Pertumbuhan Ekonomi Merangkak Naik

Pertumbuhan Ekonomi Merangkak Naik

Foto :Ist

JAKARTA—Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III tahun 2018 mencapai 5,17 persen year on year (y-on-y). Pertumbuhan ini lebih tinggi dari periode sebelumnya, 5,06 y-on-y. Kalau situasi ini bertahan sampai satu triwulan berikutnya, maka berpotensi menjadi angka pertumbuhan tertinggi sejak 2014.

“Masih ada tiga bulan lagi, kalau tiga bulan ini bagus, maka pertumbuhan ekonomi kita di tahun ini akan bagus,” kata Kepala BPS, Suhariyanto ketika memberikan keterangan pers di Gedung BPS Jakarta, Senin (5/11).

Suhariyanto memaparkan tiga materi yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2018, Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan III-2018, dan keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2018.

Menurut Suhariyanto, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2018 mencapai Rp3 835,6 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2 684,2 triliun.

Ekonomi Indonesia triwulan III-2018 terhadap triwulan III-2017, katanya, tumbuh 5,17 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha jasa lainnya sebesar 9,19 persen. Dia menambhakan, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh semua komponen, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 8,54 persen.

Suhariyanto menjelaskan, kalau melihat ekonomi Indonesia triwulan III-2018 terhadap triwulan sebelumnya meningkat sebesar 3,09 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 4,81 persen, sedangkan dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 8,68 persen.

Menurutnya, ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2018 (c-to-c) tumbuh 5,17 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 8,95 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran tertinggi pada Komponen PK-LNPRT yang tumbuh 8,45 persen.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan III-2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. “Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,57 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,53 persen, dan Pulau Kalimantan 8,07 persen,” katanya.

Mengenai jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang atau naik 2,95 juta orang dibanding Agustus 2017. Sejalan Kemudian, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,59% poin.

Menurutnya, dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 40 ribu orang, sejalan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang turun menjadi 5,34 persen pada Agustus 2018. Penduduk yang bekerja sebanyak 124,01 juta orang atau bertambah 2,99 juta orang dari Agustus 2017.

Dia menjelaskan, sebanyak  70,49 juta orang atau 56,84 persen bekerja pada sector informal. Dalam satu tahun terakhir, pekerja informal turun 0,19% poin kalau dibandingkan dengan Agustus 2017.

Suhariyanto juga memaparkan pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2011. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 sebesar 5,01 persen. Bahkan, pada tahun 2015, turun menjadi 4,88 persen. Angka ini merupakan yang terendah dalam masa kepemimpinan Jokowi-JK. Kemudian, pada tahun 2016 naik menjadi 5,03 persen. Pada tahun 2017 naik lagi menjadi 5,07 persen. Artinya, kalau situasi ekonomi terus membaik, maka angka 5,17 persen menjadi yang tertinggi pada pemerintahan Jokowi-JK, tapi terus menunjukkan grafik naik.(ady)