Main Kucing-Kucingan Dan Curiga Akan Diakhiri

Pangkopkamtib/Wapangab Jenderal Soemitro

Main Kucing-Kucingan Dan Curiga Akan Diakhiri

Diakui Kepemimpinan Dulu Kurang Terbuka

Jakarta, 17 November 1973 – Wapangab/Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro mengatakan, pelaksanaan kepemimpinan sosial/komunikasi sosial yang akan dimulai bulan April atau medio tahun depan akan berlaku di seluruh Indonesia dari pimpinan pusat sampai pimpinan terendah kecuali untuk sementara Jakarta Raya dan Jawa Barat.tt pengecualian untuk kedua daerah tersebut itu, kata Soemitro, akan dikompensir dengan meningkatnya dialog yang intensif tentang apa saja dan dimana saja dengan spririt kekeluargaan.

Pemecahan masalah
Menerangkan arti kepemimpinan sosial/komunikasi sosial, Jenderal berbintang empat itu memberi contoh bahwa percakapan seperti “kenapa ini tidak bisa, karena Kopkamtib tidak setuju, kenapa itu tidak, karena Kopkamtib melarang”, tidak akan ada lagi, yang ada ialah komunikasi sosial yang terbuka dengan spirit kekeluargaan serta perspektif yang telah digariskan yaitu UUD 1945.

memberikan prasaran di depan peserta Kongres ke-III Legiun Veteran RI, Jum’at malam, selanjutnya Soemitro katakan bahwa dasar komunikasi itu adalah pemercahan masalah dengan suasana yang relax, suasana kekeluargaan sehingga tercapai pemecahan masalah yang berkwalitas tinggi.

Tapi Soemitro memperingatkan bila ada yang berniat jahat yang menginginkan perpecahan maka malapetaka yang akan menjadi akibatnya.

Dialog terbuka
Setiap pejabat, kata Soemitro, akan menerima koreksi dengan terbuka “Ayo, bagaimana enaknya” dengan dialog terbuka tanpa rasa curiga mencurigai satu sama lain. “Yakinlah mulai 1 April atau selambat-lambatnya medio tahun depan hal itu akan terlaksana”, katanya.

Ide kepemimpinan sosial/komunikasi sosial, menurut Jenderal Soemitro bermula telah dilansir oleh Kepala Negara. Kepemimpinan serupa ini, kata Soemitro akan mendidik setiap pemimpin “ber-Bhineka Tunggal Ika”.

Jenderal Soemitro sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah selama setahun yang lalu ternyata kurang terbuka dan dilain pihak ada bagian yang terlupakan (neglected) yaitu masalah “kota”.

Kami interopeksi, kami telah lupa, kurang peka, kurang responsif, kata Soemitro, karena itu menjelang Pelita II akan diadakan conversi mental, conversi kepemimpinan.

Terjemahan GBHN
Pada kepemimpinan setahun lalu, kekurangan terbukaan itu telah melahirkan kurang saling pengertian, katanya. Hal seperti ini ternyata eksplosif, melahirkan letupan.

Soemitro selanjutnya mengatakan bahwa GBHN ternyata belum dimengerti bahwa isi GBHN itu masih perlu diterjemahkan ke bahasa akademis, intelektual, dan semi intelektual agar dimengerti di kota-kota.

Dan sebaliknya masih perlu diterjemahkan ke bahasa yang dimengerti oleh rakyat biasa.
Diterangkan, atas pengalamannya berdialog “di sana-sini” ternyata tidak sedikit pikiran yang sehat yang dipunyai orang lain. Ternyata yang ngerti tidak saya sendiri, kata Soemitro.

Kucing-kucingan
Masa main kucing-kucingan (hide and seek), kata Jenderal Soemitro yang menyelang-nyeling prasarannya dengan istilah Inggris, akan berakhir. Sebab semua yang main kucing-kucingan akan meletus, “satu saat akan meletus”, katanya. Jadi nanti tidak perlu takut hanya “mari kita waspada agar dialog itu jangan menuju perpecahan”, tambahnya.

