Desa Blang Krueng, Di Aceh Besar Dinobatkan Sebagai Salah Satu Desa Unggulan

Desa Blang Krueng, Di Aceh Besar Dinobatkan Sebagai Salah Satu Desa Unggulan

Jakarta –  Desa Blang Krueng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, dinobatkan sebagai salah satu desa unggulan tahun ini untuk kategori sadar pendidikan. Hingga tahun lalu, desa ini tak memiliki sekolah. Kini, sebuah TK dan SD Islam Terpadu berdiri di tengah desa hasil inisiatif dan swadaya dari warga Blang Krueng sendiri.

Awalnya anak-anak Blang Krueng mendapat kursi di sekolah yang berada di kampung lain, Kepala Desa Blang Krueng Teuku Muslem mengajak warganya bermusyawarah mencari solusi. Seluruh warga Blang Krueng menyepakati pembangunan sekolah dengan merenovasi bekas aula desa. “Semua warga menyumbang sesuai kemampuan, terkumpullah Rp 50 juta,” kata Muslem kepada sejumlah media di awal pekan ini.

Agar uang itu dapat digunakan untuk merombak aula desa menjadi dua kelas untuk SD IT Hafizul Ilmi dan bangunan di samping posyandu menjadi TK IT Hafizul Ilmi. Warga yang tak mampu menyumbang uang pun tetap berperan serta misalnya dengan membantu membuatkan kursi atau papan tulis kebutuhan sekolah. Pengelolaan kedua sekolah itu ditangani sendiri oleh desa. “Gaji aparat desa dipotong untuk membayar gaji para guru,” cerita Muslem.

Pendidikan sangat penting dan itu disadari betul oleh seluruh warga Desa Blang Krueng, baik formal maupun informal. Desa Blang Krueng dulunya ditandai sebagai kawasan merah yang artinya rawan kriminalitas. Banyak warganya mencuri dan merampok.

Pendidikan keagamaan kemudian digerakkan untuk memperbaiki kebiasaan itu. Ada 18 tempat pengajian tersebar di seluruh dusun yang wajib diikuti mulai dari anak-anak, pemuda, hingga para ibu dan bapak. “Secara perlahan masyarakat diberikan ilmu lewat pengajian dan kini desa kami telah aman, warnanya jadi biru,” ungkap Sekretaris Desa Blang Krueng Teuku Badlisyah.

Ilmu agama kini makin dikuatkan dengan pendidikan formal. Setahun dibuka, jumlah murid TK IT kini mencapai 60 orang. Adapun SD IT memiliki 67 siswa yang terbagi menjadi dua kelas I dan dua kelas II. Sekolah ini baru memiliki empat ruang kelas dan masih mengumpulkan dana untuk membangun kelas-kelas berikutnya.

Mimpi besar desa ini adalah mempunyai sekolah mulai dari jenjang TK hingga SMA. Bila perlu bahkan ada Universitas Blang Krueng. Pentingnya pendidikan, kata Muslem, tak bisa ditawar lagi. Pasalnya, dua belas tahun silam desa ini merasai rata dengan tanah akibat tsunami. Seluruh kekayaan dan materi hilang tak bersisa. “Hanya pendidikan yang terus ada dan jadi modal membangun kembali yang telah hancur,” tutur Muslem.  (Nonnie Rering)