Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik!

Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik!

Foto: Humas Kementan

SHNet, JAKARTA – Persediaan beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur dua kali lebih banyak dari biasanya. Jika biasanya hanya 20.000 ton, sekarang 50.000 ton. Sementara Badan Urusan Logistik (Bulog) saat ini masih memiliki stok 2,7 juta ton. Padahal Bulan Januari sudah panen lagi.

Stok beras melimpah. Itu yang terjadi sekarang. Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, Kamis (8/11) usai melakukan sidak ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), mengatakan kenaikan harga beras belakangan ini sebuah anomali.

Stok beras di PIBC adalah barometer stok beras nasional. “Kita mengecek pangan di lapangan. Alhamdulillah semua posisi stabil. Tidak ada alasan (harga naik). Maaf jangan lagi di bawa ke ranah politik. Ini pangan kita stabil, harga ayam hanya Rp 27.000/kg, telur Rp 22.000/kg. Kami cek langsung dengan tim lengkap,” kata Amran Sulaiman.

Sidak tersebut dilakukan bersama Direktur Umata (Dirut) Bulog, Budi Waseso, Dirut PT. Food Station Tjipinang Jaya sebagai pengelola PIBC, Arief Prasetyo Adi, Ketua Satgas Pangan Pusat Irjen Setyo Wasisto, perwakilan Bank Indonesia dan Pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

“PIBC hari ini stoknya 50.000 ton, kemarin 51.000 ton. Lebih tinggi dari biasanya,” kata Arief Prasetyo Adi. Ia menjelaskan, saat ini ada pergerakan harga untuk beras jenis medium. Namun, semua itu sudah diantisipasi dengan meminta pemerintah melalui Bulog agar melakukan aperasi pasar untuk menjaga laju inflasi.

“Tapi dalam kondisi saat ini sebenarnya memang produksi dari pertanian kita dalam hal ini beras sebenarnya cukup. Kalau di Jakarta saya harus sampaikan cukup, pasokan masih normal,” katanya. Menurut Arief ketersediaan beras medium menurun karena ada kecenderungan di up menjadi beras premium.

“Artinya kalau panennya segitu kemudian mereka prefer ke premium, karena marginnya lebih tinggi. Ini adalah mekanisme ekuilibrium baru, ini fenomena yang terjadi. Jadi bukan masalah produksi,” katanya.

Selama ini yang disebut sebagai beras premium itu dengan spesifikasi 5 persen broken. Sedangkan di pasar sekarang, yang disebut premium itu 15 persen broken. Dan jumlahnya sangat banyak (dibanding medium). “Kalau saya melihatnya ini lebih baik. Jadi orang ngambilnya berasnya yang lebih baik. Nggak mau lagi beras medium,” jelasnya.

Saat ini ketersediaan beras premium di PIBC mencapai lebih dari 80 persen, sedangkan beras medium di bawah 15 persen.

Bulog Kawal Pasar

Dirut Bulog Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan pihaknya siap memenuhi permintaan PIBC menambah stok beras medium untuk mengendalikan harga. Lagipula, stok beras yang ada di Bulog saat ini mencapai 2,7 ton. Itu adalah jumlah yang sangat banyak. “Kita operasi pasar setiap hari. Saya berharap malah tiap hari bisa diserap 15.000 ton, untuk stabilisasi harga. Ternyata memang serapannya kecil. Kita cek di lapangan hari ini stok beras begitu banyak,” kata Buwas.

Ia menjelaskan program perubahan pola tanam Kementerian Pertanian membuat musim panen menjadi lebih cepat. Dengan demikian, ketersediaan beras menjadi lebih terjamin. Januari bahkan sudah mulai panen. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak takut dan khawatir.

Ketua Satgas Pangan Pusat, Irjen Setyo Wasisto, mengaku heran dengan adanya kenaikan harga beras belakangan ini. “Ini menjadi tugas saya sebagai satgas pangan untuk melakukan pengawasan. Kita akan lakukan cek di lapangan dan melakukan uji laboratorium juga atas kualitas beras yang ada di lapangan,” katanya.

Namun yang penting adalah masyarakat bisa membeli beras sesuai dengan kriterianya, baik medium maupun premium. Dengan demikian tidak ada kekhawatiran atas beras yang dikonsumsi.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) memandang bahwa selain persoalan anomali harga beras medium, dalam 3 tahun terakhir Indonesia berhasil menjaga stabilitas harga pangan. Hal itu membuat angka inflasi pangan menurun drastis.

“Untuk pangan tahun 2010 (inflasi pangan) cukup tinggi, 10%. Memang 2-3 tahun terakhir berhasil ditekan terakhir menjadi 1,29%. Bahkan tiga tahun berturut-turut harga pangan stabil. Lebaran dua tahun terakhir juga sangat stabil, Oktober kemarin bahkan pangan deflasi,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Trisno Nugroho. Komoditas pangan yang menyumbang penurunan inflasi di antaranya beras, daging ayam ras, dan telur. (Ino)