Sudah 100 Orang Yang Dimakamkan Di Komplek Mesjid Sunan Ampel

Sudah 100 Orang Yang Dimakamkan Di Komplek Mesjid Sunan Ampel

Jakarta, 13 Desember 1974 – Sejak semula para ulama memang sudah berhasrat, yang kemudian juga menjadi ketetapan pemerintah agar jenazah syuhada yang gugur dalam kecelakaan pesawat DC-8 Martin Air di Srilangka dimakamkan di Masjid Sunan Ampel.

Di Surabaya pihak alim ulama telah merembugkan hal itu selama dua jam dengan pihak Pemda, demikian koresponden “SH” melaporkan dari Surabaya.

Makam yang disiapkan itu digali di sebelah barat Masjid Agung Ampel, terletak diantara tembok makam, dalam tempat disemayamkan Sunan Ampel dan masjid itu sendiri. Dengan demikian, janazah syuhada haji yang tidak dikenal tersebut diletakkan di sebelah timur dari tembok makam Sunan Ampel berikut kerabatnya.

Disebabkan air yang menggenang pada liang lahat, maka diperlukan pompa untuk mengeringkannya dan sebuah bagian dalam dan samping ditutup dempul untuk menjaga jangan sampai air memasuki peti jenazah pada waktu upacara pemakaman dilangsungkan.

Kerangka
Liang lahat untuk pemakaman jenazah syuhada itu terletak 6 meter dari bangunan Masjid Ampel yang didirikan oelh Sunan Ampel, satu dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam lebih dari enam abad lampau.

Bermula, ketika lubang itu digali, ternyata terdapat kerangka di dalamnya. Pengurus masjid tidak menduga ada kerangka di dalam tanah itu, sekalipun kemudian mereka mengakui bahwa kerangka itu adalah dari seorang murid Sunan Ampel yang meninggal lebih kurang 450 tahun yang lalu. Kerangka tersebut kemudian dipindahkan 100 meter dari tempat itu.

Jenazah syuhada haji yang gugur di Srilangka itu merupakan jenazah yang ke-100 dimakamkan di komplek Masjid Sunan Ampel.

Jenazah sebelumnya yang dimakamkan di situ, di samping Sunan Ampel sendiri adalah murid Sunan dan orang yang dinyatakan meninggal secara sahid.
Jenazah terakhir yang dimakamkan sebelum syuhada haji itu adalah Nyai Haji Fatimah berusia 70 tahun yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk mengembangkan agama Islam. Almarhun Haji Fatimah dinyatakan syuhada dan dimakamkan pada tanggal 28 Maret 1973.

Menurut keterangan A. Hasyim, sekretaris pengurus Masjid Ampel, semenjak revolusi hanya jenazah Haji Fatimah yang pernah dimakamkan di kompleks masjid tersebut.
Masjid itu sendiri selama masa berdirinya telah tiga kali mengalami perombakan dan penambahan masing-masing tahun 1919, 1958 dan terakhir 1973. Ketika didirikan 600 tahun yang lalu ukuran masjid hanya 40 kali 33 meter dibandingkan luasnya yang sekarang 120 kali 80 meter dengan kapasitas tampung 25.000 jemaah.

Ada 3 bagian makam dalam komplek masjid itu dengan makam utamanya yang berpagar tembok dari Sunan Ampel. Syuhada haji itu dimakamkan di bagian makam H. Sonhadji, arsitek pembangunan masjid tersebut yang termasuk asisten Sunan sendiri.

Menurut keterangan A. Hafidz masjid, Sekretaris Umum Pengurus masjid tersebut, sudah ada 100 makam di sana dengan kategori, Sunan Ampel sendiri, murid-murid dan pembantu dekatnya serta para syuhada.

Sekalipun tempatnya berlainan (ada 3 bagian) tapi sama sekali tidak merupakan satu perbedaan persyaratan.
Pdaa saat ini yang berhak untuk memperbolehkan seorang dikubur di sana adalah, Nadir (pengurus masjid) bersama para ulama.

Masjid itu sendiri dibangun oleh Sunan Ampel, penyebar agama Islam kedua di tanah Jawa setelah Maulana Malik Ibrahim yang meninggal di Gresik.

Tapi Sunan Ampel merupakan wali yang paling sukses dalam penyebarannya untuk mendapatkan pengikut, kata Madjid.
Sampai saat ini kompleks Masjid Sunan Ampel tersebut merupakan tempat pusat kegiatan atau pertemuan orang Islam.
Sejak kemarin sore beberapa umat Islam dari luar kota seperti Lumajang dan Madura, yang sekalipun tidak termasuk anggota keluarga korban, datang menunggu di Masjid Sunan Ampel untuk memberikan penghormatan terakhir.

Salah satu ajaran yang menarik dari Sunan Ampel adalah guna menanamkan secara luas pada pengikutnya, bahasa arab banyak yang disalinkan dalam bahasa Jawa gaya Ampel (campuran Jawa dan Arab). (SH)