HP Anda Bisa Deteksi Tingkat Kemanisan Buah di Atas Pohon

HP Anda Bisa Deteksi Tingkat Kemanisan Buah di Atas Pohon

Ist

SHNet, BOGOR – Pertanian 4.0 merupakan konsekuensi dari adanya Revolusi Industri 4.0 yang dicirikan dengan berkembangnya teknologi baru seperti drone, robotik, kecerdasan buatan, dan internet of things (IoT).

Berkembangnya Revolusi Industri 4.0 juga telah melahirkan corak masyarakat baru yang bisa disebut sebagai masyarakat pintar (smart society), yang berbeda dari masyarakat sebelumnya, yaitu masyarakat agraris, industri, dan informasi. Karena itu, pertanian pun dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan masyarakat baru itu.

Hal itu dikemukakan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, dalam Konferensi Global Ecology, Agriculture and Rural Uplift Program (GEAR UP) ke-5 yang diselenggarakan atas kerjasama antara National Chung Hsin University Taiwan dengan Texas A&M University Amerika Serikat, 12-13 November 2018 di Taichung, Taiwan.

Pada konferensi yang dihadiri para ilmuwan Asia dan Amerika dari berbagai disiplin ilmu tersebut, Arif menjelaskan bahwa aplikasi teknologi baru tersebut sudah merupakan keniscayaan. Hal yang dibutuhkan sekarang adalah perlunya peta jalan riset pertanian 4.0 sebagai acuan riset perguruan tinggi agar menghasilkan inovasi konkrit.

Para dosen IPB, jelasnya, telah memulai riset pertanian 4.0 dan menghasilkan sejumlah inovasi yang menarik. Misalnya, pengenalan hama terpadu dengan kecerdasan buatan, sistem pintar deteksi kebakaran hutan, monitoring padang lamun dengan teknologi sensor dan IoT, deteksi tingkat kemanisan buah dengan telepon pintar.

Riset-riset semacam itu akan terus didorong di IPB dan memerlukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di dunia. Karena itu, Arif memanfaatkan acara tersebut untuk membangun jejaring kerjasama dengan perguruan tinggi asing.

Arif Satria dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Rinekso Soekmadi, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Bambang Purwantara, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, serta Anita Esfandiari, pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Mereka semua ikut menyampaikan makalah sesuai dengan keahlian masing-masing dalam forum tersebut.

Arif di kesempatan yang sama juga menekankan pentingnya pemberdayaan petani dalam rangka menyiapkan petani agar mampu beradaptasi dengan era baru ini.

“IPB juga telah mengembangkan program pemberdayaan untuk meningkatkan digital literacy para petani di 8 provinsi dan 17 kabupaten di Indonesia,” kata Arif. IPB memang tengah mempersiapkan Tani Center sebagai pintu masuk petani ke IPB. IPB ingin membuka seluas-luasnya akses petani terhadap inovasi yang ada.

Tani Center akan dijadikan pusat pembelajaran sesama petani. Kisah-kisah sukses petani akan dikelola agar menjadi inspirasi buat petani lainnya maupun bagi mahasiswa. Ini adalah bentuk komitmen IPB untuk membantu petani.  (ino)