Kasus Pornografi dan Kejahatan Siber Terhadap Anak Meningkat

Kasus Pornografi dan Kejahatan Siber Terhadap Anak Meningkat

SHNet, JAKARTA – Ketua KPAI, Susanto menyebutkan bahwa tren kasus pornografi dan kejahatan siber yang melibatkan anak di bawah umur semakin meningkat. Peningkatan itu terjadi akibat dari perkembangan teknologi yang semakin massif dan minimnya pengawasan orang tua terhadap anaknya.

Menurut Susanto lagi, anak korban pornografi dan siber itu semakin hari makin naik. Kalau tiga tahun sebelumnya, kasus-kasus di dunia pendidikan, terutama anak sebagai korban menduduki posisi nomor 3, tapi saat ini suda bergeser, Kasus pendidikan jadi rangking 4, kasus di dunia pornografi dan cyber menjadi ranking ketiga.

” Ranking Pertama tentu masih didominasi oleh anak berhadapan dengan hukum, baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku, urutan kedua keluarga dan pengasuhan alternatif, dan urutan Ketiga pornografi dan cyber crime,” kata Susanto di Bareskrim Mabes Polri, Jalan Taman Jati Baru, Jakarta Pusat, Jumat (9/11/2018).

Dia mengakui salah satu penyebab tingginya kasus pornografi dan kejahatan siber terhadap anak yaitu karena adanya kontribusi dari penyedia layanan media sosial.

Susanto mengatakan pihaknya telah memanggil seluruh pemain layanan over the top (OTT) seperti Whatsapp, Facebook, Twitter dan lainnya untuk diberikan teguran sekaligus mendorong agar seluruh pemain OTT itu patuh dengan regulasi di Indonesia.

“Kita ini mau bangun kesepahaman dengan mereka. Jadi kami ingin mereka itu patuh dengan regulasi di UU ITE, UU Pornografi dan Perlindungan Anak. Para pemain layanan ini harus ikuti aturan yang berlaku di Indonesia,” katanya.

Dia juga mengimbau agar pihak keluarga dan sekolah berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap anak di bawah umur dalam menggunakan ponsel pintar, agar perkara tersebut tidak menyebar luas dan menambah jumlah korban anak di bawah umur.

“Ini yang sebenarnya kita endorse, bapak-bapak tidak hanya ibu untuk terlibat secara aktif sampai dimana kemudian anak-anak berselancar di dunia maya. Prinsipnya itu selain membangun karakter dan melakukan hal yang tidak negatif,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kasus ini harus jadi perhatian semua pihak termasuk masyarakat secara umum.

“Kami juga berharap masyarakat turut berperan aktif dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak,” pungkasnya. (maya han)