Melantai di Bursa, Saham PT Estika Tata Tiara Naik 41, 18%

PETINGGI - Para petinggi PT Estika Tata Tiara, Tbk (KIBIF) diantaranya Yustinus Sadmoko bersama dengan Direktur Pemasaran PT Estika Tata Tiara, Tbk Juanita Gracianti Adoe, Corporate Secretary PT Estika Tata Tiara, Tbk, Frederik Wattimena didampingi oleh Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia Hasan Fawzi dan Direktur IT dan Manajemen Risiko PT Bursa Efek Indonesia Fithri Hadi, di Jakarta, Kamis (10/1). (Dok/SHNet)

Melantai di Bursa, Saham PT Estika Tata Tiara Naik 41, 18%

SHNet, JAKARTA – PT Estika Tata Tiara Tbk   mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 86,11 kali dari  porsi pooling, saat melantai  di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Kamis (10/1). Pada perdagangan perdaa, harga saham dengan kode BEEF itu naik hingga 41,18%.

Produsen dan distributor makanan olahan terintegrasi bermerk KIBIF itu menawarkan sebanyak 376.862.500 saham baru atau setara   20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. “Kami bersyukur, saham KIBIF sangat diminati investor sehingga mengalami oversubscribed.  Hal ini menandai investor percaya pada perusahaan,” kata Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk Yustinus Sadmoko  di Jakarta, pada Kamis (10/1).

Ia mengatakan,  dana yang diperoleh  KIBIF akan digunakan  untuk memperluas diversifikasi bisnis pengolahan serta perdagangan sapi, ayam, ikan, frozen dough, dan agribisnis   yang tersebar di  Subang (Jawa Barat), Salatiga (Jawa Tengah), dan Cikarang (Jawa Barat).

“IPO adalah  salah satu realisasi  strategi bisnis kami  dalam memperluas cakupan pasar. Tingginya minat  investor menjadi bukti nyata  bahwa potensi pasar distributor  dan pengolahan makanan di Indonesia sangat menjanjikan,” jelas Yustinus.
Mengutip data Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Yustinus optimsitis,  industri makanan dan minuman akan menjadi kunci pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019.

Tahun 2019 juga akan menjadi tahun pertumbuhan  investasi, menyusul  perpindahan industri, termasuk industri peternakan dari Tiongkok ke Indonesia sehingga  investasi akan bertumbuh.

Disebutkan, sejak merampungkan proses IPO di BEI, pada Desember 2018,  KIBIF secara konsisten telah melakukan langkah-langkah konkret melalui peningkatan kapasitas  dan target produksi  untuk memperluas cakupan pasar.
Saat ini, ruang produksi   telah  terpakai untuk kapasitas 10 ton per hari. Setelah IPO di bursa, katanya,  kapasitas penyimpanan KIBIF akan ditingkatkan menjadi 40 ton per hari dengan utilisasi mencapai 100%.

Menurut Yustinus, KIBIF juga secara berkelanjutan akan terus meningkatkan  produksi dan perluasan jaringan distribusi  untuk menghasilkan makanan olahan berkualitas, halal, dan berprotein yang dikemas secara inovatif sehingga sesuai kebutuhan masyarakat.

Sebagai produsen dan distributor makanan olahan terintegrasi, lanjutnya, KIBIF   melalui salah satu anak perusahaannya, PT De Glow International telah mendapatkan kepercayaan dan penghargaan  Sertifikat   ISO 9001:2015  untuk Quality Management System dari SAI Global AS/NZS,  ISO 22000-2005,  Safety Management System 2017-Australia,  dan  Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Selain itu, KIBIF juga telah memperoleh Sertifikasi Hazard Analysis & Critical Control Point (HACCP),  sertifikat dari Badan Sertifikasi SGS,  Sertifikat Persyaratan MGMT, dan  Sertifikat SYS.

KIBIF  secara berkelanjutan terus meningkatkan mutu serta  memperluas penetrasi pasar  dari hulu  ke hilir. Pelanggan produk KIBIF  tersebar di semua segmen  pasar, di antaranya   pasar tradisional, pasar  modern, hotel, restoran, katering, industri pengolahan pangan, serta distributor dan retailer pangan di Indonesia. Harga  yang ditawarkan  sangat kompetitif  dan bersaing.

“Kami menjalin kemitraan strategis dengan BNI Syariah dalam rangka  meningkatkan kesejahteraan peternak melalui program pembiayaan sapi potong di Jawa Barat. Kami memfasilitasi akses permodalan para peternak ke  Bank BNI Syariah Cabang Astana Anyar Bandung,” katanya.  (Nonnie Rering)