Teroris “RMS” Ancam Tembak Mati Seorang Sandera Indonesia

Anak-Anak Dipakai Sebagai “Obyek” Tawar-Menawar

Teroris “RMS” Ancam Tembak Mati Seorang Sandera Indonesia

Amsterdam, 7 Desember 1974 – Polisi Belanda hari Sabtu berharap untuk mendapat kepastian dibebaskannya 4 orang anak sekolah Indonesia yang terdapat diantara 24 orang sandera yang masih disekap oleh 5 orang teroris “RMS” di dalam gedung Konsulat Jenderal RI di Amsterdam.

Sebelumnya diperkirakan, sandera berjumlah 19 orang, termasuk 4 orang anak, tetapi juru bicara kepolisian Belanda hari Sabtu pagi mengatakan bahwa hasil percakapan dengan anak yang sudah dibebaskan hari Jum’at (7 orang) diketahui bahwa masih terdapat 20 orang dewasa, diantaranya dua atau tiga orang Belanda, sedang hampir seluruh sandera lainnya orang Indonesia.

“AFP” sementara itu mengabarkan bahwa hari Sabtu pagi dikerahkan tambahan pasukan untuk mengepung Gedung Konjen RI di Amsterdam dan dua orang pelaut Belanda dengan berkendaraan “kereta” istimewa beroda empat yang dilengkapi dengan tameng setinggi dengan tameng setinggi dua meter mencoba mendekati gedung.

Diberitakan pula, bahwa perwira yang memimpin penyerangan yang memimpin penyerangan terhadap kapel Shevenigen dimana disekap anggota suatu paduan suara sebagai sandera pada tahun 1974, tiba di sekitar gedung Konjen RI dengan berpakaian preman.

Tuntutan makanan
Teroris menuntut makanan hangat hari Minggu, sementara keresahan tetap meliputi keadaan yang tidak berubah dari dua drama penahanan sandera.
Teroris tersebut yang diperkirakan berjumlah lima atau enam orang, menelepon markas besar polisi untuk minta 45 porsi makanan hangat.

Polisi mengatakan pesanan itu akan dipenuhi. Mereka mengatakan jumlah porsi makanan agaknya sekitar 26 orang yang berada di Konjen RI, terdiri dari empat anak kecil dan kira-kira l5 sampai 20 dewasa.

Di Den Haag, Perdana Menteri Joop den Uyi bertemu dengan menteri teras kabinet untuk membicarakan cara membebaskan sandera di konsulat serta orang yang ditawan oleh suatu kelompok teroris RMS lain di sebuah kereta api yang dibajak di Beilen di bagian Utara negeri Belanda.

Gerombolan teroris RMS yang menduduki gedung konsulat jenderal RI. Amsterdam mengadakan ultimatum hendak menembak mati seorang sandera Indonesia pada hari Minggu pagi selambat-lambatnya jam 11:00 waktu setempat (jam 19:00 WIB) jika tuntutan mereka yang terakhir tidak dipenuhi.

Tapi hingga saat berita ini diteruskan ke redaksi pusat “Antara” Jakarta Minggu malam jam 21:45 WIB tidak diterima laporan tentang sudah dilaksanakannya ancaman itu. Suatu keadaan jalan buntu total telah terjadi dalam usaha polisi Belanda untuk menyelesaikan peristiwa penyekapan dan penyandera oleh para teroris RMS di gedung konjen RI, setelah yang terakhir ini mempermainkan suatu uluran tangan dari KBRI Den Haag untuk menyelematkan jiwa empat anak sekolah Indonesia yang masih disandera di sana bersama kira-kira 15 orang dewasa lagi.

Kontak
Memperhatikan nasib keempat anak-anak itu, Dubes Sutopo Yuwono Sabtu malam memperkenalkan seorang diplomat KBRI Den Haag secara pribadi bertemu dengan pendeta Mettiari yang ditunjuk oleh gerombolan RMS sebagai tokoh perantara mereka guna mengetahui kehendak para teroris.

