Desa Kalisari Gunakan Ampas Tahu Menjadi Kerupuk

Desa Kalisari Gunakan Ampas Tahu Menjadi Kerupuk

SHNet, Jakarta –  Sedikitnya ada 250 UKM yang terdapat di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Bangumas, Jawa Tengah, dengan luas  204,355 Ha ini semuanya memproduksi tahu. Ternyata, pembuatan tahu di Desa Kalisari ini memiliki cerita tersendiri.

Dimana produksi tahu di desa yang dapat ditempuh lima jam perjalanan dengan menggunakan kereta api ini, sudah ada sejak pada jaman Belanda. Namun, tidak diketahui dengan pasti tahun berapa Belanda mulai masuk ke desa Kalisari ini dan mulai kapan juga mulai melakukan pembuatan tahu yang dikenal sangat nikmat dari Desa tersebut.

Konon cerita dari sesepuh warga Desa Kalisari, bahwa dulunya ada seseorang dari negara Cina yang bernama Baba Menang yang membawanya ke desa tersebut. Dan, sejak kini tahu itu dibuat sudah turun temurun tanpa diketahui siapa yang mengawali pembuatan tahu tersebut.

Desa Kalisari ini warganya sangatlah kreatif, hal ini diperlihatkan dengan diproduksinya limbah tahu yang membuat dampak negatif untuj masyarakat di desa tersebut.

Pengolahan limbah tahu itu selanjutnya oleh warga dijadikan produksi yang sangat bernilai, yaitu dijadikannya olahan ampat tahu ini menjadi kerupuk. Dimana kerupuk yang dibuat dari ampas tahu ini dicampur dengan tepung tapioka ditambah dengan bumbu-bumbu penyedap yang tentunya semua bumbu berada di dapur.

Salah satu perajin kerupuk sebut saja namanya, Herman (52) yang setiap harinya membuat kerupuk lebih dari 100 kg. Dimana Herman dibantu istri dan tiga karyawannya membuat kerupuk tahu setiap harinya. Dimana bahan kerupuk tahu itu didapat dari 50 kg dari ampas tahu dicampur dengan 50/kg tapioka. Dimana kedua bahan itu dicampur dengan ditambah bumbu.

Menurut Herman, dari 100 kg bahan kerupuk itu, bila sudah kering akan menghasilkan kerupuk dengan berat 55 kg saja. Usaha Herman ini, adalah kepemilikan perorangan. Dimana kerupuk yang telah matang ini selanjutnya akan diambil oleh pelanggan tetap.

Perlu diketahui bahwa kini bahan utama proses pembuatan tahu, kedelai, sebagaian besar masih menggunakan kedelai import dari Amerika. Kedelai lokal ini hanya dijadikan campurannya saja.

Namun semua itu ada penyebabnya, menurut penyelasan Herman, penggunaan kedelai import ini dikarenakan suplai kedelai lokal yang masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di desa Kalisari. (Maya Han)