Hidup Sederhana Jadi Pola Dunia

Pidato Akhir Tahun Presiden

Hidup Sederhana Jadi Pola Dunia

Jakarta, 2 Januari 1975 – Presiden Soeharto mengakui Indonesia tidak mungkin meniadakan sama sekali inflasi dalam keadaan dunia penuh krisis seperti sekarang karena sebagai negara yang sedang membangun masih perlu mendatangkan barang dari luar negeri.

Dalam pidato akhir tahun 1974 melalui TVRI dan RRI Selasa malam, Presiden berpendapat, yang harus diusahakan adalah mengendalikan laju inflasi agar tidak mengganggu stabilitas nasional dan pelaksanaan pembangunan.
Tahun 197 merupakan tahun yang penting bagi bangsa Indonesia dimana pemerintah telah berhasil mengatasi segala tantangan dan cobaan terhadap stabilitas ekonomi, politik dan keamanan negara, kata Presiden.

Meskipun banyak hambatan dan tantangan tahun 1974 dinilai Presiden tetap menunjukkan kemajuan perbaikan tingkat hidup rakyat banyak serta makin cepatnya roda pembangunan.

Kepercayaan
Dalam usaha meredakan inflasi pemerintah pada permulaan Repelita II (awal April 1974) mengambil kebijaksanaan ekonomi. Dibidang perkreditan diadakan pembatasan kredit secara selektif tanpa menghambat proyek pemerintah, suku bunga kredit tertentu serta suku bunga deposito dinaikkan berbagai bea masuk dan pajak diturunkan, kebijakan penyediaan barang pokok seperti beras, gula, terigu, pupuk, bahan bangunan dan lain-lain.

Dalam tahun 1974 ini, meskipun laju inflasi mencapai 33% namun sebesar 15,6% adalah kenaikan dari 3 bulan pertama tahun 1974 atau rata-rata 5,2% sebulan, sedangkan untuk 9 bulan terakhir ini kenaikannya adalah hanya sekitar 14,5% atau rata-rata 1,6% sebulan.

Usaha meredakan inflasi, menurut penilaian Presiden dapat dicapai Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap rupiah semakin besar, terbukti meningkatnya angka tabungan dan deposito bank dalam sembilan bulan terakhir.

Kegairahan
Sejalan dengan pengendalian inflasi, pemerintah mengadakan penyesuaian harga barang tertentu dengan tetap memperhitungkan terpeliharanya stabilitas harga umumnya. Tindakan itu dimaksudkan meningkatkan kegairahan berproduksi sehingga kebutuhan rakyat akan barang pokok bisa terpenuhi.

Dewasa ini Indonesia tengah membangun tambahan pabrik pupuk, gula serta memperluas areal pertanian. Apabila program itu berjalan lancar, dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan bisa memenuhi kebutuhan sendiri akan pupuk, beras, gula dan lain-lain. Dengan demikian harga subsidi tidak perlu lagi atau jumlahnya akan sangat kecil.

Perbaikan ekonomi serta berhasilnya pembangunan membuat kemampuan keuangan negara bertambah besar. Hal itu memungkinkan Indonesia mampu menangani pembangunan lebih luas menggarap masalah sosial serta menaikkan gaji pegawai negeri, ABRI dan pensiun lebih cepat dari yang diduga.

Kerjasama ekonomi luar negeri
Keadaan ekonomi yang semakin baik, memungkinkan Indonesia dapat melaksanakan kerjasama ekonomi dengan negara lain. Dalam tahun 1974 Indonesia mulai mampu menerima pinjaman luar negeri untuk membangun dengan syarat kurang lunak.
Persetujuan pinjaman Uni Sovyet kepada Indonesia yang ditandatangani Adam Malik beberapa hari yang lalu dinilai oleh Soeharto sebagai persetujuan pertama dengan negara komunis dalam rangka perluasan kerjasama ekonomi. Presiden yakin hal itu akan disusul dengan persetujuan lain.

Asahan
Kesepakatan Indonesia dengan pengusaha Jepang tentang syarat pelaksanaan pembangunan Proyek Asahan disebut Presiden sebagai langkah maju.
Dalam tahun 1974 Indonesia telah pula melakukan langkah kearah kerjasama ekonomi dengan negara Timur Tengah, Iran dan Saudi Arabia, juga menjadi anggota Bank Pembangunan Islam.

Perluasan kerjasama ekonomi dengan berbagai negara itu merupakan salah satu bukti bahwa ekonomi kita memang terus bergerak kearah yang makin baik, demikian Presiden.
Diingatkan, kewaspadaan dan kerja keras rakyat Indonesia amat penting. “Sebagai bangsa kita tidak boleh lengah.

Berbagai krisis dunia belum reda, segala kemungkinan masih terbuka. Jika beberapa waktu lalu saya mengajak mengembangkan pola hidup sederhana maka pelbagai krisis dunia sekarang telah menggugah pikiran dunia untuk juga mengembangkan pola hidup sederhana dalam ukuran dunia”.

Keprihatinan
Tahun 1974 telah kita memasuki dengan penuh keprihatinan dan sekarang tahun 1974 akan kita tingkatkan dengan perasaan yang lebih lega. Kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita diberi kekuatan dalam menghadapi saat yang cukup sulit, kita bersyukur karena kita dilimpahi karunia dengan alam tanah air yang kaya ini. Perasaan syukur itu harus kita tunjukkan dengan semangat bersatu pada dengan sikap prihatin dan bekerja keras dimasa yang akan datang.

Dan hanya dengan persatuan, dengan keprihatinan, dengan kemauan untuk memperbaiki kekurangan dan bekerja keras masa depan yang lebih baik akan berada di tangan kita, demikian pidato akhir tahun Presiden. (Sinar Harapan)