Produktivitas Jagung di Pinrang Capai 7-8 Ton Per Hektar

Produktivitas Jagung di Pinrang Capai 7-8 Ton Per Hektar

Ist

SHNet, PINRANG – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah gelar safari panen jagung di sejumlah sentra produksi. Di Sulawesi Selatan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Andi Muhammad Syakir, melakukan safari panen ke Kabupaten Pinrang dan Wajo, setelah sehari sebelumnya panen di Kabupaten Takalar.

Di Kabupaten Pinrang, produktivitas jagung sangat bagus. Rata-ratanya mencapai 7 – 8 ton per hektare. Dengan luas tanam 12.000 hektare, diperkirakan hasil jagung sebanyak 84.000 – 96.000 ton jagung  pipilan kering (JPK).

“Kami mengapresiasi kerja keras petani Pinrang sehingga produktivitasnya bisa setinggi ini. Kami bersyukur bantuan sarana produksi, alsintan (alat dan mesin pertanian) serta perbaikan pengairan dapat turut mendorong produktivitas dan meningkatkan minat bertani,” kata Syakir di Pinrang, Minggu (11/11).

Ia menjelakan, Pinrang merupakan daerah pengembangan baru untuk jagung karena selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi Sulawesi Selatan. Pengembangan ini sangat dmungkinkan karena jagung mampunyai daya adaptasi luas sehingga dapat dikembangkan pada lahan sawah bero di musim kemarau dengan bantuan pompa sumur dangkal.

“Potensi pengembangan areal tanam baru masih cukup luas dengan pembahan sumur dangkal. Pemerintah pusat dan daerah senantiasa mendorong pengembangan jagung di Kabupan Pinrang dan kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan untuk meningkatkan pendapatan petani,” katanya.

Petani di wilayah Pinrang memang sangat tertarik untuk bertani jagung. Harga jagung pipilan kering tingkat petani juga semakin baik. Pada saat ini harga di tingkat petani mencapai Rp. 4.700/kg. Kondisi ini menyebabkan petani di Pinrang sangat termotivasi menanam jagung untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Sementara di Kabupaten Wajo, luas areal tanam mencapai 45.875 hektare. Dengan produktivitas 5 – 6 ton per hektare, panen kali ini berpotensi mencapai 220.000-275.000 ton.

Terus Digenjot

Pemerintah memang terus menggenjot produktivitas jagung, terutama untuk memenuhi kebutuhan pakan nasional.  Dalam empat tahun terakhir melalui program terobosan yang dilakukan oleh pemerintah, terjadi peningkatan produksi jagung secara signifikan. Hal ini terlihat dalam kurun waktu 2014-2017. Pada tahun 2014 produksi jagung di Indonesia  sebesar 19,0 juta ton dan tahun 2015 meningkat menjadi 19,6 juta ton.

Pada tahun 2016 produksi jagung kembali  meningkat menjadi 23,6 juta ton, demikian juga tahun 2017 mencapai 28,9 juta ton.  Pada tahun 2018 ini diperkirakan potensi produksi jagung mencapai 30 juta ton.

Selain di Sulawesi Selatan, safari juga dilakukan di tujuh kabupaten di Jawa Timur, yakni Kabupaten Tuban, Lamongan, Lumajang, Jember, Kediri, Mojokerto dan Pasuruan. Area lahan jagung mencapai 5.000 hektar.

“Panen yang kita lakukan menunjukan bahwa stok jagung melimpah dan kita memang surplus,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi di Lumajang. Dari ketujuh daerah yang panen, terbesar terdapat di Jenggawah, Jember seluas 2.901 hektar dan Kecamatan Kraton, Pasuruan seluas 1.496 hektar dengan produktivitas rata-rata 7-10 ton per hektar.

Saat ini harga jagung pipil kering di tingkat petani di Jatim berkisar antara Rp 5.100-Rp 5.200 per kilogram atau lebih tinggi dari harga di Sulawesi Selatan. Agung menambahkan, panen raya jagung tersebut menunjukkan bahwa sebetulnya petani sangat mampu memenuhi kebutuhan pakan jagung untuk peternak mandiri.

Hanya saja, kesulitan peternak dalam memenuhi kebutuhan pakan adalah soal komunikasi yang terputus dan distribusi kurang lancar. “Kalau saya lihat, salah satu masalah kesulitan peternak adalah, karena tersumbatnya komunikasi,” ujar Agung.

Alasannya, produksi jagung banyak, tapi distribusinya tidak merata, sehingga ada yang berlebih dan ada yang kurang. Karena itu, pihaknya akan mencoba memediasi langsung antara peternak dan petani jagung. “Coba kesini peternak dan petani jagung. Nah, kalau sudah ketemu begini kan semunya jadi mudah, karena peternak bisa terpenuhi kebutuhannya, petani juga bisa menjual jagung dengan harga menguntungkan. Semuanya jadi sama-sama untung,” jelasnya. (ino)