Penelitian Agama Belum Dapat Tempat Yang Wajar

Menteri Agama Prof. Mukti Ali

Penelitian Agama Belum Dapat Tempat Yang Wajar

Jakarta, 3 Desember 1974 – Menteri Agama Prof. H.A. Mukti Ali mengatakan Senin perlu adanya satu bagian di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang membahas dan meneliti masalah agama.

Ini disebabkan karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat agamais dan tindak laku masyarakat Indonesia dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan sebagainya sedikit banyak dipengaruhi oleh kepercayaan agama yang mereka peluk.

Memberikan sambutan ketika membuka seminar “Agama dan Perubahan Sosial” di Palace Hotel Jakarta Menteri Mukti Ali mengatakan bahwa penelitian agama belum mendapatkan tempat yang wajar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Tradisi
menurut Mukti Ali, ahli agama baik sekali dalam pemikiran spekulasi teoritis tetapi tidak terlatih dalam metode langasung dari pada pengamatan empiris.

Ia mengatakan ahli agama tidak dibekali pengetahuan sosial untuk mempelajari dan meneliti agama karena kesadaran harga diri yang berabad-abad dari tradisi akademis dalam bidang pemikiran agama maka sarjana agama punya kecenderungan menganggap bahwa penelitian agama tidak dianggap penting untuk digarap sungguh-sungguh.

Sebaliknya ahli ilmu pengetahuan lainnya juga tidak mau terjun untuk meneliti karena mereka anggap metode ilmiah sulit sekali diterapkan pada tindak laku agamais, mungkin juga orang anggap bahwa masalah perseorangan hingga tak perlu diselidiki secara ilmiah, kata Mukti Ali lagi. “Inilah mungkin faktor yang sebabkan mengapa metode penelitian agama belum berkembang”.

Belum wajar
Akibat dari cara yang biasa dipergunakan oleh ahli sosiologi di satu pihak dan ahli agama di pihak yang lain itu maka penelitian agama belum mendapatkan tempat yang wajar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Mukti Ali selanjutnya mengatakan bahwa sasaran dari penelitian agama adalah pengaruh timbal balik antara perkembangan masyarakat dan perkembangan agama karena agama mempengaruhi jalannya masyarakat, sementara pertumbuhan masyarakat mempengaruhi pemikiran terhadap agama.

Hal itu bisa dicapai, demikian katanya, dengan cara meneliti apakah elemen dalam penelitian sosial cocok atau tidak untuk penelitian agama, disamping harus dipikirkan juga elemen lain yang harus dipergunakan dalam penelitian agama.

Kerjasama
Untuk hal ini maka kerjasama antara ahli sosial dan ahli ilmu agama harus ditingkatkan. Ahli ilmu pengetahuan sosial diharapkan sedikit menengadahkan mukanya ke langit hingga dapat memberikan penilaian yang wajar tentang kenyataan yang seolah-olah tidak bisa dibuktikan secara emperis, sebaliknya ahli agama hendaknya mau turun ke bumi supaya dapat melihat kenyataan tentang tindakan agamais oleh orang beragama akibat kepercayaan agamanya.

Akhirnya Mukti Ali menyatakan bahwa pembangunan yang merata akan terhenti apabila tidak ada kesadaran dari ahli agama dalam masa pembangunan ini.

Seminar tersebut yang diprakarsai oleh IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, diikuti oleh 86 orang peser dari seluruh Indonesa termasuk wakil dari wartawan dan bertujuan untuk mempelajari hubungan timbal balik antara agama khususnya agama Islam dan kehidupan warga masyarakat agar dapat diperloleh gambaran jelas tentang peranan agama dalam usaha pembangunan dalam kehidupan keagamaan.

Prasaran yang akan didiskusikan adalah “Islam dan Perubahan Sosial, Pemikiran dan Usaha”, kemudian “Peranan Agama Dalam Pembangunan Masyarakat Desa”, “Aspek Ethik Agama Dalam Perubahan Sosial”, “Ajaran Islam Dan Pengembangan Dunia Usaha Di Indonesia”, serta Lembaga Sosial Islam Dalam Pembangunan Di Indonesia.

Nama peserta dan moderator antara lain Dr. Taufik Abdullah (Ketua Leknas), Dr. Sudjatmoko, Prof. Sumardjo, Prof. Selo Sumardjan, Prof. Sutan Takdir Alisyahbana, Prof. Hendarsyah, Prof. Dr. H. Rasjidi, Dr. Ruslan Abdulgani, Drs. Aya Sofia. (Sinar Harapan)