Serunya Tidur di Tenda Rasa Kamar Hotel

Serunya Tidur di Tenda Rasa Kamar Hotel

Lakeside Rancabali mengusung konsep glamor camping (glamping) di Ciwidey, Bandung Selatan. (Ist)

SHNet, Bandung– Gerimis menyambut kedatangan rombongan kami di glamor camping (Glamping) Lakeside Rancabali, Ciwidey, Bandung Selatan, malam itu.

Udara dingin mulai menerpa. Untungnya, sejak dari Jakarta, kami sudah diberitahu teman-teman dari Biro Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pariwisata untuk membawa jaket, kaus kaki dan sarung tangan.

Pasalnya udara di lokasi kemping ini bisa mencapai 16 derajat Celcius. Benar saja, begitu turun dari bis, hawa dingin langsung menerpa. Rombongan kami segera menuju Pinishi Restaurant untuk makan malam.

Santai sejenak di tepi Situ Patenggang. (SHNet/stevani elisabeth)

Pinishi Restaurant merupakan ikon dari nomadic tourism di Bandung Selatan tersebut. Tempat makan ini didesain berbentuk kapal Pinishi yang mengarah ke Situ Patenggang, danau yang berada di bawah Gunung Patuha.

Phinisi Restaurant. (SHNet/stevani elisabeth)

Menuju ke Pinishi Restaurant, para pengunjung harus melewati jembatan gantung. Kebayang kan, lewat jembatan gantung di malam hari dengan penerangan yang terbatas. Tapi ini awal yang seru dan menyenangkan.

Jembatan gantung menuju Pinishi Restauran merupakan salah satu spot foto yang menarik di Lakeside Rancabali. (SHNet/stevani elisabeth)

Usai makan malam, kami pun bersama kelompok menuju tenda. Di Glamping Lakeside Rancabali, ada beberapa tenda yang berkapasitas 4 orang dengan satu kamar mandi di dalam tenda dan ada tenda yang berkapasitas 8 orang dengan dua kamar mandi di dalam tenda.

Ada juga tenda berkapasitas 4 orang dengan kamar mandi di luar tenda. Apa istimewanya dari Glamping Lakeside Rancabali? Tenda yang digunakan tidak seperti tenda Pramuka, tapi tenda dengan bahan yang kokoh, Bentuknya seperti rumah.

Alas tenda berlantaikan kayu. Para wisatawan yang menginap di sini, tidur di spring bed yang dilengkapi dengan selimut tebal. Soal kamar mandi, dibangun kokoh dengan ornamen bambu sebagai dindingnya. Kamar mandi ini dilengkapi dengan fasilitas air panas.

Setiap tenda, viewnya mengarah pada Situ Patenggang. Di pagi hari, panorama di depan begitu indah. Pengunjung dapat menyaksikan halimun berarak pulang dari tepi Situ Patenggang.

Keseruan tak berhenti di situ, lokasi ini juga dikeliling oleh kebun teh. Ada juga spot-spot swafoto yang instagramable seperti Batu Cinta, jembatan gantung, Pinishi Restauranttermasuk bermain dengan kelinci.

Menyaksikan halimun di Batu Cinta yang menjadi spot swafoto di Lakeside Rancabali, Ciwidey, bandung Selatan. (SHNet/stevani elisabeth)

Belum lagi kuliner-kuliner lokal yang dijajakan oleh masyarakat lokal. Rasanya, tak kalah dengan makanan yang ada di restoran. Harganya, jelas lebih terjangkau.

Tertarik, menginap di tenda rasa kamar hotel? Untuk yang berkapasitas 8 orang, dikenakan biaya Rp 2,7 juta per malam. Sedangkan, tenda yang berkapasitas 4 orang dikenakan baiaya Rp 1,7 juta per malam. Harga ini berlaku untuk glamping yang kamar mandinya ada di dalam tenda. Untuk glamping yang kamar mandinya di luar tenda, dikenakan biaya Rp 1,2 juta per malam.

Dongkrak amenitas pariwisata

Manajer Glamping Lakeside Rancabali, Lutfi Naufal, mengatakan Lakeside Rancabali memberikan fasilitas penginapan dimana wisatawan bisa bersantai di alam dengan tempat menginap yang seperti hotel.

Tak sekadar tempat menginap, wisatawan juga bisa sekaligus menikmati wahana-wahana lain yang disediakan di area glamping ini. Misalnya, ada taman kelinci, taman bunga, teras bintang di mana wisatawan bisa berburu matahari terbenam yang cantik, hingga outbound.

Bagi pengunjung yang tak ingin menginap di Lakeside Rancabali tetap bisa menikmati wahana dengan membayar tiket masuk sebesar Rp25.000 dan Rp20.000 untuk setiap wahana.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah gencar mengenalkan konsep nomadic tourism sebagai salah satu gaya baru dalam dunia pariwisata di Indonesia. Konsep ini diklaim mampu mengatasi keterbatasan tersedianya amenitas di daerah wisata.

Beberapa bentuk dari nomadic tourism ini menurut Kemenpar di antaranya berupa glamp camp, home pod hingga caravan. Menpar Arief Yahya bahkan menilai nomadic tourism memiliki nilai ekonomi tinggi dan treatment yang mudah sehingga sehingga menarik para pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan bisnis tersebut.

Nomadic tourism adalah jawaban Kempar untuk mendongkrak jumlah amenitas pariwisata. Sekaligus mengimbangi pertumbuhan kunjungan wisatawan.

Sesuai karakternya, yaitu nomadic, ketiga fasilitas tersebut juga bisa dipindah-pindah alias tidak permanen. Dengan begitu, nomadic tourism ini sangat cocok dikembangkan di daerah-daerah yang belum tersedia akomodasi seperti perhotelan atau pun homestay.

“Kita di Indonesia punya 17.000 pulau, 70.000 desa, ratusan destinasi indah. Kalau harus membangun hotel konvensional perlu waktu yang sangat lama, homestay pun menurut saya masih kurang cepat. Maka, saya umumkan lagi bahwa saya akan memberikan insentif bagi orang yang masuk ke nomadic tourism,” ujar Arief Yahya. (Stevani Elisabeth)