Lestarikan Seni Tekstil, “Eco Fashion Week Indonesia” Bakal Digelar di Jakarta

Lestarikan Seni Tekstil, “Eco Fashion Week Indonesia” Bakal Digelar di Jakarta

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid (kiri) bersama para penyelenggara Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018, di Jakarta, Kamis (8/11).[SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Tergerak oleh kepedulian untuk melestarikan seni tekstil dan kekayaan hayati Indonesia, Merdi Sihombing menginisiasi penyelenggaraan Eco Fashion Week Indonesia (EFWI) 2018. Inisiatif Merdi ini rencananya bakal terwujud dalam ajang yang digelar selama tiga hari, mulai dari 30 November hingga 2 Desember 2018, di Gedung Stovia, Jakarta.

Sebanyak lebih dari 30 desainer nasional dan internasional bakal menampilkan karya-karya busana ramah lingkungan (sustainable fashion) dalam acara yang dilenggarakan di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Para desainer ini telah menerapkan konsep terbarukan (sustainable), lokal dan ethical production, baik dengan cara daur ulang (recyling), maupun upcycling atau menggunakan bahan oraganik dan natural yang tidak meninggalkan jejak karbon.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan menyatakan, sebagai perwujudan Undang-Undang (UU) No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, institusinya terus berupaya untuk mengangkat kekayaan budaya dan tradisi lokal.

“Untuk itu, kali ini Ditjen Kebudayaan, merangkul desainer ternama Indonesia, Merdi Sihombing, yang akan menggelar Eco Fashion Week Indonesia,” demikian keterangan dari Ditjen Kebudayaan, Kamis (8/11).

Konsep “Slow Fashion”
Merdi Sihombing menyatakan bahwa EFWI merupakan tonggak (milestone) dari perjalanan panjang yang perlu dilakukan Indonesia dalam menerapkan konsep slow fashion.

“EFWI menerapkan konsep slow fashion, yang tak hanya ramah terhadap Bumi tercinta kita, melainkan juga akan tetap melestarikan warisan budaya pembuatan tekstil di Indonesia yang tidak ada duanya di dunia,” kata Merdi.

Ia mengharapkan EFWI akan membuka mata masyarakat pecinta fesyen di Indonesia tentang betapa pentingnya menjadi bagian dari masyarakat dunia yang menerapkan prinsip berbusana secara beretika (ethical fashion).

“Kami semua di EFWI merasa bersemangat melancarkan gerakan yang dapat membuat perubahan besar di Indonesia ini,” kata Merdi menambahkan.

Warisan Budaya Nusantara
Merdi Sihombing terkenal aktif mengangkat warisan budaya Nusantara dalam setiap koleksinya. Sebagai desainer, Merdi memang dikenal akan busana bernafaskan tenun, batik, dan wastra asli Indonesia. Sementara itu, EFWI merupakan gerakan fesyen pertama dan terbesar di Indonesia yang diselenggarakan pertama kali pada 2018 ini. Merdi Sihombing menginisiasi EFWI bersama Myra Suraryo dan Rita M Darwis.

“EFWI siap menggelar karya sejumlah desainer Indonesia dan internasional dan berbagai lokakarya (workshop) menarik yang mengusung konsep sustainable fashion,” demikian keterangan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud.

EFWI memiliki tujuan untuk memperkaya referensi fesyen masyarakat lewat karya-karya ethical yang dibuat secara langsung oleh masyarakat di daerah tertinggal, seperti tenun ikat Alor dan tenun ikat Rote Ndao. Terlebih, Indonesia dengan lebih 10.000 etnis dan kebudayaan, memiliki warisan pengetahuan dalam kekayaan pembuatan tekstil, kerajinan, dan hasil seni tradisional dengan keunikan dari setiap etnis yang sulit ditandingi bangsa lain di dunia.

Merdi menyampaikan, ajang EFWI merupakan kesinambungan dari upaya selama lebih dari 10 tahun terakhir dalam menerapkan berbagai inovasi terbarukan dalam bidang tekstil dan fesyen. Ia berpendapat, ketersediaan sumber air yang berlimpah di Indonesia merupakan salah satu faktor kunci yang membuat produktivitas industri garmen Indonesia berada pada peringkat ke-9 dan industri tekstil peringkat ke-11 dunia.

