersedia di museum ini tentu dokumentasi yang berhubungan dengan dunia kelautan, termasuk dokumentasi TNI AL yang menjaga laut Indonesia.

ruang paling menarik di museum ini adalah Ruang Anjungan Kapal yang terletak di atas ruang audio visual museum Bahari Yogyakarta. Ruang Anjungan Kapal Museum Bahari didesain selayaknya anjungan kapal sebenarnya. Di ruang ini, kita diajak untuk menengok replika ruang kendali kapal. Tempat dimana komando pusat berasal.

Museum ini merupakan rekomendasi bagi kita yang mau tahu sejarah dengan biaya murah. Dengan mengeluarkan Rp 2000,- saja, kita bisa menjelajahi dan mengambil pelajaran dari Museum Bahari Yogyakarta ini. Museum ini bisa dikunjungi setiap hari Selasa sampai Minggu, pukul 8.30-15.30 WIB. (Stevani Elisabeth)