Ormas Harus Jadi Energi Positif

Ormas Harus Jadi Energi Positif

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo bersama para peraih penghargaan ormas terbaik 2018, di Hotel Redtop, Jakarta Pusat, Selasa (6/11).

15 organisasi masyarakat (ormas) mendapat penghargaan ormas terbaik 2018 dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Penghargaan diberikan dalam acara Forum Kordinasi Nasional Ormas dan Anugerah Penghargaan Ormas tahun 2018, di Hotel Red Top, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2018).

Selain ormas, Kemendagri juga memberikan penghargaan kepada pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten dan kota sebagai Pembina ormas terbaik. Penghargaan kepada Ormas dibagi dalam 7 kategori, yakni kesehatan, lingkungan hidup, tata kelola pemerintahan, penanggulangan bencana, budaya, pemberdayaan perempuan, dan bidang pendidikan. 4 Ormas medapatkan penghargaan Pencapaian Sepanjang Hidup (Long Life Achievement), dan 4 orams mendapatkan penghargaan khusus.

Dalam acara tersebut, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menyampaikan
Kontitusi UUD 1945 tegas menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul yang diatur lebih lanjut melalaui Undang Undang (UU). “Undang – undang memberikan kebebasan kita untuk berserikat berkumpul sesuai dengan peran dan aspirasi yang ada,” katanya.

Dalam konteks ini kebebasan berserikat dan berkumpul adalah pengakuan dan penghormatan hak asasi manusia sebagaimana disebutkan dalam pasal 28 UUD RI Tahun 1945, dimana negara menjamin kemerdekaan berserikat berkumpul mengeluarkan pikiran secara lisan maupun tertulis.

Mendagri juga memandang potensi positif yang dimiliki setiap Ormas sebagai wadah berserikat dan berkumpul sepanjang menaati Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. “Ormas merupakan potensi masyarakat yang secara kolektif harus dikelola sehingga menjadi energi positif dalam kehidupan bermasyarakat bernegara dan berbangsa. Dan ini perwujudan kesadaran kolektif setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan,” ungkapnya.

Mendagri berpesan supaya ormas bisa menjadi energi positif bagi masyarakat. Pada masa kini, peran serta ormas sangat dibutuhkan karena bangsa ini tengah menghadapi tantangan besar terkait terorisme, radikalisme, narkoba, korupsi, kesenjangan, dan masalah sosial. Oleh karena itu, ormas diharapkan dapat membantu Pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi masalah tersebut.

“ Saya Kira 395.454 Ormas harus berani menentukan sikap siapa kawan, siapa lawan pada perorangan maupun kelompok atau golongan yang ingin mengacau NKRI, memecah belah bangsa. Ini tanggung jawab kita semua sebagai elemen bangsa,” ujarnya.

Pemberdayaan Ormas
Sebelumnya, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo menjelaskan terkait dengan pemberdayaan organisasi kemasyarakatan. “Pengurus Ormas harus mampu menjalankan tujuan ormasnya sesuai ketentuan Pasal 40 dan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan”.

Ia memaparkan bahwa pemberdayaan organisasi kemasyarakatan memiliki tujuan strategis. Tujuan pertama, meningkatkan kualitas, kompetensi, kapasitas kelembagaan, dan pengurus ormas sehingga terbentuk kepemimpinan yang berkarakter, memiliki jati diri, dan berwawasan kebangsaan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Tujuan kedua, meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan pengurus ormas agar terwujud ormas yang mandiri, kredibel, dan akuntabel sehingga dapat secara konsisten menjalankan tujuan, fungsi, dan kewajibannya.

Tujuan ketiga, terjalinnya komunikasi dan sinergisitas dan jaringan kemitraan di antara sesama ormas maupun antara ormas dengan Pemerintah dalam mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, serta menjaga dan memelihara keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Sementara itu, Direktur Ormas M Lutfi mengatakan, pemberian penghargaan merupakan sebagian upaya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah sebagai mana diatur dalam Undang Undang Ormas. Penilaian atas penghargaan ini dilakukan oleh tim seleksi yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, dan media, dengan menggunakan beberapa indikator sebagai tolok ukur. Ormas maupun Pemda diberi kesempatan mendaftarkan diri. Penilaian dilakukan kepada ormas yang berbadan hukum maupun yang memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Berbagai penghargaan
Penghargaan bidang Pendidikan diberikan kepada Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YIM). Yayasan ini didirikan pada 25 Agustus 1987 oleh dr Sofyan Tan, seorang pemuda Tionghoa yang berasal dari desa Sunggal. Meski mengalami kesulitan pada awalnya, yayasan ini berjuang terus membantu pemerintah untuk memberikan pemenuhan hak atas Pendidikan bagi anak-nak mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK.

Prinsipnya anak tidak boleh putus sekolah karena tidak ada biaya. Hingga sekarang sudah tercatat 3.650 anak asuh yang dibiayai hingga tamat sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukan hanya itu, yayasan ini juga mengembangkan kurikulum tentang toleransi dan Pancasilasi sejak usia dini hingga remaja. Beberapa alumninya kemudian menjadi aktor penggerak keberagaman di tempat mereka berada.

Penghargaan bidang Pemberdayaan Perempuan diberikan kepada Yayasan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). Yayasan ini memulai kerjanya di Aceh tahun 2000 untuk mendampingi para janda yang menjadi korban konflik di Aceh. Sekarang PEKKA telah menjadi sebuah organisasi massa berbasis keanggotaan yang bekerja dalam pemberdayaan perempuan kepala keluarga untuk menjamin kehidupan mereka.

