Gaji Tak Dibayar, Dosen Maruly Tuntut Unila dan Kemenristek Dikti Rp 12...

Gaji Tak Dibayar, Dosen Maruly Tuntut Unila dan Kemenristek Dikti Rp 12 Milyar

Dosen Fisip Unila, Bandar Lampung, Lampung, Maruly Hendra Utama. (Ist)

BANDAR LAMPUNG- Dosen Fisip Unila, Maruly Hendra Utama menuntut ganti rugi Rp 12 milyar kepada Universitas Lampung dan Kemenristek Dikti. Hal ini dilakukannya karena selama 6 bulan berturut-turut gaji yang seharusnya diterima sebesar Rp 12 Juta/bulan beserta THR tidak tidak dibayarkan oleh Unila. Bukan itu saja, Maruly Hendra Utama diberhentikan sementara oleh Unila dan Kemenristek Dikti. Hal ini disampaikannya seusai sidang mediasi di PN Tanjung Karang, Bandar Lampung, Lampung, Kamis (24/1) pada kasus Perdata Nomor Register Perkara 180/Pdt.G/2018/PN.Tjk.

“Gaji tidak dibayar sampai sekarang. Hari ini dalam sidang mediasi hakim meminta saya untuk membuat perincian tertulis apa yang saya minta. Minggu depan kami bertemu lagi dengan pihak Kemenristek Dikti dan Unila dipimpin pak hakim mediasi,” jelasnya.

Sebelumnya Maruly Hendra Utama juga sudah menggugat Unila karena tunjangan keluarga, tunjangan jabatan, tunjangan beras dan tunjangan remunerasi tidak dibayarkan selama 22 bulan sebesar Rp 266.432.498. Gugatan pertama ini sudah sampai ke tingkat Kasasi di Mahkamah Agung Jakarta.

Padahal dalam keterangan saksi Zainal Arifin, S.Pd, yang menjabat sebagai pembuat daftar gaji Unila dalam kasus gugatan Nomor Register Perkara 108/Pdt.G/2017/PN.Tjk secara tegas diakui mengenai hak apa saja yang harus diterima Maruly Hendra Utama setiap bulan adalah Gaji Pokok sebesar Rp 3.350.000, Tunjangan Istri 335.000, Tunjangan Anak Rp 134.024, Tunjangan Fungsional Rp 700.000, Uang Makan Rp 600.000, Tunjangan Beras Rp 289.680, Sertifikasi Dosen Rp 3.350.600 dan Remunerasi sebesar Rp 3.350.600. Total Rp 12.110.568 per bulan.

Dipecat Sementara

Kepada SHNet dilaporkan, gugatan tersebut dilakukan Maruly Hendra Utama pada bulan Juli 2018 lalu, setelah mengetahui dirinya dipecat sementara oleh pihak Unila dan Kemenristek Dikti dan tidak menerima haknya di atas.

Hal ini terjadi karena Maruly menjalankan hukuman sebagai narapidana dari bulan Oktober 2017 sampai April 2018 atas gugatan pencemaran nama baik terhadap Unila pada tahun 2017 lalu.

Kasus pencemaran nama baik ini terjadi setelah pada bulan September 2017 Maruly Hendra Utama membongkar lewat akun facebooknya,–kasus dugaan pemerasan saat pemilihan legislatif pada tahun 2014 yang dilakukan oleh oknum dosen Fisip Unila yang kemudian hari menjadi pejabat di Fisip Unila. (WW)