Wooooow Buah Pala Bogor, Dari Dagingnya Hingga Kulitnya Sangat Bermanfaat

Wooooow Buah Pala Bogor, Dari Dagingnya Hingga Kulitnya Sangat Bermanfaat

SHNet, Bogor – Dibutuhkan waktu 1 jam perjalanan dari Jakarta menuju Bogor yang juga dikenal sebagai kota hujan dan kota angkotnya. Melihat banyaknya angkot di kota hujan Bogor itu, maka Bogor sempat mendapat julukan  kota sejuta angkot sangking banyaknya angkot. Namun, bukan itu masalahnya Bogor  juga sangat terkenal dan sangat melimpah sumber daya alam dengan potensi peluang yang sangat baik bagi sekelompok masyarakat Kabupaten Bogor . Salah satunya adakah  untuk usaha pada bidang agribisnis mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil.

Salah satu potensi lokal yang dikembangkan pada wilayah Kabupaten Bogor adalah tanaman pala. Prospek pasar hasil tanaman pala mencapai 70% untuk wilayah kabupaten dan 30% bagi pasar luar daerah. Untuk memenuhi kebutuhan pasar terdapat dua wilayah di Kabupaten Bogor yang bergerak dalam bidang agribisnis tanaman pala yaitu Kecamatan Taman Sari dan Kecamatan Dramaga.

Tanaman pala yang bahasa latinnya adalah  Myristica fragan Haitt adalah tanaman asli Indonesia,  yang berasal dari Kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman pala sangat berpotensi untuk dikembangkan karena hampir keseluruhan bagian tanaman dapat dimanfaatkan mulai dari batang, daun, hingga buahnya. Buah pala terdiri dari beberapa bagian yaitu kulit buah, daging buah, fuli dan biji yang keseluruhan mempunyai manfaat dan nilai jual yang berbeda-beda.

Kulit buah pala juga dapat dimanfaatkan untuk bahan tambahan obat pengusir nyamuk; daging buahnya dimanfaatkan sebagai bahan dasar olahan makanan maupun minuman; dan fuli serta bijinya dapat digunakan untuk minyak atsiri. Itulah sebabnya budidaya tanaman pala menjadi salah satu potensi dan investasi yang luar biasa sehingga bisa menunjang perekonomian di Kabupaten Bogor.

Usaha on farm agribisnis tanaman pala terletak di Kecamatan Taman Sari yang memiliki luas lahan 3187.58 Ha [2]. Topografi lahan dengan kemiringan 20-35% pada kecamatan Tamansari mendukung tanaman pala tumbuh subur di daerah tersebut. Kebanyakan masyarakat Taman Sari memanfaatkan biji buah pala dan fulinya untuk dijemur.

Biji pala dan fuli yang telah kering akan dikumpulkan ke pedagang besar pada tiap desa untuk dikirim ke penyulingan minyak atsiri di Cimande dan Sukajaya. Hasil penyulingan minyak Atsiri memiliki nilai ekonomis tinggi dengan harga jual Rp. 700 ribu  hingga Rp. 1.2 juta.  Populasi tanaman pala sebanyak ±1.116 pohon pada tahun 2012  ini tidak hanya memenuhi kebutuhan buah pala di Taman Sari saja, Kecamatan Dramaga yang letaknya bersebelahan dengan Taman Sari juga mendapatkan supply buah pala untuk diolah menjadi beraneka ragam produk pangan maupun minuman.

 

Bogor Penyangga Ibu Kota

Bogor atau Buitenzorg dalam bahasa Belanda merupakan salah satu daerah penyangga ibu kota berupa pengembangan pemukiman perkotaan dengan sistem metropolitan Jabodetabek. Posisi geografis di bagian hulu dalam tata air untuk Metropolitan Jabodetabek menjadikan kota hujan ini memiliki fungsi konservasi yang cukup penting. Bogor terbagi menjadi dua wilayah berdasarkan kepemerintahannya yaitu Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

Dimana kedua wilayah tersebut menawarkan berbagai pilihan menarik karena memiliki berbagai macam potensi mulai dari sektor agribisnis, wisata alam, hingga wisata kuliner.

