Onde Mande, Indah Nian Nagari Pariangan Ini

Onde Mande, Indah Nian Nagari Pariangan Ini

SHNet, Padang – Desa ini letaknya persis di lereng Gunung Marapi, dimana gunung api aktif dengan ketinggian 700 m di atas permukaan air laut. Desa nan indah ini letaknya di Tanah Datar, Sumatera Barat, dimana pemandangan indah serta budaya dan arsitektur bangunan yang masih terjaga hingga kini. Karena, sebagian besar warga di Pariangan masih menggunakan bangunan tradisional Minangkabau,yakni rumah Gadang.

Kita boleh bangga dengan Desa Pariangan ini, karena desa nan elok ini termasuk lima desa terindah di dunia versi Bidget Travel yang disandingkan dengan empat desa lainnya  salah satunya adalah  desa Wengen di Swiss Eze di Prancis, Niagara dan di Cesky Krumlov di Ceko. Dan desa nan indah dengan terlihat rumah-rumah tua dengan gaya Minangkabau ini dinobatkan sebagai salah satu desa paling indah di dunia pada akhir 2012.

Desa Pariangan ini adalah desa tertua di Minangkabau, jaraknya sekitar 15 kilometer dari kota Batusangkar, Sumatera Barat. Selain bangunan yang tua dan kaya akan nilai budaya, salah satu yang menjadi kebangaan dari desa Pariangan ini adalah adanya  bangunan Masjid  Ishlah yang merupakan  Masjid tertua du ranah Minang. Tidak itu saja, keberadaan Masjid dengan bangunan arsitektur Minang dengan aktivitasnya menambah kaya warisan budaya Pariangan.

Memasuki desa terindah ini, mata kita akan disuguhi pemandangan perkebunan jagung  serta hijaunya sawah yang terletak tidak jauh dari permukiman penduduk. Layaknya kawasan pedesaan, pemukiman di Pariangan tidak terlalu padat sehingga siapa saja yang datang ke desa nan indah serta sejuk itu dapat leluasa menikmati suasan desa dengan pemandangan indah rumah-rumah Gadang.

 

Sejarah Nagari Pariangan

Nagari Pariangan yang luas wilayahnya 17,97 km persegi ini,menjadi nagari tertua di Ranah Minang. Masyarakat Minang mempercayai bahwa nenek moyang mereka berasal dari Puncak Gunung Marapi. Dimana dahulunya, puncak gunung teraebut merupakan dataran sedangkan daerah lain masih berupa air lautan.

Namun kenyataan tersebut berubah, setelah air mulai surut dan masyarakat membuat permukiman di sekitar puncak gunung dan Pariangan menjadi Nagari Pertama yang dibuka. Itulah, kenapa Pariangan hingga aekarang masih disebut sebagai Nagari Tuo atau disebut juga Desa Tua. Sejak itulah desa Nagari Pariangan merupakan cikal bakal sistem kemasyarakatan  Nagari  yang digunakan di Ranah Minang.

Sistem pemerintahan Nagari  mirip dengn konsep polis pada masyarakat Yunani, yang otonom dan egalitarian. Namun semua itu berubah sejak tahun 1980, dimana sistem  Nagari ini sempat terhenti karena peraturan perundang-undangan tentang sistem pemerintahan yang memaksa sistem Nagari mengikuti  aturan Nasional yaitu berupa Desa. Untungnya, sejak ada Undang-undang  otonomi daerah di tahun 1990, membuat masyarakat Minang memanfaatkan kesempatan untuk kembali mewacanaka .dikembalikannya sistem Nagari kembali menjadi ciri khas  tatanan pemerintahan Sumatera Barat. Dari sinilah diketahui akan kayanya budaya di Sumatera Barat ini.

Seperti kita ketahui, Sumatera Barat memang cukup pandau dalam menjaga warisan leluhurnya, sehingga ini menjadikan Tanah Minangkabau sangat kuat dalam kepariwisataan budayanya. Di Pariangan, peninggalan-peninggalan sejarah yang ada terbilang sangat variatif, Sawah Gadang Satampang Baniah contohnya.

Sawah-pun menjadi  bukti sejarah yang tidak dilupakan begitu saja di Pariangan. Hal ini dikarenakan,Sawah Gadang Satampang Baniah merupakan lokasu sawah pertama yang dibuka oleh Dato Tantajo Gurhano  yang artinya menjadi sawah pertama di Minang. Petak sawah inilah yang hingga kini menjadi Cagar budaya dan ini salah satu bukti khasanah budaya Pariangan yang tinggi dan terjaga. Sebagaimana lahan pertanian di kawasan lereng, Pariangan juga punya lahan sawah yang berjengjeng. Persawahan di Pariangan dan daerah nagari disekitarnya akan membuat siapa saja terpesona.

Rumah Gadang

Sebagaimana umumnya tanah Minangkabau, rumah gadang menjadi ciri khas yang tidak pernah tertinggal. Di Pariangan, nuansa minang dengan rumah gadangnya akan langsung menyambut siapa saja yang datang berkunjung. Namun ada satu hal yang jika diteliti lebih jauh, akan membuat suasana minang di Pariangan berbeda. Perbedaan itu terlihat dari banyaknya rumah-rumah gadang yang usaianya sudah sangat tua dan ini terlihat dari kayu-kayunya.

Rumah gadang yang pada umumnya, dikenal dengan atap bertanduk. Namun, tidak untuk di  Nagari Pariaman ini. Dimana, salah satu bangunan tertuanya justru tidak mengadopsi arsitektur atas tersebut. Tidak itu sana, masih ada bangunan Masjid Ishlah, yang banyak dukunjungi oleh wisatawan saat berkunjung ke Nagari Pariangan ini adalah masjid tertua yang didirikan sejak abad ke 19 oleh Syech Burhanuddin seorang ulama di kala itu.

Masjid tua itu memiliki limas segiempat bertingkat dengan banyak jendela di bangunan utamanya. Arsitektur  semacam ini dipercaya mengadopsi dari gaya  arsitektur Dongson yang banyak dijumpai di daratan tinggi Tibet. Keunikan lain dari masjid berukuran 16×24 meter ini adalah, terdapat pancuran air panas yang beradal dari gunung Marapi untuk mengambil air wudhu.

Pemandian Air Panas

Usai berjalan dan menikmati keindahan alam Nagari Pariangan, wisatawan yang datang dapat memanjakan diri dengan berendam air dari gunung Marapi. Dimana kadar sulfurnya sangat bermanfaat untuk kesehatan kulit. Untuk itu, setiap akhir pekan, banyak masyarakat sekitar Nagari Pariangan datang hanya untuk sekedar berendam air panas yang mengalir langsung dari gunung Pariaman.

Tidak itu saja, namun warga Pariangan juga memiliki kebiasaan yang menarik untuk diikuti salah satunya adalah mandi bersama-sama  ditempat pemandian umun yang biasa disebut tapian mandi. Dimana tapian mandi ini, bisa kita temukan di depan masjid tertua di Nagari Pariangan ini yaitu Masjid Ishlal.

Namun di satu tapian mandi untuk perempuan yang diberi nama Rangek Subarang , serta dua tapian mandi untuk laki-laki bernama Rangek Gaduang dan Rangek Tujuah. Selain untuk  mandi, tempat ini juga dimanfaatkan sebagai tempat mencuci. (Maya han)