Serunya Bergaya di Udara

Serunya Bergaya di Udara

Seru, bergaya di udara dengan latar pemandangan Waduk Sermo, Kalibiru, Kulonprogo, Yogyakarta. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Kulonprogo- Cuaca cukup bersahabat ketika kami tiba di lokasi wisata Kalibiru di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Niat hati memang ingin berkunjung ke destinasi wisata yang satu ini. Apalagi tempat ini cukup hits di media sosial. Tidak sedikit teman yang berkunjung ke tempat ini meng-upload foto-foto mereka di facebook maupun instagram.

Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, pas tawaran berkunjung ke Kalibiru tiba, rugi untuk ditolak. Bis yang kami tumpangi tidak bisa naik hingga ke pendopo. Akibatnya, kami harus menapaki jalan menanjak hingga di pendopo.

Di pendopo, rombongan sudah disambut oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat. Sudadi, salah satu pengurus Pokdarwis menejelaskan bahwa destinasi wisata ini dikelola warga setempat yang mata pencahariannya sebagai petani.

“Ada 250 personel yang terlibat di destinasi wisata Kalibiru. Mereka merupakan warga sekitar,” ujarnya. Ia sendiri awalnya seorang petani.

Para petani ini mencoba memanfaatkan lahan hutan di atas perbukitan Menoreh untuk menjadi daya tarik wisata. Wisata menggeliat dan hutan pun tetap lestari.

Hingga saat ini dirinya mengaku terus belajar untuk mengelola obyek wisata tersebut. Sementara itu ada sekitar 76 karyawan yang statusnya sudah tetap. Mereka juga dibayar dengan upah minimum pekerja di sana sekitar Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta per bulan.

Kemudian, tercatat pula ada 30 karyawan freelance. Karyawan yang bekerja di sana beraneka ragam, ada yang memang hanya lulusan SD, SMP, dan SMA. Namun banyak pula yang lulusan S1 dan mereka kembali ke kampungnya untuk memajukan sektor pariwisata di daerahnya.

Yang menarik dari Kalibiru adalah spot-spot foto yang cantik di tempat tinggi. Dengan latar foto yang menghadap ke Waduk Sermo. Spot-spot foto tersebut sangat instagramable, sayang untuk dilewatkan.

“Kami memang yang pertama melakukan spot-spot foto yang instagramable, kemudian diikuti oleh destinasi-destinasi wisata yang lain,” ujarnya.

Di sini, ada sekitar 7 spot foto yang cukup menarik. Kami pun mencoba beberapa spot yang ada. Ada rasa deg-degan ketika menaiki anak tangga dari kayu yang vertikal untuk tiba di spot cinta.

Spot Cinta, di Kalibiru (SHNet/stevani elisabeth)

Lokasi foto ini berbentuk hati dan tidak terlalu luas. Bak model dadakan, kami pun bergaya di udara. Hasil fotonya, keren.

Ada lagi panggung berbentuk elips di atas ketinggian. Seru, bergaya di udara dengan pemandangan Waduk Sermo. Biaya foto di satu spot sebesar Rp 10.000,-

 

Destinasi gotong royong

Kalibiru merupakan contoh destinasi wisata gotong royong yang baik warisan leluhur. Hasilnya, desa Kalibiru sekarang makin beken dan fenomenal. Namanya mendunia sejak beberapa tahun terakhir.

Bahkan tahun ini mereka sudah menambah spot foto baru berupa ayunan dan sepeda. Spot-spot foto ii berada di “Kalibiru Lantai Dua”

Setiap hari, ratusan wisatawan datang untuk berfoto. Desa jadi lebih hidup. Roda ekonomi berputar kencang.

Semua itu bermula dari inisiatif warga. Wujud dari keinginanan warga untuk mengubah nasib secara bersama-sama. Di situ tak ada monopoli. Semua dikerjakan swadaya murni. Peran pemerintah menyusul kemudian. Semangat gotong royong di desa Kalibiru bukan slogan kosong. Tapi telah menjadi jiwa seluruh warga. (Stevani Elisabeth)