Menyinggung masalah pemuda, Soemitro ungkapkan bahwa adalah proses alamiah pergantian kepemimpinan. Tapi ia memperingatkan agar generasi muda sekarang berorientasi kepada perpecahan masalah. Katanya, masalah yang dihadapi angkatan 45 sekarang masih akan dihadapi oleh angkatan muda sekarang ini.

Ia mengajak para veteran yang hadir bertindak sebagai mediator,tangan penolong terhadap angkatan muda sekarang untuk mengorientasikan pikiran mereka kemasalah kerakyatan, entrepreneurship dan penyediaan lapangan kerja.

Ia mengakui bahwa sumber pemimpin selalu berasal dari kota tapi harus selalu diingat bahwa kota tidak pernah terisolasi dari desa.

Ensiklopedia
Pada permulaan prasarannya Jenderal Soemitro mengajak veteran Indonesia untuk menulis sebagai bahan warisan untuk dibaca oleh generasi muda sebagai ensiklopedia.

“Saya mengappeal kepada kita semua”, kata Soemitro untuk mengerjakan apa yang telah kita alpakna, menulis apa yang pernah kita kerjakan dalam waktu yang tinggal sedikit ini seoptimal mungkin sehingga generasi muda tidak hanya menerima ensiklopedia itu secara lisan, hasilnya tentu akan lebih mantap.

Ensiklopedia semacam itu akan sangat berguna, sebab “seperti kita pernah muda”, kita tidak mau mendengar orang tua tapi kalau orang tua itu sudah tidak ada, diam-diam kita mengakuinya.

Pengaman kebudayaan
Soemitro juga meminta agar veteran bertindak sebagai pengaman kebudayaan, setidaknya kebudayaan di kota dapat dilokalisir hingga tidak beredar ke desa. Ia mengatakan bahwa bila hanya di kota ada mini, backless dan pengukuran statistik vital akan dapat hilang dengan sendirinya atau hanya untuk sementara waktu saja.

Entrepreneurship
Selanjutnya ia mengajak veteran menjadi entrepreneur yang mengenal masalah akut sekarang. Soemitro memberi contoh masalah transmigrasi dan Keluarga Berencana. Ia ungkapkan bahwa menurut data mulai tahun 1975 tiap tahun akan muncul setengah juta orang yang membutuhkan lapangan kerja sedang 60% dari padanya ada di pulau Jawa.

Memberi contoh, Soemitro katakan bahwa isu tentang ekonomi lemah sebenarnya sudah dapat diatasi bila pengusaha kecil itu telah mengatahui entrepreneurship “telah mampu bergaul dengan Bank”. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menurunkan policy perkreditan yang dulunya bagi golongan 3 dan 4 menjadi kepada golongan 1 dan 2.

umumnya pengusaha tersebut, kata Soemitro belum familiar (masih asing) terhadap administrasi yang baru belum kenal. Karena itu ia menganjurkan adanya penataran kursus untuk membiasakan diri bergaul, meminta veteran menjadi entrepreneurship tersebut.

Prasaran Jenderal Soemitro tanpa teks itu telah diselang-seling dengan contoh aktuil yang mendapat sambutan hangat dari peserta kongres.

Menhankam/Pangab
Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Panggabean dalam prasarannya telah menjelaskan pembinaan Hankamnas secara luas. Ia menjelaskan kecenderungan internasional serta perkembangan baru yang umumnya menuju detente.

Menhankam katakan dibalik perkembangan serta detetente itu masih tetap terdapat ancaman sehingga sikap yang lebih bijaksana adalah selalu meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan dalam rangka nasional.

Pada pembukaan Jum’at malam, Menhankam mewakili Presiden Soeharto telah mengalungkan bintang jasa kelas I kepada Letjen Purnawirawan Kim II Hwan dari Korea Selatan sebagai undangan LVRI atas jasanya pada peningkatan hubungan baik antara kedua negara. (SH)