Di Kabupaten Bogor sendiri yang wilayahnya sebagian besar dataran bergelombang (sebesar 42,62%) memiliki potensi agribisnis cukup besar. Hal ini didukung dengan luasnya lahan pertanian dengan rincian sebesar 1.006 Ha untuk lahan sawah, 1.479.67 Ha lahan kering, 868.29 Ha lahan pekarangan, dan 309.624 Ha untuk lahan perkebunan.

Sedangkan untuk lahan berupa situ dan kolam, memiliki luas sekitar 11.470 ha. Seperti didaerah lainnya, para pelaku utama yang dalam hal ini adalah petani umumnya tergabung dalam sebuah kelompok tani yang mengusahakan berbagai macam produk ungggulan seperti padi, jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, talas, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain.

Kecamatan Dramaga tepatnya di Desa Dramaga sejak tahun 1970 telah melakukan pengolahan buah pala. Kegiatan ini terus berkembang sehingga menjadikan desa tersebut sebagai sentra pengolahan buah pala. Produk olahan buah pala yang dihasilkan dapat mencapai ±10 ton per minggu yang akan dipasarkan pada berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Jakarta, Bandung, Sukabumi, Garut, Cianjur bahkan hingga Sumatera.

Pengrajin di Desa Dramaga mampu mengolah buah pala menjadi manisan basah maupun kering dengan kapasitas produksi mencapai ±2 ton buah pala per minggu. Total pengrajin olahan pala yang ada di Desa Dramaga saat ini telah mencapai ±15 orang. Masing-masing pengrajin memberdayakan masyarakat sekitar yang umumnya didominasi oleh kaum ibu untuk melakukan berbagai proses pengolahan manisan pala seperti pengupasan, penjemuran, penggulaan, hingga pengemasan. Adanya usaha olahan buah pala ini telah meningkatkan perekonomian masyarakat disekitar serta mampu mengangkat nama daerah sebagai sentra penghasil buah pala.

Kini, olahan pala mulai dikembangkan menjadi produk olahan lainnya seperti minuman, sirup, dan permen pala. Hal tersebut dilakukan karena buah pala kaya akan kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan. Manfaat buah pala diantaranya menyegarkan tubuh, mengurangi gejala insomnia, mengatasi maag dan mual serta memperlancar pencernaan.

Fakta tersebut mendorong pengrajin untuk mengembangkan minuman buah pala sebagai salah satu icon pariwisata Bogor dengan menjadikannya Welcome Drink pada hotel, resort maupun restaurant. Tujuannya adalah untuk menyenangkan para wisatawan yang berkunjung ke Bogor dan menyegarkan mereka setelah menempuh perjalanan yang jauh sehingga para wisatawan akan terkesan dengan sambutan yang diberikan.

Selain itu pengemasan yang menarik dapat menjadikan minuman pala menjadi salah satu alternatif oleh-oleh bagi para wisatawan. Hal tersebut sangat memungkinkan mengingat harga minuman pala ini sangat terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat sehingga mampu bersaing dengan produk khas bogor lainnya.

Potensi buah pala dari hulu hingga hilir telah dirasakan memberikan manfaat yang cukup besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kedepannya pengembangan olahan pala yang merupakan salah satu potensi lokal ini akan memberikan prospek pasar yang cukup cerah bagi para pengrajin olahan buah pala maupun pembudidaya.

Hal tersebut juga dapat memberikan dampak positif pada pengembangan wilayah di Kabupaten Bogor karena turut serta meningkatkan perekonomian daerah. Semoga dengan adanya para pelaku usaha dibidang agribisnis dan pengolahan buah pala ini dapat membantu mewujudkan Kabupaten Bogor menjadi kabupaten termaju di Indonesia. (Maya Han)