Si Miskin Bisa Lanjut Pendidikan Tinggi, Ini Solusinya

Si Miskin Bisa Lanjut Pendidikan Tinggi, Ini Solusinya

Para peneliti dari Universitas Brawijaya Malang mengembangkan Model Lembaga Keuangan Mikro agar anak-anak dari keluarga miskin dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi. (Ilustrasi)

Sumber DPRM Ditjen Risbang Kemenristekdikti

SHNet, Jakarta- Masalah pengentasan dan penanggulangan kemiskinan masih menjadi agenda penting di Indonesia. Salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan disebabkan oleh rendahnya pendidikan

Jumlah anak-anak Indonesia yang tidak mampu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi menjadi penghambat mereka untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Inilah yang menjadi latar belakang para peneliti dari Universitas Brawijaya Malang mencoba mencari solusi lewat lembaga keuangan mikro, sehingga anak dari keluarga miskin bisa memperoleh pendidikan tinggi.

Dalam makalah ilmiah yang berjudul “Studi Model Kelembagaan Keuangan Mikro Untuk Memberi Kesempatan Anak Keluarga Miskin Memperoleh Pendidikan Tinggi”, disebutkan selama periode 1996 sampai 1998, prosentase jumlah penduduk miskin di pedesaan Indonesia melonjak tajam dari 12,3 % menjadi 45,6 % ( BPS ); Angka drop-out di jenjang SMTP telah meningkat dari 6 % menjadi 9 % ( Warta Demografi-UI ).

Akibat kurangnya pendidikan/pelatihan ketrampilan yang diperoleh anak-anak dari keluarga miskin, di masa depan mereka akan tetap dalam strata sosial-ekonomi yang rendah akibat tertutupnya kesempatan mobilitas vertikal memasuki lapangan kerja yang layak atau terbatasnya kemampuan menciptakan kegiatan ekonomi dengan bekal ketrampilan yang memadai.

Anak-anak yang drop-out, terpaksa harus bekerja untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga. Jumlah anak-anak usia dibawah 14 tahun yang menjadi pekerja anak di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu dari 1,9 juta di tahun 1980, menjadi 2,0 juta pada tahun 1990 dimana 87 % nya berada di pedesaan ( Warta Demografi UI).

Peneliti Utama Prof Dr KhusnulAshar, SE . MA mengatakan, fokus penelitian ini untuk mengurangi masalah kemiskinan di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Malang. Hal ini dikarenakan jumlah persentase kemiskinan Jawa Timur paling tinggi dibandingkan provinsi lainnya.

Fenomena kemiskinan dan peristiwa anak putus sekolah di Jawa Timur menunjukkan angka yang memprihatinkan. Pada tahun 1995 saja, sebelum masa krisis ekonomi, angka kemiskinan Jawa Timur adalah paling tinggi dibandingkan dengan propinsi Jawa Barat, DIY dan propinsi Bali. Prosentase penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 21,85 % sedangkan Jawa Barat sebesar 20,87 %, DIY 19,18 % dan propinsi Bali sebesar 16,60 % (BPS). Angka drop out di Jawa Timur pada tahun tersebut juga masih lebih tinggi dari pada angka nasional yaitu mencapai 20,80 % untuk tingkat SLTP dan 18,19 % untuk tingat SLTA ( BPS Jatim).

Untuk menanggulangi masalah kemiskinan dan hambatan mobilitas vertikal bagi generasi muda dari keluarga kurang mampu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. “Semua pihak, termasuk perguruan tinggi sudah selayaknya ikut berpartisipasi mengembangkan daya- nalar, tenaga dan dana untuk program perluasan kesempatan kerja bagi anak-anak keluarga kurang mampu melalui pengembangan lembaga kredit mikro yang mampu memberdayakan kapasitas bisnis ibu-ibu demi menjamin pendidikan anak-anak mereka ke tingkat yang memadai sebagai bekal memasuki lapangan kerja,” ujarnya.

Guru Besar Ekonomi Pembangunan ini menambahkan, tujuan akhir dari penelitian ini yang pertama adalah mampu membentuk lembaga keuangan mikro yang professional, berkesinambungan, dan mampu menjamin kelangsungan pendidikan anak- anak keluarga miskin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Kedua, mampu membina target group (TG) dari rumah tangga miskin (RTM) sehingga mereka bisa menjadi binaan lembaga keuangan mikro yang patuh terhadap seluruh prosedur lembaga keuangan mikro.

Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian selama tiga tahun. Hasil dari penelitian ini berupa model dan rekayasa sosial yang bisa menjadi alternatif pertimbangan bagi pemerintah untuk pengembangan model bantuan rumah tangga miskin di bidang pendidikan dan permodalan yang telah eksis. Beberapa contohnya adalah model BIDIK MISI, model KIK-KMKP, model BRI, dsb.

Model yang dihasilkan akan memberikan informasi menyangkut kemampuan dan strategi lembaga pelaksana dalam menyalurkan kredit, memobilisasi tabungan sekaligus menjamin pendidikan dan pelatihan keterampilan anak-anak binaan lembaga keuangan mikro.

Para peneliti ini menemukan beberapa hal baru dari penelitian tersebut, diantaranya metode pemberian kredit modal sekaligus penggalangan dana dan tabungan yang bersifat progresif untuk menjamin tersedianya dana pendidikan atau pelatihan keterampilan anak-anak binaan lembaga keuangan mikro secara tepat, efisien, dan sistematis.

Temuan lain, sebuah bentuk lembaga yang terdapat di pedesaan dengan mengemban dua misi sekaligus, yaitu membangun kekuatan ekonomi rumah tangga miskin dan menciptakan penjaminan terhadap kelanjutan pendidikan atau pelatihan keterampilan untuk anak-anak anggota binaan.

Selain itu, ada pula sebuah pembuktian hipotesis, bahwa sebuah lembaga yang bermotif sosial mampu bekerja secara layak, professional dengan perencanaan baik, fokusnya jelas, serta dijalankan dengan serius.

Berdasarkan hasil penelitian tahun ketiga ini, terdapat beberapa kesimpulan yang dihasilkan. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi Rumah Tangga Miskin (RTM) untuk bisa menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang lebih tinggi yang pertama adalah karakteristik responden seperti usia, jenis pekerjaan, dan penghasilan secara umum RTM.

Kedua, dalam keragaman upaya rumah tangga RTM dan Target Grup (TG) dalam mempersiapkan masa depan anaknya agar mempunyai kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, persepsi RTM dan TG tentang pentingnya pendidikan tinggi sebagai pendukung keberhasilan masa depan anak. Keempat, faktor mendapatkan pekerjaan yang mudah bagi anak dan kehidupan yang lebih baik. Kelima, upaya-upaya RTM dan TG dalam menyiapkan anaknya agar bisa kuliah di perguruan tinggi.

Keenam, sebagian besar RTM dan TG sudah memiliki tabungan untuk mempersiapkan anak sekolah di perguruan tinggi, dimana bentuk tabungannya umumnya adalah berupa hewan ternak dan uang. Ketujuh, peranan lembaga sosial dan lembaga keuangan lokal dalam memotivasi RTM dan TG agar anak memperoleh pendidikan yang lebih tinggi ini dirasa masih belum optimal. (Stevani Elisabeth)