Enam Rekomendasi dari Rakernas Kemenristekdikti 2019

Enam Rekomendasi dari Rakernas Kemenristekdikti 2019

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi 2019, di Universitas Diponegoro, Semarang. (Dok. Humas Kemenristekdikti)

 

SHNet, Semarang- Mengawali tahun 2019, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2019.

Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus kerja Pemerintah di tahun 2019. Dengan demikian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia utamanya SDM di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi.

Rakernas 2019 ini mengambil tema “Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang Terbuka, Fleksibel, dan Bermutu” berlangsung di Universitas Diponegoro Semarang, 3-4 Januari 2019.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa Rakernas 2019 menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan Kemenristekdikti untuk mempersiapkan diri secara matang dalam menghadapi era disrupsi yang berdampak pada bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi.

Rakernas 2019 ini dihadiri sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya.

Dalam Rakernas tersebut lahirlah enam rekomendasi yang menjadi fokus Kemenristekdikti di tahun ini.

Pertama, pembelajaran dan kemahasiswaan. Dalam hal ini, ada penyesuaian sistem dan kurikulum yang diintegrasikan dengan sistem pembelajaran online ataupun blended learning tanpa menambah SKS. Penyesuaian ini termasuk fleksibilitas dalam penerapan model semester atau triwulan.

Selain itu, penyiapan kebutuhan lulusan pendidikan tinggi yang memiliki kompetensi dan kemampuan kerja dan sikap kerja (employability) dengan pemberian sertifikasi, peningkatan prestasi kemahasiswaan, dan pemberian pengalaman profesional.

Kedua, kelembagaan Iptek dan Dikti. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh perguruan tinggi antara lain, menyesuaikan Prodi dan kurikulum dengan mengintegrasikan literasi baru untuk merespon Revolusi Industri 4.0, menyiapkan diri menyambut beroperasinya perguruan tinggi luar negeri dan sebagainya.

Ketiga, Sumber Daya Iptek dan Dikti. Keempat, riset dan pengembangan. Para pimpinan perguruan tinggi, L2Dikti dan LPNK didorong untuk lebih meningkatkan kualitas publikasi dengan cara mendorong dosen, para peneliti dan mahasiswa untuk melakukan publikasi pada jurnal yang bereputasi.

Kelima, inovasi. Perguruan tinggi mempersiapkan implementasi RPERMEN Manajemen Inovasi Perguruan Tinggi. Aktor Inovasi terutama yang merupakan stakeholders Ditjen Penguatan Inovasi (PT, Lembaga Pemerintah Non Kementerian atau LPNK, bisnis dan komunitas) wajib menggunakan Tingkat Kesiapan Inovasi (KATSINOV) sebagai alat ukur produk inovasi dan calon produk inovasi sebagai sarana penentuan kebijakan.

Keenam, pengawasan internal Kemenristekdikti. Rakernas 2019 diikuti sekitar 350 peserta yang berasal dari pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Kemenristekdikti mulai dari, pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemenristekdikti, Kepala LPNK dalam koordinasi Kemenristekdikti, Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi, Ketua Komisi VII, Ketua Komisi X, Ketua DPD RI, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Balitbang/Deputi Kementerian terkait, BUMN, serta instansi terkait lainnya. (Stevani Elisabeth)