Tahanan G-30-S Ditanyakan Secara Berhati-Hati

Delegasi Sovyet Tertinggi Pulang

Tahanan G-30-S Ditanyakan Secara Berhati-Hati

Jakarta, 7 November 1974 – Sistem keamanan Asia menurut anggapan delegasi Sovyet Tertinggi harus didasarkan pada prinsip penolakan pemakaian kekuatan dalam hubungan antar negara, menghormati kedaulatan dan kekebalan perbatasan, ketidak campuran ke dalam urusan intern, perkembangan luas kerjasama lainnya atas dasar kesamaan hak serta saling menguntungkan.

Pimpinan delegasi tersebut K.A Hafilow dalam pertemuan penutup Selasa siang di Gedung DPR-RI menambahkan selanjutnya bahwa dalam suasana perdamaian yang demikianlah negara Asia akan dapat memusatkan usaha untuk mengatasi problem ekonomi dan sosial yang sedang dihadapi.

Ditekankan bahwa perjuangan demi perdamaian dan keamanan bangsa diperkuatnya tendensi positif dalam perkembangan di dunia, penegakkan konsekwen prinsip kehidupan berdampingan secara damai di dalam hubungan internasional dapat merupakan dasar yang baik untuk diperluasnya hubungan Indonesia – Uni Sovyet.

Dalam sambutannya ini juga disinggung mengenai isi pesan tertulis Ketua Presidium Sovyet Tertinggi URSS NV. Podgorny kepada Presiden Soeharto dimana telah ditekankan niat untuk beralih ke pekerjaan sehari-hari dan konkret agar dapat mencapai hubungan persahabatan dan kerjasama yang menyeluruh demikian rupa sehingga volumenya dapat melampaui tingkat masa lalu.

Ekonomi perdagangan
Sementara itu Wakil Ketua DPR-RI Domo Pranoto selesai mengadakan pertemuan perpisahan dengan delegasi tersebut menjelaskan bahwa isi pembicaraan antara kedua parlemen tersebut adalah mengenai hubungan kerjasama dibidang ekonomi dan perdagangan yang akan ditingkatkan pada masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan oleh kedua parlemen negara adalah penjajakan hubungan kerjasama antar rakyatnya sedang hubungan yang lebih konkret tentunya akan dilakukan oleh pemerintah msaing-masing negara.

Dikemukakan juga oleh Domo Pranoto bahwa Uni Sovyet telah memberikan kesediannya untuk membantu ekonomi Indonesia namun bantuan dibidang mana masih belum bisa dijelaskan oleh Domo Pranoto. Hal ini diharapkan bisa terjawab dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Adam Malik ke Moscow bulan Desember nanti.

Dikatakan, bahwa kunjungan delegasi ke beberapa daerah telah banyak membantu dalam mempertebal kepercayaan mereka akan kesungguhan pemerintah dan rakyat Indonesia dalam membangun. Inilah yang membuat mereka bersedia untuk membantu ekonomi Indonesia.

Tahanan G-30-S
Mengenai masalah tahanan G-30-S memang anggota delegasi ini juga menanyakan tetapi cara serta sikap mereka dalam menyinggung masalah ini sangat berhati-hati sekali, demikian Wakil Ketua DPR-RI Domo Pranoto menambahkan.
Dikatakan pula bahwa maksud pertanyaan mereka itu hanyalah sekedar ingin memperoleh informasi.

Sebab, demikian menurut Domo Pranoto, mereka tetap menghormati serta menghargai hukum yang berlaku di dalam negeri Indonesia. Sehingga apa yang menyangkut G-30-S adalah masalah dalam negeri Indonesia yang juga harus mendapat perlakuan hukum negara Indonesia.

Untuk masalah ini, dikatakan bahwa baik Presiden Soeharto sendiri telah mengemukakan duduk persoalan yang sebenarnya nampaknya mereka cukup puas atas penjelasan tersebut, demikian Domo Pranoto.

Delegasi meninggalkan Indonesia menuju Uni Sovyet Rabu petang setelah mengadakan kunjungan selama satu minggu di Indonesia. (SH)