Aktuaria Penting di Era Revolusi Industri 4.0

Aktuaria Penting di Era Revolusi Industri 4.0

Simposium Nasional Aktuaria di Era Industri 4.0, di Jakarta, Kamis (6/12). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Jumlah penduduk Indonesia sekarang ini sekitar 160 juta jiwa, dan terus tumbuh. Pada tahun 2035 akan memperoleh bonus demografi dimana pendudukan usia produktif akan lebih banyak daripada usia tidak/kurang produktif, dan pada sekitar tahun tersebut juga Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia.

Industri keuangan dan tentunya industri asuransi menjadi bagian pertumbuhan tersebut. Pengembangan program aktuaria di perguruan tinggi merupakan bentuk respon positif untuk berperan aktif mengisi pertumbuhan tersebut.

Pada sisi yang lain, Ilmu Aktuaria di Indonesia relatif belum banyak dikenal, diketahui dan dipahami oleh masyarakat umum. Jika kita kaitkan atau katakan akturia terkait asuransi, persepsi masyarakat langsung kepada sales atau marketer asuransi.

Apalagi jika ditanyakan tentang ilmu hitung risiko yang menjadi bagian utama dari Ilmu Aktuaria, tentunya tidak akan paham. Untuk itu upaya edukasi masyakat terkait aktuaria merupakan tanggungjawab kita bersama. Diharapkan semakin banyak masyarakat khususnya generasi muda yang tertarik terhadap dunia aktuaria. Kelak mereka akan menentukan pilihan kuliah dan berkarir dalam bidang aktuaria.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebagai pilot project menugaskan 9 perguruan tinggi untuk mengembangkan program ilmu aktuaria, yaitu: IPB, UI, ITB, UGM, ITS, UPH, Universitas Prasetya Mulya (UPM), Unpar dan Universitas Surya (Unsurya).

“Kami juga mendorong perguruan tinggi lainnya untuk membuka program aktuaria. Hal ini tentunya dengan persyaratan yang ketat dalam menjamin mutu pembelajaran dan lulusannya,” ujar Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof Ainun Na’im usai membuka Simposium Nasional Aktuaria di Era Industri 4.0, di Jakarta, Kamis (6/12).

Kementerian Ristekdikti menugaskan Direktorat Pembelajaran, Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan untuk pelaksanaan program pengembangan aktuaria di perguruan tinggi melalui kerjasama dengan Kanada dalam wadah READI Project.

Menurutnya, Kemenristekdikti terus melakukan sosialisasi secara masif bahwa aktuaria penting untuk dikembangkan. Khususnya di era revolusi industri 4.0 ekonomi digital semakin berkembang.

Sehingga ilmu aktuaria yang mempelajari tentang pengelolaan resiko keuangan yang menggabungkan ilmu matematika, statistika, ekonomi, manajemen bisnis dan sains komputer menjadi penting.

“Aktuaria terkait dengan resiko keuangan, tentu berbagai model fintech atau lainnya akan berkaitan,” jelas dia.

Ainun menjelaskan, model pembelajaran dari Kanada akan diadopsi, sehingga nantinya prodi aktuaria bisa bekerja sama dengan industri.

“Esensinya adalah mahasiswa itu akan diberi kesempatan untuk melakukan praktek di industri, proses belajarnya juga kita kerjasamakan dengan industri,” ungkap Ainun.

Belajar Bekerja Terpadu

Program studi aktuaria didorong untuk menerapkan model pembelajaran Co-operative Education atau Belajar Bekerja Terpadu. Co-operative Education mengkombinasikan studi akademis dengan pengalaman bekerja di perusahaan; Memberi bekal soft skill dan professional skill set kepada mahasiswa sehingga mereka lulus dengan nilai tambah (value added); merintegrasikan dengan pengalaman kerja di perusahaan sebagai tenaga kerja professional.

Konsekuensinya adalah masa studi mahasiswa bisa lebih dari 4 tahun. Namun mereka memiliki nilai lebih (added value) dengan pengembangan kemampuannya, sehingga mereka cepat diterima kerja setelah lulus.

Lembaga Akreditasi Pendidikan Tinggi seperti BAN PT, tentunya melihat nilai lebih dari program Cooperative Education. Meski studi mahasiswa yang lebih lama bagi yang mengikuti atau menerapkan program Cooperative Education karena praktek di industri, justru menjadi hal yang sangat positif bagi mahasiswa dalam pengembangan kompetenainya, memiliki skill yang tinggi dan sangat relevan dengan industri.

Kebijakan Kementerian Ristekdikti mendorong implementasi yang lebih kuat tentang program Link and Match antara perguruan tinggi dan industri. Penerapan Co-operative Education khusunya dalam pendidikan ilmu aktuaria sangat relevan dengan kebijakan ini. Bahkan ke depan penerapan Cooperative Education bisa dilakukan untuk prodi-prodi lainya.

Kebijakan Kementerian Ristekdikti tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dimana didorong hadirnya dosen dosen dari industri di kampus, akan semakin memperkuat program Link and Match tersebut. Para pihak/praktisi dari industri dengan latar profesi aktuaris dorong untuk dapat menjadi dosen. Kehadiran dosen dari industri di kampus akan semakin meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu lulusan, sehingga lulusan akan semakin kompetitif dan diterima dunia industri.

Sementara itu Plt Kepala Pusat Pembinaan Profesi Keuangan, Kementerian Keuangan Bhimantara Widyajala, mengatakan, profesi aktuaris tidak bisa digantikan dengan artivisial

“Aktuaris tidak masuk pekerjaan yang akan hilang karena tidak bisa digantikan oleh artivisial,” ujarnya. (Stevani Elisabeth)