Pengelolaan Limbah Industri Tekstil
Nilai pasar industri garmen dan tekstil mencapai 15,9 miliar dolar AS pada tahun 2015. Sayangnya, berkah ini tak diikuti dengan perilaku ramah lingkungan (eco-friendly), sehingga lebih dari 200 manufaktur pakaian internasional di Indonesia ditengarai justru telah mengeksploitasi sumber air setempat.

“Pengelolaan limbah yang buruk menyebabkan aliran air tercemar,” demikian kata Merdi.

Zat-zat beracun dibuang ke air dan berbahaya bila dikonsumsi oleh penduduk setempat. Limbah pewarnaan dari produksi tekstil yang langsung dibuang ke air, tanpa diproses terlebih dahulu juga dapat berdampak negatif terhadap mikroorganisme.

Merdi lebih lanjut menyatakan, penyelenggaraan EFWI 2018 akan menjadi ajang fesyen pertama yang memberikan inspirasi kepada desainer, komunitas, dan bangsa menuju ke konsep slow fashion yang sesuai dengan etika dan upaya melestarikan Bumi kita.

Selain fashion show dan workshop, EFWI juga akan menampilkan berbagai hasil kompetisi yang diikuti oleh komunitas serta penayangan festival film fashion. Berbagai lembaga pemerintahan, termasuk Kemendikbud menyatakan dukungan dengan memfasilitasi EFWI 2018 diselenggarakan di Gedung Stovia, Jakarta.

Penggunaan Gedung Bersejarah
Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Hilmar Farid menyatakan, Indonesia adalah negara yang penuh potensi budaya, dan memiliki catatan sejarah yang panjang. Menurut Hilmar, menggunakan gedung-gedung bersejarah sebagai lokasi acara-acara bertema kebudayaan seperti Eco Fashion Week Indonesia 2018 di satu sisi juga dapat dimaknai sebagai upaya menunjukkan kepedulian kepada Bumi, karena kita menggunakan gedung-gedung yang sudah berusia ratusan tahun.

“Di sisi lain tentu, para penikmat fesyen yang hadir juga dapat memperoleh referensi sejarah saat berada di gedung bersejarah tersebut,” kata Hilmar.

Project Director EFWI 2018 Rita M Darwis menyampaikan bahwa EFWI dipersembahkan untuk semua orang dan mengundang semua orang untuk terlibat di dalamnya. Ia mengundang mulai dari pengamat dan pelaku fesyen, desainer, media lokal dan internasional, pelaku bisnis, hingga pemerintah pusat dan daerah untuk menghadiri ajang yang digelarnya.

“Kami ingin menyulut dan menginspirasi siapa pun yang hadir untuk mengubah perspektif fesyen mereka. Indonesia berpeluang menjadi salah satu produser slow fashion terbesar di dunia, namun kita perlu mendesain ulang praktik-praktik yang tidak sustainable, termasuk di industri fashion,” ujar Rita.

Menuju Keseimbangan
Menurutnya, jika perubahan tersebut dapat dicapai, EFWI meyakini keseimbangan akan dapat kembali diraih secara bertahap. Ia mengharapkan kelak perilaku masyarakat tidak bertentangan dengan sumber daya alam, dan industri fesyen dapat terus berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat dan planet kita.

Ia menyampaikan, cara mensosialisasikan prinsip-prinsip fesyen yang berkelanjutan di Indonesia. Prinsip-prinsip fesyen yang berkelanjutan terkait dengan kualitas yang baik dan mampu bersaing di pasar, proses produksi yang bersih dan tidak mengganggu kelestarian alam, harga yang terjangkau bagi konsumen, kondisi yang adil bagi produsen dengan sistem yang transparan, terjaganya sumber daya alam dan kebudayaan lokal, serta menggabungkan praktik berkelanjutan ke dalam pakaian modern, daripada memproduksi ”pakaian tradisional” semata.

Menurutnya, penting untuk terus-menerus memperkenalkan dan membawa fesyen Indonesia dan kebudayaannya ke pasar dunia, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia melalui fesyen dan pariwisata. (whm/sp)