Kerangka Almarhum Halim Perdanakusuma

Kerangka Almarhum Halim Perdanakusuma

Bagaimana Eloknya Apakah Dipindah Ke Indonesia Atau Tetap Di Lumut

Sinar Harapan, 15 November 1974 – Agaknya secara hati-hati sekali pihak Indonesia mengemukakan keinginannya untuk meminta supaya kerangka alamarhum Marsekal Halim Perdanakusuma yang dimakamkan di Malaysia dipidahkan ke Indonesia.

Hal ini tercermin dari pertemuan hati ke hati antara pejabat Departemen Sosial dengan tamu Malaysia yang pernah menolong, merawat dan mengebumikan jenazah alamarhum Halim Perdanakusuma yang berlangsung di aula Depsos, Kamis siang.

Sebelumnya, Sekjen Depsos Ny. Ruslah Sardjono lebih dulu memutar film upacara “Hari Pahlawan 10 November” yang memberi kesan penghargaan orang Indonesia terhadap pahlawannya memang sangat besar.

Kemudian dengan hati-hati pejabat BPP/Depsos mengajukan pertanyaan : “Bagaimana eloknya, apakah kerangka almarhum Halim Perdanakusuma dipindahkan ke Indonesia atau dibiarkan di sana ?”, Lalu : “Bagaimana kesan saudara setelah melihat film peringatan Hari Pahlawan di Indonesia”.

Air mata
Seorang warga Malaysia bernama Haji Moh. Nuruddin dengan terisak-isak mengeluarkan air mata berkata : “Kesan saya yang mendalam, adalah ketika menghadiri renungan suci pada tengah malam di Taman Pahlawan. Begitu hening dan suci.

Saya teringat, bagaimana ketika kami menemukan jenazah almarhum Halim terdampar di pantai 27 tahun yang lalu kemudian menguburkannya”, katanya.

Dari pembicaraan tamu TNI AU yang diundang ke Indonesia ini mereka kelihatannya agak keberatan kalau makam almarhum yang dipelihara mereka dipindahkan dari desa Lumut, dimana mereka merawatnya dengan baik.

“Karena kami merasa satu pada waktu itu. Kami berpendapat bahwa pahlawan anda, adalah juga pahlawan kami”, kata Nurdin.
“Tetapi bagaimanapun soal pemindahan kerangka itu bisa dibicarakan lebih lanjut antara pihak yang berwenang.

Keputusan apapun kami terima tetapi meskipun bagaimana biarlah makam rohani berada di sana, sedang makam jasmani berada di sini”.

Dikumpulkan data
Tidak banyak yang diketahui mengenai jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Opsir Iswahyudi dan Komodor (waktu itu) Halim Perdanakusuma. Buku “Sejarah Perkembangan Angkatan Udara” oleh Mayot Drs. Trihadi yang diterbitkan Pusjarah ABRI sendiri hanya menulis mengenai Halim dan Iswahyudi gugur di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia pada tanggal 14 Desember 1947 dalam penerbangan pulang ke tanah air dari Siam. Pesawat “Avro Anson” RI-003 yang mereka terbangkan itu jatuh, mungkin oleh kabut tebal karena terbang terlalu rendah.

Moh. Nuruddin dalam pertemuan tersebut menceritakan bagaimana mayat Halim ditemukan sedang mayat Iswahyudi hilang entah kemana.
“Waktu kami berada di bawah tekanan Inggris karena Indonesia baru saja memerdekakan diri, kamipun mendapat inspirasi perjuangan darinya. Kami merasa satu dengan Indonesia dan berpendapat bahwa pahlawan Indonesia adalah pahlawan Malaysia”.

Moh. Nuruddin waktu itu bertugas sebagai seorang pimpinan sebuah partai. Rumahnya di pinggir pantai di desa Lumut, menghadap Selat Malaka. “pada suatu hari di bulan Desember 1947 kira-kira jam 07:00 pagi, mendadak datang seorang anak buah saya melaporkan bahwa di pantai ditemukan sesosok mayat. Dengan tergopoh-gopoh kami meninjau ke sana”.

