Penglipuran, Desa Adat yang Tak Pernah Sepi Pengunjung

Penglipuran, Desa Adat yang Tak Pernah Sepi Pengunjung

Desa Adat yang juga Desa Wisata Penglipuran, Bali, tidak pernah sepi pengunjung. (Dok. Fatoer/Kemenpar)

SHNet, Bali- Berkunjung ke Pulau Dewata tidaklah lengkap bila tak berkunjung ke Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli.

Desa adat yang juga merupakan salah satu desa wisata di Bali ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Para wisatawan baik wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) selalu menyempatkan diri berkunjung ke desa ini.

Meski termasuk desa adat, namun masyarakat Desa Penglipuran sangat ramah menyambut wisatawan yang datang. Sesuai dengan falsafah Kalapatra yang masih mereka pertahankan.

Ketua Adat Desa Penglipuran I Wayan Supat menjelaskan, Kalapatra adalah falsafah masyarakat desa setempat yang tidak kaku melihat budaya orang lain. Inilah yang membedakan Desa Adat Penglipuran dengan desa adat lain di Indonesia.

Masyarakat Desa Penglipuran yang masih mempertahankan falsafah Kalapatra. (Dok.Fatoer/Kemenpar)

“Desa ini terbuka dan orang-orang di dalamnya bisa menikmati budaya orang lain.” ujarnya. Meski demikian, masyarakatnya juga tetap melestarikan budaya warisan leluhur meraka.

Dia mengatakan, Penglipuran memiliki beberapa makna. Penglipur artinya menghibur. Kemudian ada juga yang menyembur pengeling pura. Eling itu artinya mengingat, sedangkan pura artinya tanah leluhur.

Wilayah desa yang luasnya sekitar 112 hektar ini dikelilingi oleh pohon-pohon bambu. Memang pada awalnya desa ini merupakan desa konservasi. Kemudian dijadikan obyek wisata tradisional.

Hutam bambu dibiarkan mengelilingi desa sekaligus menjadi daerah resapan air. Masyarakat menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.

“Di Desa penglipuran atau Bali pada umumnya tidak akan terjadi apa yang kni sedang terjadi antara Bogor dan Jakarta. Semua saling melindungi satu dengan yang lain. Itulah pintarnya tetua adat kita. Kami di sini konsisten seperti itu. Bahkan pada tahun 2001, kami pernah bertengkar dengan pemerintah gara-gara hutan bambu kami ingin dibeli untuk Pusdiklat,” paparnya.

Masyarakat desa adat ini sebagian besar bekerja sebagai petani. Namun ada juga yang bekerja di luar negeri. Namun, Supat berkeyakinan suatu saat mereka akan kembali ke tanah leluhurnya.

“Ada sekitar 70 anak-anak kami yang sekarang bekerja di luar negeri. Kebanyakan mereka sudah tidak mau lagi menjadi petani. Ini kendala kami sebenarnya, tapi saya yakin di atas umur 50 tahun mereka akan kembali lagi ke desa, menjadi petani,” ujarnya

.
Pendapatan melonjak

Berkunjung ke desa ini jangan lupa untuk membidik spot-spot cantik dengan kamera atau handphone. Rumah penduduk, tempat ibadah, kegiatan masyarakat, tata ruang dan view desa, bisa menjadi latar foto kalian.

Setiap sudut Desa Penglipuran menjadi spot foto yang menarik. (Dok. Indrawan Ibonk)

Nama Desa Penglipuran memang sudah terkenal di mancanegara. Hal ini juga dilengkapi dengan beberapa penghargaan yang pernah diraihnya. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, Desa Penglipuran pernah meraih penghargaan desa terbersih dunia.

Bahkan tahun lalu desa ini mendapatkan Green Gold Award ISTA 2017 untuk kategori Sosial Budaya.

Banyaknya pengunjung membuat perekonomian masyarakat di desa ini juga bertumbuh. “Desa Penglipuran di Bali berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa tersebut hingga 158% dan pendapatan desa melonjak hingga 240%. Tahun 2017 wisatawan yang berkunjung ke Penglipuran sebanyak 183.000 orang dan PAD desa meningkat menjadi Rp 5,7 miliar,” kata Arief Yahya. (Stevani Elisabeth)