Artikel POP Langgar Kehormatan Presiden

Perkara “Versi Baru Silsilah” Pak Harto

Artikel POP Langgar Kehormatan Presiden

Jakarta, 15 Januari 1975 – Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Majalah POP Rey Hanityo umur 35 tahun kelahiran Tegal yang memuat “versi baru” silsilah Presiden Soehartodi majalah yang dipimpinnya dan telah dibantah oleh Pak Harto dan keluarga di hadapan pers akhir tahun 1974 yang lalu, hari Rabu mulai diperiksa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Terlebih dahulu Hakim Ketua Chabib Syarbini SH bertanya mengenai identitas tertuduh, kemudian berkata : “Disini kami melihat ada dua orang Pembela. Apakah saudara telah memberikan kuasa kepada kedua Pembela ini untuk mendampingi saudara selama persidangan perkara ini ?”.
Jawab : Betul, saya telah memberikan surat kuasa khusus agar kedua Pembela tersebut mendampingi saya.

Setelah itu Hakim Ketua yang didampingi oleh Hakim Anggota Abdullah SH dan Hargadi SH serta Panitera Toegijo mempersilahkan Jaksa/Penuntut Umum Drs. Gatot Hendrarto membacakan Surat Tuduhan.

Primer
Bahwa tertuduh Rey Hanityo bulan Oktober 1974 setidaknya tahun 1974 di daerah hukum Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau setidaknya di wilayah DKI Jakarta Raya telah dengan sengaja melakukan penghinaan terhadap Presiden Seoharto dengan cara atau perbuatan sebagai berikut :

Dalam kedudukannya selaku Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab POP (Peragaan Olahraga dan Perfilman) dengan menggunakan media majalah POP edisi Oktober 1974 tahun II No. 17 terutama pada halaman 8, 9, 58, 60 dan 61 telah menyebar luaskan suatu artikel berjudul “Teka-teki Sekitar Garis Silsilah Soeharto”, “Kulo sampun trimah dados tiyang dusun” (terakhir ini digambarkan sebagai ucapan Pak Harto kepada Hamengkubuwono IX).

Dalam artikel tersebut antara lain termuat kata/kalimat/uraian sebagai berikut :
a). Sub judul obrolan Pak Besut : Tercatatlah suatu peristiwa ketika Pak Harto ziarah ke makam Nyai Prawirawihardjo (Ibu cilik Pak Harto) dalam rangka upacara ngijing yang jatuh pada seribu hari wafatnya. Pada kesempatan itu Pak Harto tidak melupakan berziarah pula ke makam Ibundanya Nyai Atmopawiro yang terletak di Makam Gunung Pule, “Ini Makam Ibu saya”, kata Pak Harto kepada Pak Besut alias Wardoyo, Redaktur Harian Kedaulatan Rakyat Yogya yang dua minggu sekali muncul dengan obrolannya melalui RRI Studio Nusantara II Yogyakarta.

Mendengar itu, Besut bertanya kepada Pak Harto : “Kalau begitu sang ayah dimakamkan dimana ?”. mendengar pertanyaan itu Pak Harto kemudian menjawab pelan, “tidak di sini“.Dialog antara Pak Harto dan Besut tersebut yang terjadi pertengahan September 1973 di atas makam Ibunda Pak Harto ini, lalu diobrolkan oleh Pak Besut lewat acara khusus melalui RRI Yogya yang diberinya judul “Mikul Duwur Mendem Jero”.

b). Sub judul kesaksian kelahiran Soeharto kecuali BPH Hadinegoro yang berhasil ditemui oleh wartawan POP adalah Raden Wedono, abdi dalem juru serat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengurusi bidang keuangan para abdi dalem Keraton yang kemudian mengawini adik Riopadmo Dipuro. Beliau inilah yang bernama Rio Padmodipuro ini yang menurut tulisan dalam POP tersebut digambarkan sebagai ayahanda Pak Harto tetapi tidak benar menurut Pak Harto sendiri.

c). Digambarkan oleh POP tersebut bahwa telah pernah terjadi pembicaraan antara Pak Harto dan Pak Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dimana HB IX memperlihatkan suatu silsilah Pak Harto yang masih keluarga Keraton dan bertanya : “Saya harus panggil apa kepada Presiden dan dijawab oleh Pak Harto”, “Ya, saya sudah tahu, soal itu tak perlu diungkit kembali. Saya terima jadi orang desa saja”.

d). POP menggambarkan pula bagaimana perasaan Rio Padmodipuro menjelang saat meninggalnya, sebagai penuh kesedihan karena tidak dapat bertemu dengan Pak Harto menurut penuturan KRT. Danuningrat Pangageng Tepas Darah Keraton Ngayogya yang berwenang mengurusi yang ada hubungannya dengan trakh keraton kepada POP. (SH)