Hanura Tuding Cawares Sandiaga S Uno Alami Krisis Identitas

Hanura Tuding Cawares Sandiaga S Uno Alami Krisis Identitas

Sandiaga S Uno

SHNet, JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), menuding Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno yang berpasangan dengan Calon Presiden (Capres) nomor urut dua, Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto, mengalami krisis identitas dan disorientasi berpikir.

Tudingan Hanura sehubungan ramainya beredar video di media sosial, Sandiaga S Uno pada Senin, 22 Oktober 2018, melangkahi makam pendiri Pondok Pesantren Nahdatul Ulama (NU)  K.H. Bisri Syansuri.

“Ironisnya, tindakan tidak terpuji Sandiaga S Uno bertepatan dengan Perayaan Hari Santri Nasional, Senin, 22 Oktober 2018,” kata Petrus Selestinus, fungsionaris DPP Partai Hanura dan Wakil Ketua Pengurus Pusat Harimau Jokowi, Selasa pagi, 13 November 2018.

Petrus Selestinus, menilai, melangkahi makam KH. Bisri Syansuri, sebuah “by design” Tim Kampanye Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang dipersiapkan secara matang untuk melahirkan berita viral. Itu sebagai sebuah model kampanye hitam yang diproduksi untuk menaikan elektabilitas Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga Uno.

Secara etika dan budaya, siapapun dia, ketika hendak ziarah ke makam, apalagi ke makam tokoh besar, maka ritus dan ritual yang merupakan simbol tradisi budaya setempat harus ditempatkan sebagai hal priotitas untuk dicermati, dilalui dan dihormati, karena apabila dilanggar maka sanksi sosialnya sangat berat yaitu dikucilkan dari relasi sosial.

“Peristiwa ziarah ke makam KH. Bisri Syansuri yang menjadi agenda Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, telah menimbulkan luka yang dalam bagi Keluarga Besar NU, karena Sandiaga Uno dan Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, telah mempertontonkan sebuah perilaku tidak terpuji yang berdampak pada persoalan keteladanan seorang pemimpin,” ujar Petrus Selestinus.

Melangkahi makam KH. Bisri Suansuri, telah melahirkan protes dan kemarahan warga dan Keluarga Besar NU bahkan ada yang mengutuk perilaku demikian sebagai perbuatan tidak terpuji. Mengapa, ujar Petrus Selestinus, karena perilaku melangkahi makam pada saat ziarah tanpa merasa bersalah, adalah perbuatan yang melecehkan tokoh pendiri NU KH. Bisri Syansuri sekaligus melecehkan tradisi atau kultur warga NU yang sangat menghormati Ulama.

Menurut Petrus Selestinus, sebagai bangsa yang berbudaya dan menjunjung tinggi Etika, Sopan Santun dan Tata Krama dalam kehidupan sehari-hari, maka sikap Sandiaga Uno saat ziarah, berupa melangkahi makam KH. Bisri Syansuri tanpa merasa bersalah, merupakan perbuatan tercela. Bahkan terkutuk karena akan merusak peradaban masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari yang menempatkan ekpresi budaya tradisional sebagai bagian dari “tradisi” yang wajib dihormati.

Sandiaga Uno dan Tim Kampanye Nasionalnya sesungguhnya tidak sedang berziarah melainkan hendak merusak tradisi budaya masyarakat warga NU dan melukai harga diri dan kehormatan warga NU, karena peristiwa itu terjadi pada saat “ritus” ziarah di makam KH. Bisri Syansuri, tokoh pendiri NU.

Niat ziarah Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandiaga Uno itu tidak nampak sebagai sebuah ritus untuk memberikan penghormatan kepada KH. Bisri Syansuri dan warga NU melainkan hanya sekedar pencitraan demi tujuan dan target politik meraup suara dalam Pilpres 2019.

Ini jelas perbuatan terkutuk yang tidak patut dimaafkan, karena antara tujuan ziarah yang bersifat “ritus” berupa tabur bunga di makam dan perbuatan melangkahi makam KH. Bisri Syansuri menjadi dua hal yang tidak konek bahkan menjadi involusi.

Karena tujuannya ziarah tetapi malah dirusak oleh ritus pribadi Sandiaga Uno dan Tim Kampanye Nasional Prabowo-Sandi berupa melangkahi makam yang oleh tradisi masyarakat dimanapun di Indonesia ditabukan, tetapi kemudian dipertontonkan kepublik menjadi viral.

Sandiaga Uno, diduga sedang mengalami krisis identitas yang mengarah kepada disorientasi berpikir menuju kepada “personality disorder” jika dihubungkan dengan perilaku nyentrik yang sering muncul atau dimunculkan selama kampanye Pilpres 2019.

Sebagai pejabat publik dan calon pejabat negara, perilaku Sandiaga Uno, telah memperlihatkan sebuah gejala sebagai orang yang sedang kehilangan “etika” dalam berperilaku dan “nalar” ketika beruturkata. “Krisis identitas itu tidak baik dalam proses melahirkan calon pemimpin, karen hal itu akan melahirkan krisis moral yang berkepanjangan yang merupakan embrio dari perlaku korupsi di masa yang akan datang, yang akan mengancam negara dan warga masyarakat dalam upayanya memerangi korupsi sebagai musuh bersama, bila kelak Prabowo-Sandiaga terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden,” kata Petrus Selestinus. (Aju)