Suksesnya Pertempuran Surabaya Berkat Bantuan Seluruh Rakyat

Bung Tomo Mengenai 10 November 1945

Suksesnya Pertempuran Surabaya Berkat Bantuan Seluruh Rakyat

Jakarta, 8 November 1974 – Mantan Ketua Pemberontakan Rakyat Indonesia, Bung Tomo mengatakan bahwa pertempuran 10 November di Surabaya berlangsung simpang-siur sampai ada teman sendiri dikira orang Inggris.

Hingga masing-masing harus diingatkan supaya patuh kepada pimpinannya masing-masing. Hal ini diceritakan dalam ceramahnya yang berjudul “Hubungan Antar Generasi Yang Melatar Belakangi 10 November” di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta, hari Kamis.

Demikian hebatnya semangat dari arek-arek Surabaya, sampai Bung Tomo sendiri heran bagaimana orang tua seperti Dul Arnowo misalnya ikut gila-gilaan bersama arek-arek lainnya bertempur melawan Inggris. Meskipun seolah-olah “muncul mendadak”, dikatakan bahwa kompaknya semua generasi pada waktu itu sebenarnya melalui proses yang berlangsung pada 2 jaman sebelumnya.

Rahasianya pula bahwa muda-mudi Surabaya pada waktu itu tidak mencurigai pimpinannya dan merasa bahwa pimpinnnya tetap bersih, ujarnya.
Oleh sebab itu menurut Soetomo, di Surabaya waktu itu tidak ada clash antara pihak tua dan muda seperti di Jakarta.

Bung Tomo mendirikan organisasi yang diberi nama Pemberontakan Rakyat Indonesia yang terdiri dari tokoh yang suka berkelahi dan juga pimpinan yang mempunyai ilmu ghaib. Organisasi ini dalam peristiwa tersebut mempunyai pemancar radio sendiri yang dibuat oleh seorang bernama Hassan Basri, yang kemudian digunakan untuk memberi komando pertempuran.

Mengenai kematian Jenderal Mallaby, Bung Tomo yakin bahwa peristiwa itu telah direncanakan lebih dulu oleh pihak Inggris. Terbukti ada opsir yang bilang bahwa “setelah 10 menit akan ada tembakan”. Kesaksian Bung Tomo yang juga diceritakan pada wawancara massal di Surabaya tanggal 5 dan 6 November yang lalu dikatakan bahwa orang Inggris telah menaruh mortir di jendela.

Kemudian ada tembakan entah dari mana dan benarlah, akhirnya terjadi pertempuran yang menyebabkan Mallaby yang dijadikan sandera oleh kita akhirnya tewas. “Mereka sudah punya rencana”, katanya.

Melalui radio
Menceritakan pengalamannya menggelorakan semangat rakyat melalui radio, ia berkata bahwa semua gelora disalurkan lewat radionya.

Ketika Bung Tomo memerintahkan lewat radionya agar arek-arek Surabaya yang lagi semangat-semangatnya bertempur, harus berhenti bertempur, mereka tidak mengindahkan. Baru ketika diambil over dan diancam akan ditembak dari belakang, mereka mundur.

Audy Murphy
Bung Tomo juga yakin bahwa pertempuran Surabaya mencapai sukses berkat bantuan seluruh bangsa Indonesia yang ikut ambil bagian dalam perjuangan ini.

Ia melihat sendiri bagaimana pemuda Maluku misalnya banyak yang mati karena ikut berjuang pada pertempuran itu. “Mereka betul-betul fighter, bertempur seperti Audi Murphy. Menembak sambil berdiri, yang satu tertembak muncul yang lain” ceritanya. Juga pemuda dari Sulawesi dan lain daerah yang berada di Surabaya.

Bung Tomo yakin bahwa Surabaya akan hancur kalau daerah lain pada waktu itu tidak ikut pula meledak dan melawan sekutu. Melalui radionya itu pula, pemuda dari berbagai daerah berpidato bersemangat dan menyalakkan tekad untuk bertempur.

“Itulah sebabnya waktu itu timbul pertempuran melawan sekutu di seluruh daerah di Indonesia”, akhirnya, di depan pendengar yang terdiri dari tua dan muda, Bung Tomo mengakhiri ceramahnya dengan menirukan bagaimana ia membacakan pidatonya di depan corong radio pada pertempuran itu.

Suaranya yang khas Bung Tomo, menyebabkan hadirin bertepuk tangan mengiringi penutupan ceramahnya yang diadakan oleh Gedung Kebangkitan Nasional bekerjasama dengan Yayasan Gedung Bersejarah Jakarta dan Yayasan Idayu. (SH)