Kini PEKKA adalah organisasi terbesar yang mewakili rumah tangga yang dikepalai perempuan di Indonesia, yang tergabung dalam kelompok-kelompok yang dinamakan kelompok serikat Pekka. PEKKA aktif terutama pada isu kesetaraan perempuan dan peningkatan kapasitas perempuan dalam ekonomi kerakyatan di 20 provinsi, 65 kabupaten , 220 kecamatan dan 850 desa.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo didampingi Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo memberikan penghargaan ormas terbaik 2018 di Hotel Redtop, Jakarta, Selasa (6/11/18). (Foto : Ist)

Penghargaan Bidang Tata Kelola Pemerintahan diberikan kepada Perkumpulan Pemantau Korupsi Indonesia Dalam Bahasa Inggris Disebut Indonesia Corruption Watch. ICW lahir di tengah gejolak reformasi 98 oleh beberapa aktivis YLBHI, dengan keyakinan bahwa korupsi harus diberantas karena korupsi telah memiskinkan dan menggerogoti keadilan.

ICW mendorong tata kelola pemerintahan yang demokratis, bebas korupsi, berkeadilan ekonomi, sosial dan gender. Sejak berdiri ICW telah mengungkap dan mengawal kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat publik. ICW juga mengawal lahirnya beberapa peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pemberantasan korupsi dan berjejaring dengan berbagai kalangan dan elemen masyarakat, seperti seniman, akademisi, pemuka agama, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya serta 42 mitra strategis di hampir seluruh Indonesia.

Penghargaan bidang Penanggulangan Bencana diberikan kepada Muhammadiyah Dissaster Management Center (MDMC). Lembaga ini lahir dari sebuah kepedulian dan keputusan penting dari Pimpinan Pusah Muhammadiyah pada tahun 2007 untuk membentuk Pusat Penangganggulan Bencana. Pada periode 2010 – 2015 diubah menjadi Lembaga Penanggulangan Bencana, sebagai instusi yang langsung berada di bawah koordinasi Pimpinan Muhammadiyah.

Sementara sebutan dalam bahasa Inggris Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) tetap dipertahankan. MDMC bertugas untuk mengkoordinasikan mobilisasi sumberdaya dalam Tanggap Darurat Bencana, Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana dan Rehabilitasi Pasca Bencana. Sehingga dalam pelaksanannya diperlukan komunikasi dan koordinasi dengan Seluruh Jajaran Pimpinan, Majelis, Lembaga, Amal Usaha, Organisasi Otonom dan Kader Muhammadiyah. Selain itu, juga bekerja sama dengan BASARNAS.

Penghargaan bidang Kebudayaan diberikan kepada Yayasan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Organisasi ini bergerak secara independen dengan visi mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera. AMAN aktif di tingkat lokal, nasional, dan internasional untuk mewakili dan melakukan advokasi isu-isu masyarakat adat dan kebudayaannya.

AMAN beranggotakan 2.332 komunitas adat di seluruh Indonesaia, dengan jumlah keanggotaan individu mencapai 17 juta anggota. AMAN juga aktif mengembangkan kapasitas anggota untuk meningkatkan nilai kebudayaan adat di Indonesia mulai dari tarian, tradisi, hingga produk-produk kerajinan dan pakaian tradisional. Bahkan sudah pula dikembangkan koperasi galeri nusantara yang menampung dan menjual produk-produk komunitas adat.

Penghargaan bidang Kesehatan diberikan kepada Yayasan Kasih Anak KankerIndonesia (YKAKI). Organisasi ini didirikan untuk membantu pemerintah memberikan pelayanan kesehatan secara spesifik pada anak-anak penderita kanker. Setiap anak Indonesia yang menderita kanker berhak mendapat pengobatan serta perawatan yang sebaik-baiknya, juga hak belajar maupun hak bermain walaupun dalam keadaan sakit.

YKAKI memberikan “Awareness” mengenai kanker pada anak kepada masyarakat luas antara lain pada dokter-dokter di PUSKESMAS, kader-kader PKK, Paramedis, sekolah-sekolah dan masyarakat umum lainnya. Mendukung program pemerintah serta melengkapi kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh berbagai organisasi antara lain dengan menyediakan rumah singgah, pendidikan di rumah sakit, transportasi, membantu ”mengejar” pasien yang tidak melanjutkan pengobatan serta melaksanakan “awareness/public education” bagi masyarakat umum.

Penghargaan Bidang Lingkungan Hidup diberikan kepada Perkumpulan Pusat Perlindungan Orangutan. Organisasi inididirikan pada 2007, sebagai respon darurat untuk menghentikan pembantaian orangutan sebagai dampak langsung pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.Organisasi ini tumbuh cepat dan efektif menanggapi setiap ancaman dan bahaya terhadap orangutan dan habitatnya. Mereka bekerja memerangi kejahatan terhadap orangutan dan habitatnya. Merekabekerjasama dengan Kementerian KLH dan Mabes Polri untuk penegakkan hukum terkait Orangutan.

Penghargaan Khusus diberikan kepada Granat, Pemuda Pancasila, Pemuda Muhammadiyyah, dan GP Ansor. Sementara itu, penghargaan Long Life Achievement diberikan kepada Taman Siwsa, Wanita Katholik Republik Indonesia, Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dan PERSIS. Adapun, anugerah pembina omas terbaik diberikan kepada Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Sulawesi Utara. (*)