Gelora Perjuangan RI Lewat Pameran Uang

Hati Tergugah Melihat

Gelora Perjuangan RI Lewat Pameran Uang

Presiden Resmikan Dengan Memukul Gong

Jakarta, 15 November 1973 – Hati tergugah melihat kembali lewat pameran ini suka duka perjuangan Republik Indonesia pada saat permulaan kemerdekaan. Dengan kertas tulis, bahwa kertas koran serta klise terbuat dari kayu untuk membuat uang ORI (Uang Republik Indonesia) ternyata sanggup menggelorakan perjuangan dan memperoleh kepercayaan rakat sepenuhnya untuk memakainya.

Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan Ali Wardhana dalam pidato laporannya sebelum Presiden Soeharto membuka dengan resmi Pameran Uang di Gedung Pola, Kamis pagi dalam rangka Peringatan Hari Keuangan ke-27 tahun 1973.

Cetakan pertama
Bercerita Ali Wardhana, ketika perang kemerdekaan masih berlangsung, seorang pejabat RI dari Yogya berkunjung ke Sumatera dengan membawa uang ORI.

Penduduk Sumatera tidak hanya menerima dan mempercayai uang itu bukan berebutan walaupun dengan nilai tukar 1:10. Saat itu kata Menkeu, adalah suatu kebanggaan dan kebahagiaan untuk memiliki uang negara sendiri yang baru merdeka.

Hari Keuangan, sebenarnya jatuh tanggal 27 Oktober tapi karena tanggal itu sangat dekat dengan Lebaran bulan lalu, maka tertunda sampai Kamis ini. Hari Keuangan ini lahir dari 27 Oktober 1946 saat pertama kali uang ORI dicetak di pusat pemerintahan.

Uang khusus
Walaupun pusat telah mencetak ORI, kata Menkeu, daerah juga mencetak uangnya sendiri. Seperti ORITA di Tapanuli, URISU di Sumatera Utara dan ORIDAB di Banten.
Disamping melihat perkembangan sejarah lewat pameran uang ini, juga dapat dilihat bentuk uang yang hanya dipakai disesuatu perkebunan untuk “kuli kontrakan”.

Uang perkebunan ini antara lain terdapat di Kisaran, terbuat dari Nike, dicetak tahun 1888, bernilai 0,5 dollar. Juga di Poeloe Radja, Asahan Sumatera Utara, dari nikel bernilai 1 dollar dan 10 sen, di Sumber Duren Pasuruan, dari tembaga dengan nilai 50 sen. Uang unik serupa terdapat di perkebunan Cirohani, Jawa Barat terbuat dari bambu dengfan nilai 5 sen dan 12 sen.

Maksud uang perkebunan ini, kata Menkeu adalah menjaga agar kuli-kulinya tidak lari sebab tidak dapat menggunakan uangnya di pasaran bebas.
Yang menarik lainnya ialah uang terbuat dari kain, ditenun oleh putri raja Buton Sulawesi Tenggara. Uang ini bernama Bida atau Kampua.

Tercatat beredar sekitar tahun 1622 – 1870. Keunikannya tiap tahun ditarik dari peredaran. Bagi yang menirunya diancam hukuman mati dan dilarang untuk diekspor. Walaupun cukup mudah tapi umumnya masyarakat menganggapnya berkekuatan gaib, kata seorang juru penerang pameran. Contoh uang “kain” ini masih terdapat dua potong dipamerkan.

Dalam pameran masih tampak uang dari jaman Hindu Jawa, uang kerajaan Indonesia di abad 16, mata uang asing yang pernah beredar di Indonesia, mata uang VOC sampai ke seri Soekarno dan uang Irian Barat (Irian Jaya sekarang).

Presiden Soeharto membuka pameran dengan memukul gong. Tampak hadir Ketua DPA Wilopo SH, Wakil Ketua DPR Naro SH, Direktur Bank Sentral Rachmat Saleh, beberapa Menteri Kabinet dan pejabat teras Departemen Keuangan.

Panitia mengatakan disamping berguna untuk disaksikan oleh umum juga sangat berguna bagi para penggemar numismatik. (SH)