Hariman Dituntut 12 Tahun Penjara

Perkara Peristiwa 15 Januari

Hariman Dituntut 12 Tahun Penjara

Jakarta, 4 November 1974 – Hariman Siregar (24 tahun) mantan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia telah dituntut hukuman 12 tahun penjara karena keterlibatannya dalam peristiwa 15 Januari.

Dalam sidang ke-49 perkara “15 Januari” di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin pagi Jaksa Penuntut Umum P.H. Rompas SH dalam rekisitornya setebal 63 halaman menyatakan bahwa tertuduh Hariman jelas melanggar pasal 1 ayat (1) ke 1 sub a, b, c, UU no. 11/PNPS/1963 tentang kegiatan subversi.

Sidang Senin pagi itu terlambat selama tiga perempat jam dan baru bisa dimulai pukul 09:45. Kepada Majelis Jaksa Penuntut Umum minta maaf atas keterlambatan yang disebabkan oleh pihaknya itu.

Merusak
Mebacakan rekisitornya, Jaksa Penuntut Umum mengatakan bahwa peristiwa 15 Januari telah merusak sendi demokrasi Pancasila dan juga ketentuan yang ditetapkan dalam GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara), menggoyangkan stabilitas politik, mengakibatkan terganggunya keamanan. Pemerintah terpaksa mengambil langkah yang perlu agar peristiwa itu tidak menjalar ke daerah.

Peristiwa itu secara langsung telah mengakibatkan selama beberapa hari produksi dan jasa lumpuh sama sekali, harga beberapa keperluan sehari-hari melonjak, stabilitas ekonomi terganggu, terjadinya pengrusakan, pembakaran dan meninggalnya beberapa orang disamping korban luka-luka berat dan ringan dan kerugian lainnya.

Beberapa orang karyawan kehilangan mata pencariannya sehingga menimbulkan beberapa problem pengangguran, berakibat negatif pola politik, memberikan peluang bagi golongan tertentu untuk menghancurkan sendi-sendi Pancasila, merubah pimpinan dan merubah UUD 1945.

kooperatif
Penuntut Umum mengemukakan bahwa gerakan mahasiswa yang semula dinilai oleh pemerintah sebagai kooperatif, edukatif dan persuasif tetapi kemudian terpaksa mengambil tindakan tegas untuk mencegah gerakan tersebut oleh golongan tertentu diarahkan kepada tujuan tertentu pula.

Pemerintah sekaligus minta pertanggung jawaban hukum dari pada pelakunya dan Hariman Siregar dituntut dan diperiksa di pengadilan karena saudara tersebut sebagai Ketua DMUI mempunyai peranan penting dalam gerakan mahasiswa dan peristiwa 15 dan 16 Januari.

Hariman Siregar telah memanipulasi DMUI dengan berkedok menegakkan tonggak demokrasi dan selama itu hanya untuk menutupi pertanggung jawaban hukum. Tindakan tegas yang diambil pemerintah itu berdasarkan keyakinan dan tanggung jawab kepada Tuhan dan negara serta bangsa.

Tuduhan
Kemudian Jaksa membacakan tuduhan primer dan Subsider.
Primer : Melanggar (Undang-Undang No. 11/PNPS/1963) yakni tertuduh atas nama DMUI atau mahasiswa atau secara perseorangan pada bulan Oktober, November, Desember 1973 dan Januari 1974 di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan di tempat lain di wilayah hukum RI telah melakukan serangkaian perbuatan yang diketahuinya atau dapat diketahuinya menimbulkan kegelisahan, menganggu ketenangan atau yang mempunyai pengaruh luas terhadap hajat hidup rakyat dengan jalan antara lain pada tanggal 24 Oktober 1973 mencetuskan dan menandatangani Petisi 24 Oktober yang berisi antara lain :

Bahwa mahasiswa Indonesia atas nama pemuda dan pemudinya dengan penuh kesadaran telah menyatakan kecemasan dan merasa berkewajiban untuk masa depan generasi muda.
Memandang perlu merombak strategi pembangunan, segera menghilangkn ketidak pastian dan menyatakan bahwa yang paling berkepentingan akan masa depan adalah pemuda.

Bengkok
Pada kesempatan lain kata Jaksa tertuduh mengatakan bahwa pemerintah semakin lama semakin menyimpang dari tujuan semula. Pernah bertanya kepada teman-temannya mahasiswa “Setuju tidak kita gantu Soeharto dengan Soemitro ?”.

Pada kesempatan lain, tertuduh pernah mengatakan di Bandung bahwa kultur penguasa yang jelas tidak menghasilkan suatu perubahan sehingga tujuan mahasiswa adalah untuk merombak struktur pemerintahan negara bila perlu dengan mengangkat senjata.

Di dalam tuduhan primer juga digambarkan bahwa Hariman sebagai pernah mengatakan “mengapa bukan Soeharto” setelah tertuduh mendengar penjelasan DM-IAIN Sunan Kalijaga Yogya bahwa gerakan mereka adalah untuk meluruskan hal yang bengkok.

Revolusi
Di Jakarta sewaktu seorang mahasiswa bertanya untuk apa poster yang disiapkan di UI, tertuduh berkata : “Mau revolusi lebih dari pada yang pernah terjadi di Muangthai atau Athena. Caranya adalah mengadu Aspri dengan Kopkamtib agar Soeharto jatuh”.

Masih banyak ucapan lain menurut tuduhan primer itu yang merendahkan wibawa dan nama baik Presiden dan Pejabat Negara yang lain kata jaksa. Hal itu diucapkan oleh tertuduh dalam berbagai kesempatan seperti rapat BKSDM (Badan Kerja Sama Dewan Mahasiswa se-Jakarta) berkunjuung ke Bandung dan Yogya dan di tempat lain.

Setelah menguraikan secara panjang lebar keterangan saksi yang semuanya berjumlah 38 orang, maka jaksa sampai pada kesimpulan bahwa terdakwa Hariman Siregar umur 24 tahun kelahiran Padang Sidempuan itu berdasarkan hal yang telah diuraikan diatas jelas melanggar pasal 1 ayat (1) ke-1 sub a, b, c, Undang-Undang No. 11/PNPS/1963 tentang kegiatan subversi.

Maka dengan demikian kami menuntut agar Hariman Siregar umur 24 tahun dijatuhi hukuman 12 tahun penjara demikian rekisitor Jaksa Penuntut Umum PH. Rompas SH. (Sinar Harapan)