Sekolah Percaya Diri, Menolong Anak yang Trauma

Sekolah Percaya Diri, Menolong Anak yang Trauma

Sebagian siswa Sekolah Anak Percaya Diri menunjukkan cenderamata dari Pertamina beberapa waktu lalu. Foto dari laman www.pertamina.com [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Sekolah ini unik mulai dari namanya: Sekolah Anak Percaya Diri. Sesuai namanya, pendirian sekolah ini bertujuan untuk membangun mental para siswanya agar memiliki sikap percaya diri.

Nuraeni, pendiri sekolah dan ketua Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Az-zahra yang menjadi binaan Pertamina menyampaikan, Sekolah Anak Percaya Diri didirikannya pada tahun 2016. Latar belakang pendirian sekolah ini menurut Nuraeni karena kekhawatirannya terhadap perkembangan mental anak-anak yang kurang beruntung secara psikologis maupun ekonomi.

“Sekolah ini merupakan sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang mengalami trauma secara psikis akibat kekerasan orang tua ataupun kejadian traumatik lainnya, seperti eksploitasi anak, sampai pada tindak kekerasan seksual terhadap anak,” ujar Nuraeni seperti disampaikan Pertamina dalam laman www.pertamina.com, Rabu (7/11).

Menurut Nuraeni, pendirian Sekolah Anak Percaya Diri awalnya hanya bermodalkan uang yang disisihkan dari kegiatan usaha Kelompok Wanita Nelayan Fatimah Az-zahra.

“Cita-cita kami hanya satu, anak-anak ini terbebas dari pengalaman traumatik yang terjadi dalam kehidupannya sehingga dapat kembali beraktivitas dan meraih cita-cita seperti anak-anak normal lainnya,” kata Nuraeni.

Menurutnya, dengan bersekolah di Sekolah Anak Percaya Diri, ia mengharapkan anak-anak bisa bersikap lebih baik, memiliki kepercayaan diri untuk bersosialisasi, serta bisa mengetahui bahwa mereka mendapatkan perlindungan.

Butuh Banyak Pengorbanan
Nuraeni menyampaikan, dirinya menyadari bahwa cita-cita harus diupayakan maksimal dan membutuhkan banyak pengorbanan. Namun, ia yakin, niat baik yang dijalankan sungguh-sungguh pasti akan memetik hasil sesuai yang diharapkan.

Ia menuturkan, pertama kali dibentuk, Sekolah Anak Percaya Diri hanya memiliki fasilitas yang sangat terbatas karena hanya memanfaatkan satu ruangan di sebuah rumah produksi.

“Pada waktu itu ada 10 anak kami bina. Alhamdulillah, setahun kemudian pengurus Sekolah Anak Percaya Diri disahkan melalui Surat Keputusan Lurah Kelurahan Pattinggalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar,” kata Nuraeni.

Menurutnya, saat ini, walaupun masih menempati ruangan yang sama, anak-anak binaan Sekolah Anak Percaya Diri jumlahnya sudah mencapai 65 siswa.

Nuraeni menuturkan, perkembangan jumlah siswa tersebut tak lepas dari bantuan Pertamina. Melalui Marketing Operation Region (MOR) VII, Pertamina memberikan bantuan senilai Rp 50 juta untuk keperluan operasional sekolah tersebut sehingga proses belajar mengajar menjadi lancar.

“Sebelumnya, Pertamina juga telah beberapa kali memberikan bantuan kepada sekolah ini. Mulai dari perlengkapan belajar mengajar seperti papan tulis, peralatan peraga dalam pembelajaran hingga mendatangkan relawan dari luar negeri untuk berbagi pengalaman dan ilmu kepada anak-anak,” tuturnya.

Dilatih Sedini Mungkin
Nuraeni menjelaskan, anak-anak di Sekolah Anak Percaya Diri dilatih sedini mungkin mengenai berbagai macam keterampilan. Tujuannya, agar kelak mereka mempunyai modal dasar yang bisa digunakan untuk meningkatkan kapasitas diri. Selain belajar, mereka juga diajak untuk berkumpul dan bermain bersama agar mereka tetap masih bisa menikmati masa kecil mereka.

“Kami juga mengajarkan pentingnya lingkungan kepada mereka,” kata Nuraeni.

Menurutnya, dirinya berharap, sebagai anak nelayan para siswa di Sekolah Anak Percaya Diri tidak melakukan pencurian ikan atau illegal fishing.

Kisah Siti
Salah satu contoh anak yang mendapatkan manfaat menimba ilmu di Sekolah Anak Percaya Diri adalah Siti (bukan nama sebenarnya). Siswa berusia 10 tahun ini adalah salah satu anak korban kekerasan di Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, tahun 2017, menunjukkan, ada sebanyak 1.406 kasus kekerasan anak di Makassar.

Sebelum masuk Sekolah Anak Percaya Diri, Siti selalu menutup diri, murung, dan tak berani bicara. Namun, semua sikap tersebut berubah sejak Siti kecil belajar di Sekolah Anak Percaya Diri.

Sesuai namanya, sekolah ini bertujuan mengembalikan rasa kepercayaan diri anak-anak. Melalui pembelajaran kebersihan diri dan lingkungan, membuat kerajinan, pengembangan bakat dan minat serta pendidikan akhlak. Perkembangan anak-anak dimonitor oleh Nurfadhilah Hilman selaku “guru” sekolah melalui asesmen bulanan.

“Saat ini sebanyak sekitar 65 anak-anak yang ikut sekolah setiap Jumat dan Minggu siang,” kata Nuraeni.

Didukung Pertamina
Perjuangan Nuraeni tidaklah mudah, beruntung ia tak berjalan sendiri. Upayanya didukung Pertamina Marketing Operation Region (MOR) VII. Ade Oce, Operation Head Terminal BBM Makassar MOR VII, menjelaskan bahwa Sekolah Anak Percaya Diri merupakan bagian dari program CSR wilayah operasinya.

“Kami tidak asing dengan Bu Nuraeni, karena beliau adalah mitra binaan Pertamina. Makanya ketika beliau mengemukakan gagasan sekolah ini, kami dukung penuh,” kata Ade.

Menurutnya, Pertamina memberikan sokongan melalui pengadaan sarana belajar dan dana operasional sekolah.

Salah satu kegiatan CSR Pertamina di bidang pendidikan, di Balikpapan, beberapa waktu yang lalu. Foto dari laman www.pertamina.com [SHNet/Ist]

Ade menuturkan, para pekerja Pertamina pun menyempatkan waktu mengisi sesi kegiatan belajar mengajar di Sekolah Anak Percaya Diri. Seperti yang dilakukan Ade beserta beberapa pekerja TBBM Makassar pada Rabu (7/11). Mereka berbagi pengetahuan tentang operasi TBBM, dan memberi motivasi agar anak-anak mengejar cita-cita mereka.

“Lewat sekolah ini, anak-anak berangsur meraih kembali kepercayaan diri dan keceriaannya. Kini mereka berani mengungkapkan pendapat, lebih santun dan pede di muka umum. Pada perayaan Hari Kemerdekaan RI Agustus lalu, mereka tampil percaya diri membawakan tarian di depan para tamu undangan,” kata Ade. (whm/sp)