Desa Karangpatihan, Dari Desa Tuna Grahita Dan Kini Menjadi Desa Mandiri

Desa Karangpatihan, Dari Desa Tuna Grahita Dan Kini Menjadi Desa Mandiri

SHNet, Ponorogo – Sangat menyedihkan, karema sebagian besar warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur itu sebagian warga desanya memiliki ciri khas yang unik. Desa itu disebut sebagai desa ‘tuna grahita karena banyak penduduknya yang merupakan orang-orang penderita tuna grahita atau keterbelakangan mental.

Desa ini memang dikenal sebagai desa tuna grahita dan jumlah warga yang tuna grahita terbilang sangat banyak karena jumlahnya mencapai ratusan. Dimana orang yang menyandang tuna grahita ini saat ini, rata-rata berusia 40- 60 tahun dimana pada saat itu hampir semua warga desa Karangpatihan sangat terbelakang  dan tidak mengenal pentingnya gizi yang mengakibatkan sebagian warga Desa Karangpatihan mengalami keterbelakangan mental.

Namun perlahan, cap desa tuna grahita itu sudah berkurang dengan adanya perhatian dari salah satu warganya, yang memberikan bantuan dengan memberikan gizi yang baik dan seimbang. Caranya, dengan memberikan makanan pokok berupa beras dan pakaian layak pakai.

Eko Mulyadi yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Karangpatihan, adalah warga desa tuna grahita tersebut. Dirinya mengaku terpanggil dan merasa kasihan dengan warga desa Karangpatihan yang mengalami kelainan dengan keterbelakangaan mental ini. Semasa duduk di bangku sekolah menengah atas, Eko langsung banting stir membantu warganya untuk mencari bantuan, khususnya makanan agar tidak ada lagi warga desa Karangpatihan mengalami tuna grahita.

“Mungkin dari makanan yang tidak bergizi, karena pada jaman itu warga desa ini hanya makan tiwul bahkan nasi aking. Makanya, saya cari bantuan untuk mendapatkan beras sebagai makanan pokok. Semua itu dilakukan untuk kedepannya nanti, tidak ada lagi di desa saya yang mengalami tuna grahita,” ujar Eko dilansir Kumparan.

Tepat pada tahun 2010, Eko membentuk sebuah kelompok masyarakat yang bernama, Karangpatihan Bangkit. Dimana tujuannya adalah adalah untuk mencari formula agar para warga desa Karangpatihan dapat hidup mandiri walaupun menderita tuna grahita. Dan progran tersebut terlaksana, tepat saat Eko menjabat sebagai Kepala Desa.

Rumah Harapan

Program tersebut ia wujudkan dengan dibentuknya ‘rumah harapan’, dimana tempat yang digunakan untuk melatih warga tuna grahita untuk dapat hidup.lebih mandiri dan berwira usaha. Dan hasilnya, perlahan tapi pasti warga desa Karangpatihan kini bisa menghidupi diri sendiri dengan usahanya.

Dibutuhkan waktu untuk mengajarkan mereka, dan rumah harapan itu saya bangun secara swadaya bersama masyarakat untuk tempat membina dan melatih bagaimana cara berwirausaha yang dapat menghasilkan uang untuk dapat menghidupi dirinya sendiri,” paparnya lagi.

Eko merasa bersyukur bahwa hasil dari rumah harapan, bisa menghasilkan uang secara teratur salah satunya adalah dengan penghasilan harian dari hasil membiat kerajinan dari kain perca seperti batik.

Sedangkan untuk penghasilan bulanan, di berikan .modal induk ayam kampung untuk beternak. Dan triwulannya, ujar Eko lagi warga desa yang tina grahita itu diajarkan bagaimana caranya beternak lele sedangkan tahunnya beternak kambing.

“Saya bersykur sekali hasil dari rumah harapan dapat diterima di masyarakat luas, artinya produk yang mereka buat dapat diterima dan menjadi uang.Pelan-pelan dapat berumah image masyarakat dengan warga Karangpatihan ini dengan program desa atau wirausaha yang mandiri,” imbuhnya lagi. (Maya Han)