Ceramah Di Yogyakarta Justru Mengkritik Dunia Mahasiswa

Lanjutan Perkara Syahrir

Ceramah Di Yogyakarta Justru Mengkritik Dunia Mahasiswa

Jakarta, 7 Januari 1975 – Dengan menarik pelajaran yang telah terjadi di Pakistan dan India, maka Indonesia masih mempunyai harapan di masa depan untuk mencapai perbaikan keadilan sosial, kata Drs. Syahrir dalam persidangan ke-6 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Selasa pagi.

Dikatakan oleh tertuduh dalam ceramahnya di Fakultas Ekonomi Gajah Mada pada tanggal 9 Desember 1973 yang kemudian ditingkatkan menjadi diskusi dengan Group Diskusi Yogya bahwa di Pakistan setelah rezim yang baru berkuasa terdapat perubahan dari ketidak adilan sosial menjadi sedikit-sedikit menuju kepada keadilan sosial.
Sedangkan di India hal seperti di Pakistan tersebut tidak tampak sama sekali. Pemerintah baru tidak berhasil membawa perubahan yang berarti dan rakyat sama sekali tidak mengalami perbaikan kehidupan sosial.

Saya mengemukakan dalam ceramah saya itu bahwa kita di Indonesia masih mempunyai harapan, masih ada suatu elemen harapan dan untuk itu harus tetap dibangkitkan suatu semangat baru untuk mencapai elemen harapan itu antara lain dengan membentuk pemikiran di kalangan mahasiswa yang sehat agar turut memikirkannya.

Tugas
Diuraikan oleh Syahrir bahwa misalnya di Brazilia, mereka sudah berhasil meneliti dengan mengambil 20% orang yang paling kaya dari seluruh penduduk, 40% digolongkan kepada golongan menengah dan 40% bagi golongan terendah penghasilannya. Untuk itu masing-masing mereka sudah berhasil menentukan berapa penghasilan tiap-tiap golongan perkapita.

Barulah dapat ditentukan, apakah sudah terdapat keadilan sosial atau tidak.
Untuk itu mahasiswa perlu mengadakan penelitian untuk membantu memecahkan persoalan ekonomi dan keuangan dalam rangka turut berpartisipasi dalam pembangunan. “Kalau tidak, sia-sialah mahasiswa dalam tugasnya selaku mahasiswa”, kata Syahrir.
Syahrir berpendapat bahwa di Indonesia pengamatan sejarah ekonomi belum mendapat perhatian penuh.

Dalam ceramahnya itu yang berjudul “Strategi Pembangunan” diuraikan bahwa Strategi Pembangunan kita sekarang masih Gross National Product Oriented, demikian tertuduh menjawab pertanyaan hakim sekitar isi ceramahnya tersebut.
Atas pertanyaan Hakim Ketua Anton Abdurahman Putera SH, Syahrir menjawab bahwa ia tidak benar mengkritik strategi pembangunan kita dala Pelita, melainkan menjelaskan hal itu semuanya berdasarkan teori ekonomi yang datanya diperoleh di Fakultas Ekonomi UI Salemba Jakarta, dimana dia menjadi seorang aissten pribadi seorang professor.

Dikemukakan bahwa ia pernah melihat angka pengangguran tercantum di bagian statistik di fakultas tersebut yang mencatat hanya 3 sampai 4 persen, sedangkan menurut tertuduh hal itu jauh lebih rendah dari pada kenyataan yang ada.

Kritik
“Saya sebenarnya dalam ceramah itu malahan mengkritik dunia mahasiswa”, kata Syahrir. “Saya melihat bahwa dunia mahasiswa hanya membentuk forum untuk mendidik koruptor di masa depan”, kata tertuduh menjawab pertanyaan hakim ketua, mengapa dia menguraikan hal di atas justru di Fakultas Ekonomi Gama di Yogyakarta.

Ditambahkan oleh Syahrir dengan gamblang di hadapan majelis, kritiknya terhadap dunia mahasiswa melalui sebuah contoh tentang pemberian subisidi kepada universitas negeri maupun swasta. Subisidi tersebut menurut tertuduh dapat dimanfaatkan dengan mengadakan kunjungan pemimpin mahasiswa ke lain universitas dan sebaliknya.

Dengan demikian, terdapatlah suatu “kesukuan universitas” dalam arti kesatuan pendapat dalam menanggapi suatu masalah masyarakat dengan tetap menghormati almamaternya masing-masing. Dikatakan oleh Syahrir dalam persidangan bahwa dia melihat tingkah laku para mahasiswa atau dunia universitas pada umumnya tidak berbeda dengan apa yang diperbuat oleh golongan di luar mahasiswa yang justru dikritik oeh mahasiswa itu sendiri.

Cara dunia universitas demikian itu saya merasa perlu mengemukakannya kepada peserta diskusi Yogya waktu itu agar pemberian subisidi kepada universitas tidak digunakan secara serampangan akan tetapi agar benar-benar bermanfaat bagi pertumbuhan universitas yang wajar dalam mengabdi kepada masyarakat sesuai dengan salah satu unsur dari “Tridharma Universitas”, kata Syahrir.

Apakah saudara memang diminta untuk membicarakan hal itu dalam ceramah tersebut ?, tanya hakim ketua. “Betul, memang saya diterima di sana untuk membicarakan ceramah yang judulnya ditentukan oleh Panitia Pelaksana Diskusi”.
Tanya : Apakah saudara tidak tanyakan kepada mereka mengapa judulnya mengenai “Strategi Pembangunan” dan tidak judul lain ?.

Jawab : Oh……, tidak saya tanyakan jawab Syahrir.
Tanya : Melihat uraian, saudara tersebut rupanya saudara memang sudah menguasai soal strategi pembangunan, hubungan luar negeri dan masalah kemahasiswaan, bukan ?, tanya hakim ketua. Menguasai betul-betul sih tidak Pak Hakim, jawab Syahrir dengan tenang sambil melemparkan semyum kepada majelis. (SH)