Ternyata mayat seorang pilot dari Indonesia. Setelah diperiksa, Nuruddin mendapatkan bahwa rambut sang pilot crew cut dan dari dompet yang diambilnya terdapat nama bertuliskan “Komodor Halim”, mayat kemudian diambil dan dibawa ke rumah sakit.

Kebiasaan di Malaysia adalah apabila ada orang yang mati karena kecelakaan tidak boleh dikuburkan. Harus disimpan di Hospital apalagi kalau tidak ada sanak saudaranya karena penduduk Lumut merasa bahwa Halim juga adalah pahlawan mereka, lalu mereka berusaha untuk bisa memakamkan jenazah itu. Usaha yang sulit dilakukan, terutama karena Inggris tidak senang kalau penerbang itu dimakamkan oleh orang kampung.

Berhasil
Moh. Nuruddin bersama teman mencoba mengadakan kontak dengan perwakilan Indnoesia. Besok paginya orang-orang Lumut yang mengaku ahli waris dari yang meninggal, mendapat kesulitan untuk mengambil jenazah dari rumah sakit, Moh. Nuruddin sendiri dinterogasi oleh polisi selama lebih kurang 3 jam. Setelah berkutet, akhirnya polisi mengijinkan dengan syarat arak-arakan jenazah dilakukan secara biasa saja tanpa membawa bendera.

Tetapi karena desakan pemuda di sana diadakan juga arak-arakan jenazah dengan bendera merah putih yang berkibar. Ini dihadiri oleh pimpinan kampung, cerita Nuruddin. Jenazah dimakamkan di dekat sebuah masjid di Lumut. “Inilah tempat terbaik untuknya”, katanya.

Tempat pemakaman itu terletak di pinggir pantai menghadap pulau Sumatera.
Demikian kisah yang dituturkan haji Moh. Nuruddin. Bendera merah putih yang dipakai dalam penguburan jenazah almarhum disimpan terus oleh Nuruddin selama kurang lebih 27 tahun dan baru diserahkan ketika KSAU Marsekal Saleh Basarah meninjau makam Halim di Malaysia.

Terserah
Cerita tamu lainnya, Taharuddi Ahmad yang merasa “kakinya yang satu berpijak ke Indonesia dan kaki lainnya berpijak ke Malaysia”, bercerita bahwa ketika ia bertugas di Singapura sebagai perwakilan “Antara”, sering bertemu dengan Halim.

Ketika dipindahkan ke Pinang, ia meninjau makam Halim di desa Lumut dan diantarkan sendiri oleh sekretaris Sultan. Ternyata kuburan itu terpelihara dengan baik bahkan Sultan sendiri tadinya akan memperbaiki makam tersebut pada tahun 1949 akhir tetapi keburu meninggal.

Atas bantuan masyarakat Indonesia di Penang, berhasil dikumpulkan sumbangan dan makam Halim diberi batu tembok serta nisan ”beberapa tahun kemudian ketika saya meninjau kembali ke sana, makam tersebut sudah diberi marmer. Itu setelah selesainya konfrontasi” cerita Taharuddin Ahmad.

Departemen Sosial RI sendiri menurut rencana sedang mengumpulkan bahan mengenai Iswahyudi dan Halim ini. Kedua orang ini diusulkan sebagai Pahlawan Nasional “Mungkin tahun depan gelar itu diresmikan”, kata seorang pejabat.

Sementara itu, KA Dispen AU Kol. Harry Respati atas pertanyaan SH menjawab mengenai masalah rencana pemindahan kerangka Halim “Ini nanti tergantung pembicaraan antar pemerintah”, katanya “Kita tidak tergesa-gesa”.

Tamu dari Malaysia yang hadir dalam pertemuan dengan pejabat Depsos hari Kamis siang hanya 3 orang yaitu Moh. Saaid bin Muhammad, H. Moh. Nuruddin dan Taharuddin. Dua tamu lainnya orang yang pernah memandikan jenazah almarhum tidak bisa datang karena keletihan, umur mereka sudah sekitar 84 tahun-an.