Juru bicara KBRI Den Haag Drs. Moh. Hatta menandaskan bahwa dubes RI tetap menolak tuntutan para teroris untuk diadakanya pembicaraan antara dia dengan pendeta Mettiari. Namun diplomat Indonesia tadi, Minister Councellor urusan politik, Suryadi, memperkenalkan mengadakan kontak bersifat pribadi dengan tokoh perantara dari para teroris dengan syarat mutlak bahwa pertemuan pribadi diplomat Suryadi baru bisa dilaksanakan sesudah gerombolan membebaskan ke 4 anak sekolah tadi.

Ingkar
Sesampainya diplomat Suryadi tepat menjelang Sabtu tengah malam (dini hari Minggu di Indonesia) untuk menerima penyerahan ke 4 anak tersebut, pihak teroris berbuat ingkar. Mereka hanya bersedia untuk membebaskan dua orang anak kemudian menuntut supaya pertemuan Mettiari-Suryadi dimulai.
Lebih jauh mereka menuntut supaya sehabis pertemuan itu suatu pernyataan dari pihak gerombolan dibawa oleh Suryadi kepada pihak pemerintah Belanda, setelah mana pemerintah Belanda diharuskan mereka mengumumkan isinya lengkap kepada pers.

KBRI Den Haag segera menolak perbuatan black mail dari pihak teroris yang dijadikan jiwa ke 4 anak tadi sebagai obyek tawar menawar. Sebagai reaksi, para teroris mengumumkan ultimatum hendak menembak mati seorang sandera Indonesia pada jam 11:00 pagi hari Minggu tapi sebegitu jauh sesudah batas waktu berjam-jam dilampuai tidak diterima laporan bahwa ancaman itu telah mereka laksanakan.

Kaitan
Indonesia akan menembak jatuh setiap pesawat terbang yang berani melewati wilayah angkasa udaranya yang membawa gerombolan teroris RMS.
Perbuatan petualangan demikian, kalau sampai bisa terjadi, niscaya ditindaki serta merta dengan menembak jatuh pesawat bersangkutan tanpa menghiraukan asalnya dan siapa yang menjadi awak pesawatnya.

Berdasarkan keterangan lebih jauh yang diperoleh “Antara” dari sumber yang tidak sumber yang tidak menghendaki disebut namanya, baik pembesar Belanda maupun para pembesar Indonesia sama-sama melihat ada keterikatan antara aksi gelombang terorisme yang dilancarkan oleh gerombolan RMS di Nederland dan perkembangan di Timor Timur.

Kedua kelompok teroris RMS yang beraksi itu, yakni para pembajak kereta api di kota kecil Beilen (150 Km timur laut Amsterdam) dan yang menduduki gedung konjen RI di Amsterdam sama-sama menuntut disediakannya sebuah pesawat terbang bagi mereka untuk diterbangkannya ke suatu tujuan yang tidak mereka ungkapkan.

Sumber intelijen memperhatikan kemungkinan besar para gerombolan teroris RMS di negeri Belanda yang jelas berasal dari golongan kiri ekstrim radikal bermaksud mencari pijakan di daerah Timor Timur untuk kemudian bersama-sama dengan kaum kiri Fretelin mengembangkan usaha ilegal terhadap Republik Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Belanda di Den Haag setelah pembicaraan terakhir antara Dubes RI Sutopo Yuwono dan Menlu Belanda Max van der Stoel hari Sabtu siang menegaskan dalam suatu pengumuman resmi bahwa pemerintah Belanda tidak akan tunduk pada tuntutan para teroris untuk menyediakan sebuah pesawat terbang bagi mereka.

Ditambahkan bahwa pemerintah Belanda tidak akan memberikan sesuatu konsesi politik kepada para teroris dan tidak pula memikirkan untuk memberi pengakuan kepada apa yang menamakan dirinya gerakan “Republik Maluku Selatan”.

Sejak terjadinya pembajakan kereta api kemudian pendudukan gedung konjen RI, daerah sekitar pelabuhan udara Schippol ditempatkan di bawah penjagaan yang ketat – lebar jalan keluar masuk pelabuhan udara telah dipersempit. Seluruh lalu-lintas dipaksakan berjalan lambat sehingga memudahkan satuan-satuan keamanan untuk melakukan pengamatan cermat atas arus lalu-lintas. (SH/Ant)